. . .

Disnaker akan Evaluasi Transmigran Tanggamus di Kalimantan

image_print

TRANSLAMPUNG.COM, TANGGAMUS – Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Tanggamus dalam waktu dekat berkunjung ke Kalimantan. Kunjungan tersebut dalam rangka mengevaluasi kehidupan peserta transmigrasi Pemkab Tanggamus kuota tahun 2015 kategori nelayan.

Rencanana tersebut dibenarkan Kepala Disnaker Tanggamus Drs. Aswien Dasmie. Dia mengatakan, evaluasi transmigrasi selalu dilaksanakan dalam kurun waktu dua tahun. Terhitung sejak lima kepala keluarga (KK) transmigran memulai hidup di lokasi transmigrasi dari kuota 2015.

“Evaluasi ini memang kami lakukan setelah para peserta bertransmigrasi selama dua tahun di lokasi. Tujuannya evaluasi untuk memastikan bahwa mereka (para transmigran, Red) dalam kondisi yang baik dalam segala aspek. Kami memang selalu memberikan daerah transmigrasi yang subur. Baik itu dari sektor lahan untuk bertani maupun sektor tangkapan lautnya,” jelas Dasmi, Selasa (30/1).

Kabid Tenaga Kerja Hj. Afrida Susanti yang mendampingi Sasmi memaparkan, Tanggamus dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, selalu mendapatkan kuota program transmigrasi Pemerintah Pusat. Kuota tahun 2015 tujuannya adalah Kalimantan.

“Pertama, sebanyak 5 KK kategori transmigrasi nelayan, kuota program transmigrasi tahun 2015. Lalu tahun 2016, peserta sebanyak 15 KK untuk kategori petani,” terang Afrida.

Sementara tahun 2017 tepatnya pada 22 Desember, dia melanjutkan, Disnaker Tanggamus memberangkatkan 5 KK ke Provinsi Gorontalo, bagian barat dari Sulawesi Utara dengan kategori petani. Dan setelah masuk dua tahun masa transmigrasi, maka Pemkab Tanggamus akan kembali melakukan tinjauan, seperti yang akan dilaksanakan pada tahun ini.

Untuk kuota peserta transmigrasi, Afrida menegaskan, pemkab atau dinas tidak bisa melakukan pengajuan peserta kepada Pusat. Tapi Pusat yang sudah menentukan plot kuota kepada setiap pemprov. Kemudian dibagi lagi kepada pemkab masing-masing.

“Kalaupun bisa bertambah kuotanya, itu dikarenakan ada dari kabupaten lain yang belum sanggup memenuhi kuota yang diberikan, maka bisa dialihkan ke kabupaten lain yang sudah siap,” jelas Afrida.

Bagi para peserta transmigrasi, masih kata Afrida, selama dua tahun seluruh biaya hidup peserta menjadi tanggungan pemerintah. Mulai dari kebutuhan sandang, papan, dan pangan. Saat Pemkab Tanggamus mendampingi peserta ke lokasi transmigrasi di Sulawesi, para peserta sudah mendapatkan tempat tinggal yang permanen. Bahkan dilengkapi dengan aliran air bersih PDAM dan listrik.

Kemudian masing masing KK diberikan lahan seluas 1,5 hektare untuk dimanfaatkan. Bagi peserta kategori petani, dengan rata-rata mereka menanam cengkeh. Karena memang tidak diragukan lagi hasil cengkeh dari Sulawesi memiliki kualitas yang sangat bagus.

“Jadi tidak heran jika harga cengkeh dari Sulawesi itu mahal. Karena memang bagus dan lokasinya juga sangat sejuk dan subur. Kalau untuk kategori nelayan, hanya beda di pemberian alatnya. Kalau nelayan pasti dipenuhi alat untuk menangkap ikan. Sementara yang petani, ya lahan dan bibit cengkeh. Kalau masalah tempat tinggal, sama saja untuk dua kategori itu,” papar  Afrida.

Meski tampaknya menggiurkan, namun Dasmie dan Afrida menegaskan, bahwa menjadi peserta transmigrasi sama sekali tidak mudah. Karena ada beberapa fase dan tes yang harus dilalui. Dimulai dari pendaftaran setelah dilakukan sosialiasasi, seleksi berkas, dan terakhir menjalani psikotes bagi yang berkasnya diterima. Kemudian peserta yang lulus dalam psikotes, artinya sudah layak dan siap untuk diberangkatkan ke daerah tujuan transmigrasi. Namun sebelumnya, diberikan bekal pengetahun berupa pelatihan selama satu minggu di Jakarta.

“Setelah pelatihan, calon peserta tingggal menunggu jadwal pemberangkatan dari pusat. Nantinya peserta dikumpulkan di titik pemberangkatan, yakni di Pelabuhan Tanjungpriok, Jakarta Utara bersama dengan para peserta transmigrasi lainnya dari berbagai kota/kabupaten. Mereka diantar menggunakan kapal laut yang cukup mewah. Dan memang program transmigrasi ini sendiri bertujuan untuk mengangkat taraf kehidupan warga Indonesia agar lebih baik,” tandas Dasmie. (ayp)