. . .

Ekonomi Syariah Alternatif Hadapi Krisis

image_print

TRANSLAMPUNG.COM, JAKARTA, FAJAR — Saat kondisi ekonomi global tengah terpuruk, sistem keuangan berbasis syariah bisa menjadi alternatif. Pertumbuhannya stabil.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, keuangan berbasis syariah menjadi solusi untuk reformasi keuangan global. Sistem keuangan Islam mampu memperkuat nilai etika dan moral dalam mempromosikan sistem keuangan global. Menurutnya, pertumbuhan keuangan syariah meningkat 22 persen dibanding tahun lalu.

“Aset yang dimiliki saat ini mencapai USD 80 miliar, cukup besar,” kata Sri, di Nusa Dua, Bali, Minggu, 14 Oktober.

Menurutnya, sebanyak 93 persen aset keuangan Islam telah mendapat manfaat besar dari penerbitan Sukuk pemerintah. Kata Sri, Indonesia juga telah menjadi negara dengan penerbitan sukuk negara di dunia, dengan total penerbitan mencapai, Rp906,1 triliun.

“Dengan sukuk ini, pemerintah membuka peluang dalam melakukan diversifikasi sumber pembiayaan, mempercepat pembangunan infrastruktur, serta meningkatkan layanan publik,” jelasnya.

Sistem keuangan berbasis syariah juga diakui Sri Mulyani, telah menjadi segmen industri keuangan global yang tumbuh cukup pesat. Sistem syariah ini pun menjadi penawar saat pembiayaan konvensional tak mampu memenuhi kebutuhan untuk membiayai pembangunan bagi negara berkembang.

“Dan sistem keuangan syariah juga relevan dengan program yang dicanangkan Bank Dunia yaitu, sustainable development goals (SDGs),” jelasnya.

Ketimpangan sosial juga bisa diatasi dengan sistem tersebut. Ini karena ekonomi syariah mengandung prinsip zakat dan wakaf atau zakat core principles dan  waqaf core principles. “Sukuk memberi potensi sebagai instrumen untuk mobilisasi dana. Sementara waqaf memiliki kemampuan mendapatkan income dan memberi aktivitas keuangan yang produktif,” tambahnya.

Kepala Bank Indonesia Perwakilan Sulsel, Bambang Kusmiarso, mengatakan, BI punya visi untuk mendukung terwujudnya Indonesia sebagai Pusat ekonomi dan keuangan syariah dunia.

Potensi yang bisa digrap, seperti halal food, travel, modest fashion, dan pariwisata. “Potensi ini berkembang pesat di Makassar, bisa digarap maksimal,” tambahnya.

Sebelumnya, Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah, mengatakan, pihaknya berjanji akan mengembangkan industri pariwisata halal di Sulsel.

“Kami dukung penuh konsep ini. Toraja bisa kita siapkan seperti itu,” jelasnya. (*)