Garam Langka, Harga Melejit

0
545
views
SULIT DICARI : Salah satu pedagang di Pasar Rejotangan Kecamatan Rejotangan (Meidian Dona Doni/jpg)

TRANSLAMPUNG.COM, TULUNGAGUNG- Keberadaan garam halus maupun kasar yang  beryodium menjadi pembicaraan hangat. Pasalnya garam sulit dicari  hingga merambah kawasan pinggiran Kota Marmer, termasuk di Pasar Rejotangan. Di pasar tersebut hanya satu kios saja yang menjual garam. Tak pelak pasokan yang minim menyebabkan harga garam barang  melejit.

Bahkan kenaikan harga garam hingga tiga kali lipat.“ Harga garam naik, semula yang harganya Rp 1000 per kantung garam seperempatan kini menjadi Rp 2000,” ungkap Mariam pemilik kios Sumber Agung di Pasar Rejotangan kemarin (16/7).

Menurut dia, melambungnya harga disebabkan lamanya sales garam yang kirim garam ke tokonya. Wajar jika   membuat persediaan garam di toko-toko yang ada di pasar tersebut menjadi menipis. Maka harga garam perlu dinaikkan karena pemintaan garam yang tinggi tetapi persediaan sedikit seperti hukum pasar.

“Sebelum Lebaran sales garam datang, lalu dia bilang kalau satu minggu setelah Lebaran datang lagi. Namun sampai hari ini gak datang hingga sekarang,” ungkapnya.

Saat garam langka dalam, dia hanya bisa menjual sekitar 3 kilogram garam atau 12 kantung garam ukuran seperempat kilo. Terkadang hingga 6 kilogram garam ketika pedagang penjual makanan misalkan penjual bakso belanja ketokonya.

“Kasihan para konsumen harus membeli garam mahal dan sulit dicari. Padahal dulu saya bisa menjual puluhan kantong garam,”ujarnya.

Nah kondisi serupa dirasakan Miftaqul Huda, salah seorang pedagang kebutuhan dapur di Pasar Ngemplak. Dia menjelaskan, harga garam di pasaran melambung naik hingga 100 persen. Itu berlaku pada garam halus maupun kasar beryodium. ” Biasanya, garam kheton ini satu bungkus Rp 7.500 ribu, kini jadi Rp 21 ribu,” katanya.

Untuk mengisi stok garam di lapaknya, Huda terkadang mengambil dari toko lain yang ada di desa meskipun juga harus membeli dengan harga yang mahal. Karena, lapak grosir garam selama Ramadan lalu sudah tutup karena tidak memiliki stok garam. ” Saya tidak tahu pasti kenapa, tapi mungkin ada permainan dari oknum yang ingin mengambil keuntungan dari kondisi ini,” katanya.

Juga termasuk pedagang lainnya di Pasar Wage bernama Lilik. Dia mengaku distributor garam beberapa minggu ini sudah menutup lapaknya termasuk milik adiknya sendiri, yakni Nur Muhayan.

Tidak adanya stok menjadi faktor utamanya. Padahal, usaha milik adiknya itu sebelumnya terus lancar. ” Ya salah satu distributor garam di sini milik adik saya ini. Tapi karena tidak ada stok, ya mau tidak mau harus tutup,” terangnya.

” Semoga semua normal. Karena kalau langka seperti ini sulit dirasakan bagi kami pedagang dan juga konsumen,” imbuhnya.

Karmini salah seorang pembeli garam mengaku, menghampiri beberapa kios di pasar Rejotangan. Namun hanya ada satu kios yang menjual garam yakni di toko Sumber Agung itu.

“ Kalau masalah harga sih saya tidak masalah. Tapi carinya itu lho, masak dalam satu pasar hanya ada satu toko yang jual,” ungkapnya.

Ibu rumah tangga tersebut berharap kelangkaan garam tidak berlangsung lama. Sebab dia mengaku kalau membutuhkan sedikit garam hanya keperluan memasak saja.

Sementara itu, Kepala Bidang Perdagangan Disperindag Didik Sulaksono membenarkan jika pasokan garam langka di Tulungagung sejak Lebaran lalu.

Dia menduga, kelangkaan terjadi karena buruknya cuaca di wilayah penghasil garam yang selama ini mensuplai kebutuhan garam di Tulungagung. ” Kami sudah melakukan pemantauan dan hasilnya seluruh ketersediaan memang kosong,” ungkapnya.

Dia kini berkoordinasi dengan Bulog Subdrive Tulungagung, agar ada operasi pasar penyediaan garam jika nantinya kondisi di lapangan terus memburuk.  “Kita akan berupaya mengupayakan kelangkaan itu tidak berkelanjutan,” pungkasnya.(jpg)