. . .

Disnakbun Lamteng Pasif

image_print

Telur Ayam Tembus Rp27 Ribu

TRANSLAMPUNG.COM, GUNUNGSUGIH – Harga telur ayam negeri yang tembus Rp26 ribu hingga Rp27 ribu per kg di Lampung Tengah (Lamteng) tidak diketahui Dinas Peternakan dan Perkebunan (Disnakbun) setempat. Penyebab kenaikan harga pun tidak diketahui.

Data yang dihimpun Radar Lamteng dari sejumlah pedagang telur ayam negeri di Pasar Bandarjaya diketahui harga telur mencapai Rp26 ribu per kg. Sementara di sejumlah pedagang kecil harga telur ayam mencapai Rp27 ribu per kg.

Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Disnakbun Lamteng Supardi mengaku tidak mengetahui informasi kenaikan harga telur ayam negeri. Anehnya, Supardi juga tidak mencari tahu penyebab kenaikan harga telur tersebut dan terkesan pasif.

Dia justru meminta pewarta untuk mencari tahu langsung ke peternak ayam petelur terkait melonjaknya harga telur pasca lebaran Idul Fitri. “Tadi dokter hewan yang ada tidak membahas masalah peternak ayam petelur dan harga telur naik. Coba tanyakan langsung dengan peternak,” ujar Supardi, Senin (17/7).

Sejauh ini, menurut Supardi, tidak ada serangan penyakit ke unggas seperti ayam petelur maupun pedaging. Semua dalam kondisi aman dan jika pun ada penyakit yang menyerang unggas akan ada laporan.

Sementara itu, peternak ayam petelur di Lamteng hingga kini belum terdata jumlahnya. Disnakbun setempat beralasan tidak ada laporan dari peternak ke institusi pemerintah tersebut.

“Memang selama ini tidak ada laporan dari peternak ayam petelur kepada kami. Jadi, kita tidak tahu berapa banyak dan dimana peternak yang ada di Lampung Tengah,” terang Supardi.

Selama bertahun-tahun peternak ayam petelur dan hasil produksinya tidak dilakukan pendataan. Dinas Peternakan dan Perkebunan Lampung Tengah berencana akan melakukan pendataan di tahun ini. Sebab potensi ayam petelur di Lampung Tengah cukup besar. Tak hanya itu, data ayam pedaging atau ayam boiler pun tidak dimiliki.

“Mereka (peternak ayam petelur, red) biasanya sudah ada wadah perkumpulan sendiri. Tapi, tidak ada laporan kepada kami. Tahun ini kami rencanakan untuk mulai mendata supaya bisa diketahui berapa banyak potensi peternakan ayam petelur di sini (Lamteng),” kata Supardi.

Dia hanya menyebut ada satu peternak ayam petelur di Lamteng yang diketahui. Peternakan ayam itu ada di Kecamatan Seputihbanyak dan pemiliknya sekaligus sebagai penyedia pakan ternak ayam bagi peternak ayam lainnya.

“Saya diberi kabar sama pemilik ternak ayam petelur itu yang juga dokter hewan, kalau dirinya memiliki pakan yang lebih murah dan menghasilkan telur baik. Hal itu mengatasi harga jagung yang tinggi sebagai campuran pakan ternak ayam,” katanya.(jar)

error: Content is protected !!