Guru BK Bukan Polisi Sekolah, Melainkan Sahabat Siswa

0
50
views

TRANSLAMPUNG.COM, BANDAR LAMPUNG – Guru Bimbingan Konseling atau yang juga sering disebut dengan istilah BK merupakan salah satu bagian penting dari sebuah sekolah. Setiap sekolah paling tidak diwajibkan memilki seorang guru BK untuk dapat menangani berbagai macam kasus yang terjadi di lingkungan sekolah, terutama dari para murid dan juga siswa siswi yang bersekolah disana.

Guru BK dianggap sebagai polisi sekolah, hakim atau guru yang senang mencari-cari kesalahan siswa.Sehingga siswa takut kepada guru BK dan bahkan siswa menghindari guru BK.Siswa menganggap bahwa siapapun yang dipanggil oleh guru Bk adalah siswa yang bersalah atau siswa yang nakal. Fenomena seperti ini sangat mengganggu dan bahkan merupakan hambatan yang sangat besar dalam penyelesaian masalah kesiswaan/bimbingan siswa. Karena berhasil tidaknya proses bimbingan dan konseling itu sangat tergantung kepada terjalinnya hubungan yang baik antara guru dan siswa.

Tapi tidak untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 8 Bandarlampung yang dikepalai oleh Hj. Ratna Sari, S.Pd, M.M., ini. SMP N 8 selalu memberikan sosialisasi serta pendekatan kepada para siswa untuk memberikan pemahaman bahwa guru BK adalah sahabat bagi mereka yang selalu siap dan selalu ada untuk mereka dalam menyelesaikan masalah yang sedang mereka hadapi.

Wakil Kepala SMP N 8 Bidang Sarana dan Prasarana sekaligus menjabat sebagai Kordinator BK Dra. Hj. Sri Susilawati, S.Pd., mengungkapkan, dalam mengubah pola pikir siswa yang beranggapan bahwa guru BK merupakan guru yang senang mencari-cari kesalahan siswa. Dirinya bersama guru BK lainnya mencoba mencari solusi dengan pendekatan dan mengubah pola pikir siswa siswa tersebut.

”Kami selalu melakukan pendekatan kepada siswa dan memberikan pengertian bahwa “Guru BK adalah sahabat siswa” yang siap kapan saja dan dimana saja. Kami berusaha untuk menampilkan pribadi yang terbuka kepada siswa, menyapa siswa lebih dulu dan tetap tersenyum ramah kepada setiap warga sekolah. Dengan sikap seperti itu siswa melihat dan dapat merasakan bahwa kami menerima dan terbuka kepada siapa saja. Kami siap menerima permasalahan siswa apa adanya dan menjadi teman berbagi bagi siswa, “ujarnya, Kamis (9/11).

Lanjut Sri, suatu ketika ada siswa yang bolos dari sekolah, perlahan saya dekati siswa ini. Saya tidak langsung memanggil siswa ini masuk ke ruang BK, karena mereka masih beranggapan bahwa ruang BK adalah tempat siswa yang bersalah. Saya coba menghampiri siswa ketika jam istirahat dan bercerita lepas tentang apa saja. Setelah anak merasa nyaman, barulah saya menanyakan kenapa dirinya bolos pada waktu itu. Pendekatan seperti ini sangat ampuh karena siswa merasa diterima, tidak langsung divonis sebagai siswa yang bersalah.

”Saya selalu berusaha untuk tampil apa adanya, tidak “jaim/jaga image” sehingga siswa dapat merasakan ketulusan gurunya. Ketika ada siswa yang bermasalah dengan guru mata pelajaran, sebagai guru BK saya berusaha untuk memediasi siswa tersebut. Saya berusaha untuk mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya dari kedua belah pihak, tidak dengan serta merta langsung menganggap siswa sebagai ‘terdakwa’, karena kadang siswa bermasalah dengan guru karena adanya mis-komunikasi antara guru dan siswa, dan hal itu merupakan hal yang wajar, “kata wanita yang sudah 30 tahun menjadi guru di SMP N 8 Bandarlampung.

Menurut Sri, dengan metode “Guru BK adalah Sahabat Siswa” membuat para siswa menjadi akrab dengan guru BK. Mereka tidak lagi menganggap guru BK sebagai guru yang ditakuti atau dihindari. Jika ada masalah, mereka dengan senang hati mengonsultasikan kepada guru BK. Siswa tidak lagi dibatasi oleh sekat ruangan BK karena mereka dapat bertemu guru BK dimana saja dan kapan saja.

”Karena kami sudah memakai prinsip bahwa guru BK itu adalah sahabat siswa, maka kami selalu berusaha untuk melakukan pendekatan kepada siswa serta memberikan perhatian lebih tinggi lagi kepada mereka. Sehingga ketika mereka melakukan kesalahan mereka mengakuianya bukan karena paksaan melainkan karena betul-betul kesadaran, ”terangnya.

Disinggung mengenai tugas dari guru BK, wanita yang memiliki pengalaman mengajar dari tingkat TK, SD, SPG dan SMP ini menjelaskan bahwa tugas pokok guru BK bukan hanya menangani siswa yang nakal dan yang memiliki kasus saja.

”Bukan hanya siswa yang nakal saja yang perlu kita tangani dan kita cari solusinya, melakukan konseling kepada anak-anak yang memilki masalah dengan prestasi belajar juga penting. Karena tidak semua murid mampu mengikuti kegiatan belajar dan juga mengajar di sekolah dengan baik dan lancer. Selain itu kita juga harus siap membantu murid dalam memecahkan permasalahan sekolah yang sedang dihadapi, lalu menjadi mediator antara pihak sekolah dengan orangtua atau wali, terutama ketika murid mengalami masalah di sekolahnya, “ucapnya.

Tak hanya itu, menurut Sri, yang tidak kalah pentingnya juga guru BK harus bisa memberikan motivasi belajar kepada murid-murid agar mampu bersaing di dunia pendidikan, memberikan materi-materi megnenai pengembangan diri dan juga pelajaan budi pekerti.

”Selain itu, guru BK juga harus bisa membantu guru-guru lainnya dalam memberikan metode belajar, terutama pada murid-murid yang membutuhkan perhatian khusus, memberikan tindakan indisipliner bagi murid-murid yang mengacau dan mengabaikan peraturan sekolah, “tutupnya. (dsk)