FIK UBL Dukung Wacana Bantu Pelaksanaan UNBK

0
766
views

TRANSLAMPUNG.COM, Bandarlampung-Masih terbatasnya Sekolah Menengah Atas (SMA) sederajat yang memiliki perangkat komputer maupun jaringan, yang dipergunakan untuk Ujian nasional Berbasis Komputer (UNBK).

Memunculkan opini Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Lampung yang berharap tiap Perguruan Tinggi yang memiliki Fakultas maupun program studi Ilmu Komputer untuk membantu meminjamkan unit perangkat atau menggelar UNBK dikampus bersangkutan.

Fakultas Ilmu Komputer Universitas Bandar Lampung (FIK UBL) melalui Kepala Laboratorium Komputer Robby Yuli Endra S.Kom, M.Kom, mewakili Dekan FIK Ahmad Cucus S.Kom, M.Kom akhirnya angkat suara.

Mewakili instansi, Robby berujar mendukung peluncuran wacana tersebut. Meski demikian, UBL belum berani melangkah karena belum ada informasi ataupun permintaan langsung, dari pihak Disdikbud Lampung maupun pihak sekolah.

“Kita (UBL) sebagai perguruan tinggi siap, jika harus ditunjuk. Asal keluar Perda dan surat kuasa penunjukan. Tapi, semua tergantung persetujuan pimpinan kita ditingkat Fakultas (Dekan), universitas (Rektor bersama wakil rektor)maupun Yayasan (Administrasi Lampung/YAL),”jelasnya, di Gedung E, Kampus A Drs.H.RM Barusman, Kamis (23/2).

Robby jelaskan, jika UBL menyelenggarakan UNBK. Maka UBL memliki 2 lab komputer proporsional dan sesuai standar nasional. Tiap lab bisa menampung 60 unit komputer (PC) beserta perangkat infrastruktur lainnya.

“Memang lab ini belum pernah digunakan kearah itu (UNBK). Tapi, sejak 2010 hingga kini FIK UBL sering mengundang sekolah, yakni guru dan siswa mendalami aplikasi komputer terbaru. Termasuk dalam mengendalikan, mengontrol, hingga mengoperasionalkan perangkat. Kita juga punya program sekolah pembinaan, yakni aksi pengabdian keliling, membuat web sekolah, hingga mengundang praktek lapangan,”ujarnya.

Disinggung pelaksanaan UNBK di Lampung yang sudah berjalan beberapa tahun belakangan. Robby menilai implementasi UNBK masih jauh dari maksimal dan efisien. Pasalnya, masih banyak sekolah kesulitan memenuhi infratsruktur dan perangkat UNBK.

“Kalau sekolah dikota siap, tapi di daerah masih kekurangan. Apalagi pemerintah daerah setempat, masih ada yang kurang peduli pemenuhan infrastruktur UNBK,”ucapnya.

Dilanjutkannya, dari segi infrastruktur tiap sekolah harus memiliki jumlah unit komputer yang sebanding dengan jumlah siswa kelas XII, ketersediaan daya listrik yang besar, harus memiliki UPS, genset dengan biaya cenderung mahal, hingga jaringan internet (online) yang stabil, dengan biaya berlangganan yang belum dimiliki seluruh lapisan masyarakat.

“Saya tidak tahu pasti sekolah apakah sudah memiliki dana khusus untuk memenuhi infrastruktur itu. Meski terkendala dipersoalan teknis perangkat. Tapi, saya yakin kesiapan siswa mendalami UNBK kayaknya siap, tapi guru-guru masih mengkhawatirkan, karena kurang ada uji coba pendampingan pendalaman (pelatihan) UNBK dari sekolah, maupun pemerintah,”ucapnya.

Robby juga menyoroti peran operator yang dapat memegang regulasi UNBK 3-5 sekolah perwilayah. Hal itu menyebabkan UNBK tidak efesien. Solusinya, yakni pemberdayaan peran guru sekolah, tidak mesti guru komputer sebagai operator UNBK. “Dengan kurikulum 2013, guru-guru wajib mendalami aplikasi komputer, hal itu yang harus dioptimalisasi dengan menjadikannya operator,”pintanya

Meski demikian, kedepan, Robby berharap UNBK dapat terus dilanjutkan dan ditingkatkan kualitas-kuantitasnya. Pasalnya banyak manfaat bagi siswa, guru dan sekolah.

“Bagi sekolah yang belum siap, jangan dipaksakan UNBK semua, perlu uji coba dulu. Kalau dipaksakan akan merugikan perangkat sekolah. Selain itu penuhi dulu semua perangkat dan sistemnya. Secara garis besar UNBK memberikan pengaruh besar untuk mewujudkan UN yang kredibel, bersih, transparan dan berkualitas,”tukasnya.(*)