Ditolak Uni Eropa, Netanyahu Tetap Sebut Yerusalem Ibu Kota

TRANSLAMPUNG, BRUSSEL Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bukannya tak berusaha meyakinkan Uni Eropa. Dia sudah mengeluarkan jurus lobi-lobinya agar mereka mau mengikuti jejak Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Di hadapan Kepala Kebijakan Luar Negeri UE Federica Mogherini, Netanyahu membela deklarasi Trump pada Rabu (6/12) lalu tersebut.

”Apa yang Presiden Trump lakukan hanyalah mengungkapkan fakta. Sebab, perdamaian lahir dari realitas,” ungkapnya sebagaimana dikutip Reuters.

Netanyahu melanjutkan, Yerusalem adalah ibu kota Israel. ”Tidak ada yang bisa mengingkarinya,” kata kepala pemerintahan yang juga ketua Partai Likud tersebut.

Dengan mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, lanjut dia, perdamaian bakal lebih cepat terwujud. Namun, Mogherini bersikeras perdamaian Israel-Palestina hanya akan terwujud lewat solusi dua negara.

Meski sudah ditolak, Netanyahu tetap cuek mengimbau negara-negara Eropa untuk memindahkan kedutaan besar mereka ke Yerusalem seperti yang direncanakan Ameria Serikat.

Namun, imbauan itu tidak digubris Mogherini. Sebab, sebagai penggagas ide, AS belum bisa berbicara panjang lebar tentang rencana kontroversial tersebut. Di internal AS, ide itu menuai banyak penolakan.

Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves Le Drian tidak yakin dengan rencana AS untuk memindahkan kedubesnya ke Yerusalem. Dalam lawatannya ke Brussel pekan lalu, Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson sama sekali tidak berbicara tentang deklarasi Trump atau rencana pemindahan kedubes.

”Semua orang tahu bahwa jalan keluar krisis Israel-Palestina hanya bakal lahir lewat perundingan dan solusi dua negara,” ujar Le Drian. (jpg)

News Reporter