Dinas Kesehatan Lampura Tidak Mengeluarkan Izin Praktik Bagi Mantri Kesehatan

0
687
views

Kotabumi – Mantri Kesehatan R atau AR yang diduga sebagai pemicu meninggalnya Indah Novriyanti (21) salah satu pasiennya, ternyata tidak mengantongi izin praktik, hal tersebut diungkapkan Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Utara(Lampura), M. Na’im.
Dalam hal ini Dinas Kesehatan hanya memberikan izin bagi klinik, Dokter dan Bidan.
” Dinas Kesehatan tidak pernah mengeluarkan izin untuk Mantri‎. Yang kami keluarkan izinnya hanya untuk Dokter, Bidan, dan klinik,” Ujar Na’im saat dikonfirmasi dikantornya, Rabu (6/5).

Saat ditanya soal langkah apa yang akan dilakukan Dinas Kesehatan untuk mencegah insiden dugaan keracunan obat atau salah pemberian dosis, Na’im menjelaskan, bahwa itu bukan wewenangnya melainkan wewenang Kepala Dinas,” Kalau soal itu silakan konfirmasi ke pak Kadis‎ saja. Karena itu wewenang beliau,” Katanya

Masih soal kematian gadis cantik yang diduga keracunan obat tersebut, Direktur Rumah Sakit Umum Daerah(RSUD) Ryacudu Kotabumi, dr. Maya Metissa membenarkan bahwa oknum Mantri, R atau AR adalah merupakan salah satu pegawai RS. Ryacudu, setelah para awak media telusuri Mantri AR ternyata bukan pegawai biasa melainkan Kepala Ruangan Fisioterapi di Rumah sakit milik pemerintah Lampura ini.

Maya Mettisa menjelaskan, bahwa Fisioterapi adalah merupakan pengobatan terhadap penderita yang mengalami kelumpuhan atau gangguan otot dengan tujuan melatih otot tubuh agar dapat berfungsi secara normal kembali. Dijelaskan lebih lanjut, bahwa pasca kasus dugaan keracunan obat yang dilakukan oleh AR yang ramai diberitakan oleh berbagai media massa, bahwa yang bersangkutan tidak lagi masuk kerja hingga saat ini,”‎ Memang benar AR pegawai kami dan bertugas sebagai Kepala Ruangan Fisioterapi di sini,” Ujar Maya.

Masih kata Maya, AR seharusnya tidak lagi melayani pengobatan bagi warga yang ingin berobat padanya. Sebab, yang bersangkutan telah melanjutkan pendidikan ke jurusan fisioterapi. Dengan demikian, Surat Tanda Registrasi (STR) yang dimiliki oleh yang bersangkutan tak berlaku lagi. STR ini sendiri merupakan syarat utama bagi para Mantri yang ingin melayani pengobatan bagi warga.
“Setiap Mantri atau perawat harus memiliki STR jika ingin melayani pengobatan bagi warga. Tidak Α̲̅ϑα̲̅ STR jelas itu tidak diperbolehkan,” Tegasnya

Semestinya lanjut Maya disaat memberikan resep/obat kepada pasien, para tenaga medis mulai dari Dokter, Bidan, Mantri, sebelumnya mempertanyakan terlebih dulu terhadap pasien tentang riwayat alergi yang diidap pasien. ‎Jika Α̲̅ϑα̲̅ pasien tidak mengetahui riwayat alerginya maka petugas medis biasanya akan menyuntik pasien di bawah kulit untuk mengetahui apakah pasien alergi terhadap obat yang diberikan atau tidak, “Biasanya, baik Dokter, atau lainnya akan tanya dulu kepada pasiennya apakah punya riwayat alergi atau tidak. Kalau obat antibiotik untuk alergi yang diberikan pada pasien saat berobat itu tak ada,” terangnya.

Diberitakan sebelumnya, Indah Nopriyanti (21), warga Gang Ampera, RT I/LK II, Kelurahan Tanjung Aman, Kotabumi Selatan, Lampung Utara meninggal akibat diduga keracunan obat saat berobat pada Mantri kesehatan, Ri, Senin (4/4) sekitar pukul 18:00 WIB.

Dugaan keracunan obat yang menyebabkan dara cantik ini meninggal dunia berawal‎‎ usai tubuh korban melepuh tak lama setelah berobat pada Mantri RI yang tinggal di Gang Sangkuriang, Kotabumi Selatan pada Minggu (27/3) pagi.
Pihak keluarga almarhumah Indah Nopriyanti, korban dugaan keracunan akhirnya melaporkan Ri, oknum Mantri kesehatan Lampung Utara ke Polres, Selasa (5/4) pagi. Laporan korban ini tertuang dalam surat laporan dengan nomor laporan : LP / 299 / IV / 2016 / POLDA LAMPUNG / / RES LU. (Mg11)

LEAVE A REPLY