Harga Pokok Produksi JST Berkisar Rp1.800–Rp3.200

0
104
views
ismail komar/Trans Lampung BENGKEL BUMI: Peserta pelatihan tampak begitu antusias ikut serta membuat JST. sehingga pada akhir acara peserta betul-betul bisa menerapkan di rumah masing masing.

Cak Harry, Sarjana Sastra Arab Yang Bergelut di Bidang Pertanian .

TRANSLAMPUNG.COM, ADIJAYA- Slogan No Pupuk Kimia (Pukim) dan No Pestisida Kimia (Pekim) hanya ada di petani yang sudah mengikuti pelatihan di Bengkel Bumi. Bengkel Bumi berharap petani mandiri dari semua aspek. Sehingga mampu menopang Negara nantinya dalam hal pangan. Kemandirian itu dimulai dengan HPP yang luar biasa terjangkau. Bagaimana bisa?

Ismail Komar-Lampung

Tentu akan sulit dinalar bagaimana membuat JST yang menjadi “Joker” pada semua tanaman itu mampu membantu persoalan yang selalu membelit petani selama ini. Yakni penggunaan pupuk kimia dan pestisida kimia. Kenapa mengganggu? Karena harganya yang mahal. Ini berakibat pada biaya produksi tanaman menjadi tinggi. Tentu akan mengurangi margin. Karena harga jual tidak kompetitif lagi.

Cak Harry menjelaskan sebenarnya petani kita sangat mampu menyelesaikan persoalan tersebut setelah menggunakan JST. Seperti yang diungkapkan Toni petani asal Pesawaran. Dirinya mengaku dulu bukanlah petani. Sebagai anak kota yang terbiasa dengan segala pernak perniknya, dunia pertanian bukanlah usaha yang seksi untuk disentuh.

Karena “terpaksa” dunia ini ditekuninya. Mengusung slogan organik toni menanam padi dan tanaman lainnya berbasis organik. ”Sebelum kenal Cak Harry dan JSTnya memang agak susah bertani organic. Rasanya itu sulit banget dan waktu yang dibutuhkan lama. Karena gak tahu ilmunya. Tapi setelah menggunakan JST dan bergaul lama dengan Bengkel Bumi saya mendapatkan hasil luar biasa, namun tetap merawat lahan itu jadi lebih baik. Itu menarik lagi tidaklah mahal,” terang pria yang mengaku mulai bertani sejak tahun 2014 ini.

Dengan lahan yang hanya seperempat hektar dia bisa memanen padi organic mencapai 2,2 ton. Itu tanpa pukim dan pekim murni menggunakan JST. Bayangkan JST yang digunakan tidak sampai 50 liter. Bisa dihitung berapa biaya yang dikeluarkan Toni jika dibulatkan angkat 1 liter 2000 saja, hanya perlu Rp200 ribu saja, sungguh sangat membantu petani. ”Karena itu saya terus kembangkan ilmu membuat JST ini kepada teman teman mas. Karena Cak Harry tidak hanya menganjurkan menggunakan JST tapi juga mengajarkan bagaimana cara membuatnya. Jadi petani benar-benar mandiri,” terang Toni bersemangat.

Soal merawat bumi itu, memang komitmen yang diperjuangkan oleh Bengkel Bumi. ”Sebenarnya kalau kita memanen hasil bumi tapi juga merawat buminya maka hasilnya juga akan maksinal. Yang jadi persoalan kita ini mau panennya aja tapi gak mau merawat tanah tempat tanaman tumbuh. Bahkan parahnya lagi banyak yang gak mau mengikuti prosedur pelatihan maunya tahu hasil aja, heheee,” terang pria yang kerap menggunakan kaos ini ramah.

Sebenarnya di bengkel bumi itu ilmunya banyak. Karena itu saya selalu menyarankan kepada teman teman untuk selalu memajukan bengkel bumi karena setiap waktu ada penemuan baru selalu saya berikan ke bengkel bumi yang sudah tersebar mulai dari Nias sampe Kalimantan. Ibarat kata disanalah sanggar belajar tukar pengalaman dan sebagainya. Berbuatlah dan belajar tidak hanya menanam tapi lebih dari itu pengolahan pasca menanam juga menjadi bagian penting dipelajari serta pasca panennya,” jelas pria berdomisili jogkarta ini. (nys)