Gas Melon Langka

0
50
views

Pertamina Berdalih Permintaan Meningkat saat Libur Panjang

TRANSLAMPUNG.COM, JAKARTA – Gas elpiji 3 kilogram (Kg) bersubsidi di berbagai daerah mengalami kelangkaan. Bahkan di Jakarta, kelangkaan gas elpiji terjadi selama satu bulan.

Unit Manager Communication & Relations Pertamina Jawa Bagian Barat, Dian Hapsari Firasati, mengatakan persediaan gas elpiji yang menipis ini disebabkan tingginya permintaan saat libur panjang beberapa waktu lalu.

Menurutnya, banyak masyarakat yang memasak lebih banyak saat perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.

“Permintaan saat libur panjang kemarin memang mengalami peningkatan. Sepertinya karena libur panjang, banyak keluarga yang memasak lebih banyak dari biasanya atau karena ada kegiatan peringatan keagamaan,” ujar Dian di Jakarta, Selasa (5/12).

Untuk itu, Pertamina bakal melakukan operasi pasar elpiji 3 Kg. Hal ini sebagai upaya menjaga pasokan gas tersebut. Operasi pasar akan dilakukan dalam waktu dua hari ke depan.

“Kami berharap masyarakat tidak mampu yang memang target pengguna LPG 3 kg dapat memanfaatkan operasi pasar ini dengan baik,” kata Dian.

Pertamina mengimbau agar masyarakat tetap tenang dan tidak melakukan pembelian elpiji 3 kg secara berlebihan.

Apabila, masyarakat masih menemukan adanya kesulitan dalam menemukan elpiji 3 kg atau adanya harga yang tidak wajar, maka bisa menghubungi Contact Pertamina di nomor 1500000.

Sebelumnya, hampir satu bulan, warga Jakarta sulit mendapatkan gas melon ukuran 3 kilogram. Alhasil, akibat langkanya gas melon itu, warga menjadi sulit beraktifitas.

Winda (42) salah seorang warga RT 03/01 Kalideres, Jakarta Barat mengeluhkan langkanya penjualan gas 3 kilogram. Sehingga, dia bingung memasak untuk memberikan makan keluarganya.

“Sudah cari kesana kemari tapi kosong. Kita bingung mau masak kagak bisa. Sudah mau jalan sebulan,” tutur Winda.

Untuk Rakyat Miskin

PT Pertamina (Persero) enggan disalahkan ihwal terjadinya kelangkaan gas elpiji 3 kilogram (Kg) di sejumlah daerah. Sebab, perseroan telah melaksanakan apa yang telah diamanatkan oleh pemerintah.

External Communication Manager PT Pertamina (Persero)‎ Arya Dwi Paramita‎ mengatakan, kelangkaan gas melon yang terjadi di beberapa daerah disebabkan karena adanya over demand dari masyarakat.

Padahal, seharusnya kebutuhan akan gas melon tidak melebihi kuota yang telah disiapkan oleh perseroan. Hal itu lantaran masyarakat mampu justru lebih banyak yang menggunakan gas elpiji 3 kg.

“Kalau dari kita prinsipnya sesuai ketentuan pemerintah. Kan LPG 3 kg untuk masyarakat miskin, sementara banyak yang tidak miskin menggunakan 3 kg,” ujarnya saat dihubungi.

“Pemerintah kan ada keterbatasan otomatis yang tidak berhak menggunakan maka akan terjadi over pemakaiannya,” tambahnya.

Untuk itu, dirinya meminta agar masyarakat yang tak berhak agar tidak membeli gas elpiji 3 Kg. Sebab, pihaknya telah menyiapkan opsi pengganti gas melon dengan produk Bright Gas yang memiliki volume 5,5 Kg dengan harga yang tidak terlalu mahal.

“Kalau yang tidak berhak disarankan tidak menggunakan yang 3 Kg. Nah makanya kita siapkan bright gas yang non subsidi. Kalau yang 12 Kg kebutuhan tidak sebesar itu, maka kita siapkan yang 5,5 Kg,” jelas dia.

Bahkan, sejumlah Pemerintah Daerah (Pemda) telah memberlakukan kebijakan kepada birokratnya agar tidak membeli gas melon. Sebab, sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), sudah sepantasnya mereka menggunakan tabung gas yang sesuai kemampuan mereka.

“Pemda sudah menghimbau pegawai PNS untuk tidak menggunakan yang 3 kg. LPG 3 Kg untuk rakyat miskin, kalo enggak jangan,” pungkasnya. (jpg/rus)