. . .

Harga Barang Elektronik Mulai Naik

image_print

TRANSLAMPUNG.COM, SUBANG – Dampak kenaikan harga dolar yang menyentuh Rp15.000 mulai terasa oleh pengusaha di daerah. Pelaku industri mengeluhkan terganggunya pasokan bahan baku impor sedangkan harga elektronik di pasaran pun mulai naik. Di antara pelaku usaha yang terdampak yaitu pengusaha bidang percetakan dan industri tekstil yang menggunakan bahan kimia impor.

Marketing PT Perkaline Indah Cipendeuy Dedi Dediyana mengatakan, perusahannya yang bergerak di bidang pembuatan karet untuk elektroinik terdampak kenaikan harga dolar. Pihaknya kesulitan mendapatkan bahan baku karet yang biasanya dikirim dari Jerman untuk merakit. “Bahan baku kita kan diimpor dari Jerman. Dengan adanya kenaikan dolar ini barang yang biasanya dikirim sampai saat ini belum dikirim juga,” Rabu (5/9).

Akibatnya, pasokan di tahan dulu sementara waktu sampai harga rupiah normal lagi. Sebab pihaknya tidak mau mengambil resiko. “Biasanya 1 ton karet untuk ban printer tersebut cukup untuk tiga bulan, kalau pemasok kita gak memasok dan menunggu rupiah normal kembali ya gimana dengan keberlangsungan kita, karena barang tidak ada,” keluh Dedi.

Ketua Apindo Subang Oo Irtotolisi mengatakan, kenaikan dolar pasti berdampak kepada pabrik yang bergerak dengan memakai barang impor seperti pabrik tekstil yang menggunakan bahan kimia dari luar negeri.

“Sudah ada keluhan akibat kenaikan dolar walaupun tidak berdampak sampai terjadi kebangkrutan. Kami hanya berharap harga dolar segera turun dan rupiah kembali menguat,” pungkasnya.

Menyikapi kenaikan harga dolar, Dinas Koperasi UMKM Perdagangan dan Pasar (DKUPP) langsung melakukan inspeksi ke pasar. Dampaknya mulai terasa, harga barang elektronik sudah mulai naik antara Rp100.000-250.000.

Pedagang elktronik di toko Sim Pasar Pujasera, Yusuf (38) mengatakan, sejak dolar terus naik pihaknya menaikan harga barang leketronik sebesar 5 persen. Kenaikan harga dipicu biaya transportasi pengiriman. “Sejumlah barang elektronik ada yang diimpor untuk merek – merek tertentu. Maka dari itu kita naikan harga sebesar 5 persen dari harga normalnya,” ujarnya.

Akibat kenaikan dolar, barang elektroinik seperti AC kini menjadi Rp3.150.000 dari awalnya hanya Rp3.000,000, televisi dari harga Rp2.100.000 menjadi Rp2.205.000. “Banyak pelanggan yang mengeluh dengan kenaikan harga ini, tapi ya mau gimana lagi,” tandasnya.

Sementara pedagang sembako di pasar terminal Subang Engkus Kasidi (42) mengungkapkan, kenaikan dolar hingga kini tidak memicu kenaikan harga sembako lokal. Sedangkan sejumlah komoditi sembako impor seperti kentang, harganya naik.

Kabid Perdagangan DKUPP H Nurudin mengatakan, kenaikan dolar sudah memicu kenaikan harga barang elektronik di Subang. Ia meyakini, kondisi ini menganggau perdagangan ekspor impor. “Terutama barang atau produk impor. Harganya pastik naik,” ujarnya.

Meski demikian, pihaknya mengimbau agar pedagang di Subang tidak menaikan harga terlalu tinggi. “Juga jangan melakukan penimbunan barang. Nantinya akan merusak rantai perdagangan yang ada,” pungkasnya.(ygo/man/FIN/tnn)

error: Content is protected !!