Gerhana Bulan Parsial 18 Tahun Sekali? Ini Bentuknya Dilihat dari Kotaagung

0
625
views
PENAMPAKAN DARI KOTAAGUNG: Seperti inilah penampakan Bulan yang sedang mengalami gerhana parsial (sebagian) yang terlihat dari langit Pekon Terbaya, Kecamatan Kotaagung, Tanggamus. Semua foto gerhana Bulan parsial yang ada dalam situs berita ini adalah hasil bidikan Yogy.
PENAMPAKAN DARI KOTAAGUNG: Seperti inilah penampakan Bulan yang sedang mengalami gerhana parsial (sebagian) yang terlihat dari langit Pekon Terbaya, Kecamatan Kotaagung, Tanggamus. Semua foto gerhana Bulan parsial yang ada dalam situs berita ini adalah hasil bidikan Yogy.

translampung.com, KOTAAGUNG – Pekon (Desa) Terbaya, Kecamatan Kotaagung, Kabupaten Tanggamus menjadi salah satu daerah di Lampung yang beruntung. Pasalnya pada dini hari tadi (8/8), fenomena gerhana Bulan parsial bisa terlihat cukup jelas dengan mata telanjang dibantu lensa kamera. Sekitar 25 persen bagian Bulan terlihat gelap pada gerhana yang dikatakan terjadi 18 tahun sekali itu.

Tak banyak warga di pekon setempat yang berhasil mengabadikan momen indah tanda kebesaran Ilahi itu. Namun berbeda dengan Yogy. Pria yang memang sudah cukup lama menggemari fotografi itu, sudah sejak pukul 00.00 WIB bersiap menyaksikan langsung sekaligus mengabadikan fenomena alam tersebut.

“Alat yang saya pakai terbilang sederhana. Mana mungkin bisa pakai teropong bintang atau semacamnya. Cuma pakai kamera DSLR. Tapi sengaja pakai lensa tele, supaya bisa kelihatan gerhana Bulan parsial-nya. Paling ditambah tripod kalau diperlukan,” ujarnya pada translampung.com.

Awalnya Yogy pesimis bisa menyaksikan gerhana Bulan parsial itu. Cukup beralasan, karena sejak pukul 19.30 WIB, wilayah Kotaagung dan sekitarnya diguyur hujan lebat. Durasi hujan lumayan lama. Namun tak disangka, sekitar pukul 23.00 WIB, hujan mulai reda.

“Agak lega, tapi belum sepenuhnya. Karena masih banyak mendung di langit. Tapi semoga (mendung) bergeser saat mendekati tengah malam,” harap Yogy.

Bak dihampiri Dewi Fortuna, keberuntungan berpihak pada dia. Detik-detik menjelang pergantian tanggal, perlahan mendung mulai hilang. Dan bulan mulai tampak jelas pada posisi arah jarum jam 12 dari lokasi Pekon Terbaya.

Tanpa menunggu lama, Yogy langsung beraksi menggunakan peralatan ‘tempurnya’. Berpacu dengan waktu, dia berusaha mengotak-atik DSLR Canon D7 miliknya yang sengaja dipasangi dengan lensa tele 70-300 mm. Di awal, beberapa hasil capture-nya tampak kurang memuaskan. Pantang menyerah, Yogy terus mencari setting-an yang tepat untuk mendapatkan jepretan maksimal dari kameranya.

Singkat cerita, setelah menemukan pengaturan yang dirasa pas, hasil jepretannya cukup memuaskan. Memang tetap tak sebagus hasil jepretan dari kamera dan lensa yang spesifikasinya di atas miliknya.

“Jarang-jarang bisa lihat langsung fenomena alam yang mengesankan begini. Pokoknya rugi deh kalau malam ini tidur sore. Kalau mau lihat semua foto-foto (gerhana) Bulannya, buka saja Facebook saya. Nama akunnya Albertus Yogy,” seloroh pemuda bertubuh tambun itu.

Dilansir dari Liputan6.com, Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) menyatakan gerhana bulan parsial (sebagian) atau yang dalam ilmu pengetahuan disebut penumbra, diprediksi terlihat jelas di langit Indonesia, mulai Senin pukul 22.50 WIB.

Siklusnya, kata otoritas antariksa itu, adalah pada pukul 00.23 WIB masuk 8 Agustus 2017 gerhana bulan sebagian dimulai, disusul puncak gerhana pukul 01.22 WIB dan selesai 02.18 WIB. Gerhana penumbra itu diperkirakan selesai pada pukul 03.51 WIB.

Menurut astronom LAPAN, Rhorom Priyatikanto, gerhana kali ini adalah gerhana dengan nomor seri Saros 119.

“Orang sudah lama melihat gerhana dan memperhatikannya, ternyata terdapat sejumlah gerhana yang hampir sama. Misalnya dilihat dari durasi dan besarnya gerhana. Gerhana yang mirip ini disebut seri Saros yang berulang kira-kira 18 tahun sekali,” kata Rhorom Priyatikanto melalui keterangan tertulis, Senin (7/8).

Ukuran bayangan umbra bumi pada malam ini, kata dia, sekira 2,6 kali ukuran piringan bulan. Perbandingannya, astronom Yunani yaitu Aristarchus dapat memperkirakan jarak bulan dan matahari dari bumi sekitar 2.300 tahun yang lalu.

Rhorom menjelaskan penumbra adalah matahari sebagai sumber cahaya yang berbulat dan tidak titik. Saat benda menutupi cahaya matahari akan terbentuk bayangan dengan tepian yang agak kabur. Bayangan kabur itulah yang disebut penumbra, sedangkan daerah di tengah disebut umbra.

LAPAN menyebutkan pada saat puncak gerhana bulan nanti, 25 persen piringan bulan akan tertutup bayangan Bumi. (hkw/net/ayp)