. . .

Harapan Baru Bagi Seni Pin Stripe di Lampung

image_print

TRANSLAMPUNG.COM, METRO – Seni Pinstripe menggambar kendaraan dengan kuas yang sudah hilang puluhan tahun lalu kini bangkit lagi. Di tangan David yang membuka work and shop di Jalan Pangeran Antasari No. 9 Bandar Lampung, seni Pinstripe mulai diminati masyarakat.

Berbagai karya visual seni Pin Stripe ditelurkan David melalui berbagai media. Mulai dari asesoris, pakaian, hingga kendaraan, mulai dari Helm, Motor, hingga Mobil. Berbagai karyanya bahkan sudah sering dilelang diberbagai event di Kota Metro.

“Kemarin bikin pin stripe di helm sampai di lelang kemarin. Kalau sejarahnya saya di seni Pin Stripe ini kalau dari 2003 mulai street art grafitty tahun 2010 media alternatif, canvas gak kebeli gua ke ranah lain,” tandasnya, Kamis (9/8/2018).

David sudah bermain pinstripe di motor sejak tahun 2016 dan juga sudah mulai mobil. “Lampung gua bilang onestep kalah ketinggalan walau jaraknya deket (dengan Jakarta, Red), gua cuma fokus ngedalemin, gua berharap skena ini berkembang, soon bakal lebih asaplah soon as posible, peminat pinstripe bertambah,” cetusnya.

David mengatakan, teknik pin stripe termasuk custome culture adalah alternatif ngecat sejak tahun 90an. “Dulu ini teknik cat tertua sebelum ada airbrush motor mobil dan untuk mengakali body kotak dengan bulet jadi pakai kuas dulu,” katanya.

Menurutnya untuk kualitas tak kalah dibanding airbrush. “Melihat teknik ribet Pinstripe, masalah awet dan warna yang jelas lebih oke Pinstripe. Kalau airbrush bisa ngemal, kalau Pinstripe gak bisa ngemal, jadi satu garis sekali jadi,” tandasnya.

David seminggu yang lalu bahkan mengerjakan helm dan berhasil dilelang dengan harga ratusan ribu rupiah.

David yang baru saja mengenalkan seni ini mengatakan, ingin terus mengenalkan karya seni ini. “Alhamdullilah untuk yang order bukan orang Lampung. Palembang sudah melirik, Jakarta, Bandung, tapi saya tetap optimis, semua masyarakat Lampung akan mengenal,” tandasnya. (suf/hkw)