Hati-Hati, Tanggamus 12 Besar Daerah Rawan Tsunami

0
473
views

TRANSLAMPUNG.COM, Tanggamus masuk dalam 12 besar kabupaten/kota di Indonesia yang berpotensi bencana tsunami. Titik rawan ada di Kecamatan Kotaagung, Kotaagung Timur, Cukuhbalak, Limau, Kelumbayan, dan wilayah pesisir lainnya.

Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tanggamus Maryani mengatakan, dengan potensi itu, seluruh elemen harus terus meningkatkan kesiapsiagaan terhadap bencana.

Salah satunya dengan mendukung program Pemkab Tanggamus dalam rangka sosialisasi, antisipasi, dan merekonstruksi kerusakan lingkungan, yang berpeluang menimbulkan bencana.

”Penetapan dilakukan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Ini berdasar kajian-kajian ilmiah dan letak georafis wilayah,” kata Maryani mewakili Kepala Pelaksana BPBD Tanggamus Ovi Ariansyah kemarin.

Dilanjutkan, berdasar hal tersebut, Tanggamus mendapatkan bantuan tower tsunami early warning system (TWS) setinggi 18 meter dari BMKG. Alat tersebut berfungsi sebagai pendeteksi tsunami.

Selain tsunami, terus Maryani, kabupaten berjuluk Bumi Begawi Jejama ini juga rentan dan berpotensi bencana lainnya. Antara lain gempa, longsor, banjir bandang, angin puting beliung dan ombak besar atau rob.

Untuk mengantisipasi dampak bencana yang besar, BPBD Tanggamus melalui bidang pencegahan, kedaruratan dan rekontruksi, terus berupaya mengedukasi masyarakat. Ini dilakukan melalui sosialisasi, simulasi maupun antisipasi dengan menyiapkan jalur evakuasi dan desa tangguh bencana.

Pemprov Lampung dan pemerintah pusat serta lembaga internasional juga turut berperan melaksanakan program desa siap siaga bencana. Wilayah pesisir Wayhandak, Waypring, Negeriratu dan Terbaya dibina Pemprov Lampung. Kemudian Pekon Sedayu binaan lembaga internasional.

”Untuk desa tangguh bencana yang kami bina, ada di Kotaagung, yaitu Kelurahan Pasarmadang dan Baros,” ujarnya.

BPBD Tanggamus juga menyiapkan jalur-jalur evakuasi dengan titik kumpul di taman Kota Agung dan Islamic Center. ”Kita juga memiliki tower sirene tsunami. Jika ada gejala terjadi tsunami, maka sirine berbunyi. Ada tenggang waktu sekitar 22 menit untuk masyarakat menyelamatkan diri melalui jalur evakuasi, ke titik aman,” urainya.

Lebih lanjut Maryani menambahkan, selain program yang bersifat sosialisasi, BPBD Tanggamus juga membentuk tim unit reaksi cepat (URC) bencana.

Tim ini kali pertama terjun ke lapangan saat terjadi bencana dan mengimput data dampak kerusakan. Selain URC, dibentuk tim siaga bencana lintas sektoral yang terdiri dari beberapa satuan kerja dan institusi.

Tim-tim ini terus dilibatkan dalam pelatihan-pelatihan maupun simulasi langsung bencana yang digelar BNPB. Seperti Desember tahun lalu, BNPB menggelar rekontruksi bencana, dan seluruh elemen tersebut dilibatkan. ”Intinya upaya mengantisipasi dampak korban yang besar jika bencana terjadi, utamanya tsunami,” kata dia.

Sebelumnya, dosen Teknik Geofisika Universitas Lampung DR. Muh. Sarkowi menjelaskan, letak pesisir Kotaagung yang berada di patahan Semangko menjadikannya sebagai daerah yang rawan.

“Tsunami terjadi kalau gempanya di laut dengan kekuatan 7 skala richter (SR). Gempa itu terjadi akibat pergeseran lempengan. Kalau gempa di laut kemudian tiba-tiba air surut, itu menjadi petanda bahwa gelombang tsunami akan datang,” kata Sarkowi saat memberikan penjelasan dalam acara mitigasi bencana kepada pelajar SMAN 2 Kotaagung Oktober tahun lalu.(tnn)