Divertifikasi Penempatan Keuangan dalam Perencanaan Keuangan

0
165
views
Hendri Gunawan,SE, MM, ChFc (the Master Of Closing, Cauch and managment)

TRANSLAMPUNG.COM, BANDARLAMPUNG – orang dalam merencanakan keuangan masih berpedoman pada satu simpanan yang mungkin dianggap lebih aman dan mungkin juga beranggapan tidak begitu ribet apalagi membuat pusing kepala.

Ada juga yang berfikir bahwa dalam menempatan keuangan mereka cendrung untuk mengembangkan keuangannya baik dengan berinvestasi reksadana, emas dan properti atau dengan menjalankan usaha sendiri. Semua nya dengan tujuan adalah mengembangkan keuangan untuk lebih baik di masa depan.

Perlu kita cermati bahwa penempatan dana juga memperhatikan faktor resiko baik menempatkan di saving atau di investasi, mengapa demikian ? karena sekecil apapun penempatan dana tersebut ada resiko yang bisa terjadi semisal seperti tabungan saja jika kita tempatkan semua dana kebutuhan hidup kita untuk sekarang dan masa depan ke dalam tabungan yang ada di bank juga ada resiko sebagai contoh : dari diri sendiri sulit mengendalikan nafsu untuk berbelanja, resiko penipuan sering terjadi dan resiko lainnya, sebaiknya dalam penempatan keuangan perlu kita bentuk dalam penempatan devertifikasi dimana penempatan ini kita bagi dalam beberapa penempatan keuangan baik dalam penempatan saving atau penempatan investasi sehingga kita bisa menimalisir terjadi nya resiko dalam kerugian keuangan ( financial lost).

Dalam arti jika terjadi pemborosan dalam anggaran belanja rumah tangga pos-pos keuangan yang sudah kita atur penempatan nya tidak mengganggu kebutuhan satu sama lain sehingga bisa menahan hawa nafsu kita dalam anggaran belanja.  Ada pepatah juga yang mengatakan “ jangan taruh telur dalam satu keranjang karena jika satu telur saja yang busuk maka akan membuat telur satu keranjang juga akan membusuk” hal ini juga kita amati seperti kita menumpuk uang di tabung dalam satu rekening itu bisa berakibat jika terjadi resiko maka rekening tersebut akan hilang semua contoh : jika kita tertipu maka uang di rekening juga akan raib.

Sebaiknya dalam menempatkan keuangan kita perlu kita rencanakan terlebih dahulu, yang menjadi pedoman kita adalah bagaimana rencana kebutuhan jangka pendek ( kurang dari satu tahun dan kebutuhan jangka panjang  ( lebih dari satu tahun ).

Untuk kebutuhan jangka pendek kita masukan dalam tabungan yang ada di bank sebagai transaksi kebutuhan sehari-hari, sebaiknya nanti pengambilan keuangan yang ada di tabungan di bank juga direncanakan mingguan terkecuali ada anggaran biaya tak terduga,  hal ini berguna untuk membiasakan kita mengatur hawa nafsu kita dalam anggaran belanja sehingga tepat dalam perencanaan keuangan.

Selain kebutuhan jangka pendek kita melihat juga kebutuhan jangka panjang dimana kita punya rencana untuk masa depan yang lebih baik, dimana capek-capek kita kerja menghasilkan uang bukan hanya mau di habiskan dalam jangka pendek, setiap manusia pasti ada impian dalam hidupnya, nah disitu perlu ada rencana keuangan dimana instrumen tabungan jangka penjang yang bunga nya bisa setara dengan inflasi itu yang kita tempatkan keuangan kita, karena jika kita tidak mempertimbangkan inflasi maka nilai tabungan jangka panjang kita akan turun ( dan ini bukan solusi dalam perencanaan keuangan ).

Saat ini banyak sekali yang menawarkan simpanan baik tabungan atau investasi jangka panjang yang memberikan rate baik-baik.

Untuk tabungan jangka panjang perlu juga memperhatikan long life cycle perusahaan yang akan menjadi pilihan kita dalam menempatkan dana artinya perusahaan tersebut punya ketetapan standard likuiditas diatas ketetapan pemerintah.

Jika kita melihat potensi di investasi kita perlu juga memperhatikan return of investmentkarena setiap investasi punya perinsip “ high risk high return, low risk low return “  artinya besar hasil yang di dapat besar juga resiko yang diterima, kecil hasil yang di dapat kecil juga resiko yang diterima. Semuanya tergantung dari profil kita sendiri dalam berinvestasi jika kita tipe orang yang konservatif sangat tidak cocok untuk berinvestasi yang resikonya besar namun sebalik nya jika kita tipe orang Progresif sangat cocok dalam berinvestasi resiko besar.

Banyak investasi yang besar kecilnya return dan risk juga ditentukan oleh waktu seperti investasi : kebun, properti, tanah, emas dan reksadana. Dimana investasi ini Anda coba melihat history ( riwayat) perjalanan investasi tersebut sebagai contoh investasi emas dimana harga emas saat ini kisaran Rp. 500.000 (lima ratus ribu) per gram nya dimana jika kita lihat harga emas pada tahun 2005 dahulu kisarannya adalah Rp. 200.000( dua ratus ribu) per gram artinya dalam 12 tahun terakhir ini ada kenaikan Rp. 300.000 ( tiga ratus ribu ) per gram. Atau naik 150% selama 12 tahun berarti kenaikan kurang lebih 12,5%, analisa ini diatas rate inflasi dan baik untuk simpanan jangka panjang.

Selain itu juga perlu kita perhatikan dalam penempatan dana yaitu kebutuhan akan nilai resiko ekonomi diri kita sendiri dimana ada jumlah dana yang menjadi back up keuangan kita jika terjadi faktor resiko yang memang kita tidak bisa hindari seperti : sakit, kecelakaan dan tutup usia. Alokasi penempatan keuangan juga sangat penting sekali mempertikan kebutuhan nilai resiko ekonomi, banya juga produk-produk asuransi yang memberikan solusi terhadap penempatan dana untuk mem-back up kebutuhan nilai resiko ekonomi kita. (*)