. . .

Entaskan Kemiskinan, 15 Ribu Warga Miskin Tanggamus Dibantu Ternak Ayam

image_print

TRANSLAMPUNG, TANGGAMUS – Sekitar 15 ribu rumah tangga kategori miskin di Kabupaten Tanggamus, bakal menerima program pengentasan kemiskinan. Menariknya, program ini tak sekedar memberikan uang tunai pada penerima. Melainkan penerima diberi modal oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Tanggamus membudidayakan ayam petelur.

Sekretaris DPKP Kabupaten Tanggamus Hasanudin mengatakan, program tersebut bakal dijalankan tahun ini. Stimulan ini diberikan kepada keluarga miskin, supaya kondisi taraf hidup mereka perlahan meningkat.

Hasanudin menjelaskan, bantuan berasal dari Pemerintah Pusat. Kemudian melalui Balai Veteriner Lampung diteruskan pada DPKP Tanggamus. Sebab saat ini bidang peternakan di bawah kewenangan bidang pertanian. Karena masuk dalam kategori ketahanan pangan.

“Ini adalah program baru untuk warga miskin supaya kesejahteraan mereka meningkat. Yaitu dengan beternak ayam. Kami akan beri bantuan modal kandang, ayam dan pakan untuk kebutuhan awal,” ujar Hasanudin, mewakili Kepala DPKP Tanggamus Soni Isnaini.

Mekanismenya, menurut Hasanudin, keluarga miskin penerima program ini, diharuskan memiliki lahan kosong berukuran 2 x 10 meter. Status lahan itu lebih bagus jika milik sendiri. Namun jika ada keluarga miskin yang menumpang pada lahan milik orang, maka pemilik diminta membebaskan penggunaannya. Sebab arahannya sampai pada waktu mendatang.

“Kemudian pada lahan itu, harus dibuatkan kandang ayam. Nanti ada modal Rp500 ribu untuk membuat kandang. Kami rasa itu cukup untuk awalan,” terang Hasanudin, Rabu (13/2).

Selanjutnya barulah warga miskin tersebut diberi bibit ayam berusia 30 hari sebanyak 50 ekor. Bibit ayam berasal dari Balai Veteriner Lampung. Ayam-ayam itu harus dipelihara, tidak boleh dijual,” terang Hasanudin.

Kemudian, masing-masing penerima program akan diberi lagi bantuan empat sak pakan ayam. Jumlah tersebut perkiraannya bisa untuk dua bulan dengan kebutuhan jumlah ayam dan usia ayam.

Selanjutnya warga miskin penerima program, harus terus memelihara ayam tersebut hingga bertelur dan bertambah populasinya. Apabila awalnya diberi 50 ekor, maka harus bertambah lebih dari itu.

“Selama pemeliharaan, kami akan mengawasi karena petugas bidang peternakan akan memberikan vaksin dan obat-obatan. Sehingga pertumbuhan ayam bagus dan tidak gagal,” ujar Hasanudin.

Ia mengaku, pilihan budidaya adalah ayam, karena cara beternaknya mudah. Artinya siapa saja bisa beternak ayam. Kemudian kebutuhan pakan dan pemeliharaannya, juga tidak terlalu tinggi. Sebingga tidak memberatkan penerima program yang notabene adalah keluarga miskin.

“Selama itu kami akan lakukan pendampingan seperti mengatasi masalah ketika ayam sakit dan lainnya yang berkaitan dengan kesehatan,” terang Hasanudin.

Alasan berikutnya, komoditas telur dan daging ayam selalu bernilai ekonomis dan berlangsung sepanjang waktu. Maka tidak ada kekhawatiran bahwa memelihara ayam bakal tidak laku. Hal itulah yang mendatangkan manfaat ekonomi bagi warga miskin penerima program.

Penerima Program Mengacu Data BPS kemudian Divalidasi

DITANYA lebih lanjut soal pendataan penerima program, Hasanudin mengatakan, datanya mengacu pada Badan Pusat Statistik Kabupaten Tanggamus. Namun setelah itu, tetap akan divalidasi oleh Tim Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH), untuk memastikan apakah keluarga tersebut layak menerima program ini atau tidak.

“Karena perlu adanya validasi penerima, makanya pelaksanaan program ini butuh waktu persiapan yang tidak sebentar. Sebab tujuan kami, penerima harus benar-benar warga miskin. Kami tegas menunda bantuan, atau menganulirnya, kalau penerimanya tidak sesuai kriteria,” tegas Hasanudin.

Pengawasan dan pendampingan, dia melanjutkan, akan dimulai sejak tahap pembangunan kandang. Apabila saat pembuatan kandang ditemukan warga mampu, maka kandang itu harus dibongkar dan penerima gagal mendapatkan bantuan.

“Karena program ini untuk pengentasan kemiskinan, maka harus orang miskin yang menerimanya. Jika ternyata nanti data dan kondisi di lapangan beda, terpaksa kami ganti,” Hasanudin memastikan.

Dia berharap, melalui program yang baik ini, maka hasilnya juga baik. Sangat tidak diharapkan sebaliknya. Apalagi sampai timbul masalah saat program ini berlangsung.

“Yang perlu kami tekankan, program ini untuk pengentasan kemiskinan. Bukan bantuan peternakan bagi peternak yang sudah mandiri atau warga mampu lainnya,” tandas Hasanudin. (ayp)

 

error: Content is protected !!