. . .

Diduga Pemerintah Pekon Asahan Way Sindi Carut-Marut

image_print

TRANSLAMPUNG.COM, PESIBAR – Pemerintahan Pekon Asahan Way Sindi,  Kecamatan Karya Penggawa, Kabupaten Pesisir Barat (Pesibar) diduga curat marut.  Pasalnya masyarakat setempat ramai mengeluhkan tumpang tindihnya paratur pekon oleh suaminya dan keluarga besarnya.

Menurut warga Pekon Asahan Way Sindi yang enggan disebutkan namanya mengatakan, jabatan yang seharusnya dikerjakan oleh Pj peratin pekon tersebut akan tetapi banyak turut campur dari pihak keluarga.

“Ya setiap mau membeli matrealkantor harus atas persetujuan sang suami, bapak kandungnya dan tidak atas persetujuan yang sebagai mana pemerintahan pekon yang lain lakukan,”ujarnya kepada translampung.com pada, Rabu (1/8) di kediamannya.

Dijelaskannya,  seperti halnya pada waktu pengerjaan balai pekon yang seharusnya masyarakat pekon itu sendiri tapi,  Pj pekon tersebut lebih memilih pekerja dari luar pekon dan bukan untuk memberdayakan masyrakat setempat yang memang membutuhkan pekerjaan.

” Seperti, Medi Kismanto ketua TPK Gerbang Saburai Pekon Asahan Way Sindi yang  juga seorang tukang bangunan, pernah, meminta agar pekerjaan itu dikerjaan dengan cara memberdayakan masyarakat pekon itu sendiri, namun di tollak oleh ayah sang Pj dan bukan berdasarkan penolakan Pj Pekon Asahan Way Sindi,” terangnya.

Sementara dikomfirmasi ditempat berbedaPj pekon Asahan Way Sindi, Lesi Yulastri, Spd menyangkal semua hal yang di tujukan kepada dirinya, dan berdalih bahwa semua sudah sesui dengan prosedur pekon.

“Itu kan sumber berita dari orang orang yang tidak suka dengan saya. Dan saya sudah mengetahui itu semua informasi dari peratin yang lamakan,”tuturnya dengan nada tinggi.

Disinggung mengenai turut campur sang ayah dan suaminya dalam pemerintahan ia meyampaikan bahwa hal tersebut sah-sah saja,  mengingat yang turut campur itu merupakan suaminya.

“Ya mau gimana namanya juga suami,  pasti ada turut campurnya apa lagi saya perempuan, dan saya sanggup mempertangung jawaban semua yang saya sampaikan, “kilah dia. (r7)