. . .

Dua Pilot Bawa Sabu-Sabu 0,8 Gram

image_print

TRANSLAMPUNG.COM, JAKARTA – Dua pilot ditangkap tim Subdit I Ditresnarkoba Polda Metro Jaya, karena kedapatan membawa sabu di Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur, Kamis (2/8) siang. Salah seorang pilot tersebut merupakan warga negara asing inisial GSH dan salah seorang lainnya merupakan WNI yaitu BC.

“Kedua oknum tersebut ditangkap di depan pintu masuk parkir VIP Angkasa Pura II Bandara Halim Perdana Kusuma,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono, Minggu (5/8).

Argo menyampaikan, dari lokasi penangkapan, polisi menyita beberapa barang bukti di antaranya satu buah klip bening berisi sabu dengan berat brutto 0,8 gram dan dua buah ponsel. Sedangkan dari rumah GSH di Gandaria Selatan, disita satu buah bong kaca, satu buah cangklong kaca patah, dua buah pipet kaca, 2 buah sedotan plastik, tiga lembar aluminium foil bekas, dan dua buah korek api gas.

Dari rumah BC di Cipayung, Jakarta Timur, polisi menyita tiga buah pipet kaca, dua potongan sedotan plastik, satu bungkus klip bekas, tiga buah sedotan plastik kecil dan sebuah tutup bong botol plastik. ‘’Tersangka BC merupakan penguji semua siswa sekolah penerbang dan mengeluarkan license atau izin bagi para penerbang,’’ terang Argo.

Argo menambahkan, siswa yang lulus sekolah penerbang, mereka mendaftar lagi ke maskapai dan akan diuji lagi dengan tahap ujian teori, simulator dan menggunakan pesawat. ‘’Yang bersangkutan punya peran dalam kelulusan uji simulator dan ujian menggunakan pesawat semua pilot di Indonesia setiap enam bulan sekali,” jelasnya.

Sementara itu, Kasubdit I Ditresnarkoba Polda Metro Jaya AKBP Calvijn Simanjuntak menjelaskan, BC adalah oknum PNS Kemenhub yang juga penguji pilot. ‘’Sabu yang ditemukan merupakan bagian dari suap dari GSH agar bisa mendapat lisensi penerbangan,’’ jelasnya.

Menurut Calvijn, GSH sudah 3 kali memberikan sabu ke BC. “Ini diberikan karena mau mencari lisensi di situ,” tuturnya. Keduanya juga mengaku sudah menggunakan sabu telah lama, GSH selama 4 tahun, sedangkan BC sudah 10 tahun.

Kini, kedua pelaku diancam dengan Pasal 114 ayat (1) subsider Pasal 112 ayat (1) juncto Pasal 132 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika, dengan ancaman pidana hukuman mati, penjara seumur hidup, penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan pidana denda paling sedikit 1 Milyar dan paling banyak 10 Milyar. (af/fin)

error: Content is protected !!