Ikan di Sungai Tercemar Limbah, Diduga Perusahaan Larang Media Tinjau Lokasi Limbah

TRANSLAMPUNG.COM, MENGGALA – PT. Budi Starch dan Sweetener, ( Bumi Waras Group ) TBK, Divisi Tapioka Wai Abung Gunung Batin, Lampung Tengah, diduga kuat membuat limbah di aliran sungai. Pasalnya, ribuan ikan mati mendadak di sejumlah sungai salah satunya sungai Kali Miring Kampung Bujung Tenuk dan Kampung Tua, Kelurahan Menggala Selatan Kecamatan Menggala Tulangbawang.

Seman (43) warga tiuh tohou mengatakan, ribuan ikan ditemukan mati mendadak sejak empat hari yang lalu saat turun hujan deras disebagian wilayah. Sebelumnya kawasan kami diguyur hujan lebat, setelah hujan reda warga melihat ikan pada mabok,  seketika ratusan warga yang mengetahui hal itu berduyun-duyun untuk mengambil ikan yang di duga mati akibat limbah dari salah satu Perusahaan yang berada di wilayah hulu sungai.

“Yang menjadi permasalahan keesokan harinya ratusan warga yang mengambil ikan tersebut mengalami gatal-gatal di sekujur tubuh serta merasa mual dan sakit perut usai mengkomsi ikan dari hasil tangkapan mereka, belum pernah seperti ini sebelumnya,  kurang lebih hampir seluruh warga yang mengambil ikan di sungai saat itu mengalami gatal-gatal dan keluar bercak merah di tubuh mereka. Dirinya menduga aliran air sungai yang digunakan warga setempat sehari-hari untuk menangkap ikan sebagai nelayan telah tercemar oleh limbah salah satu pabrik di bagian hulu sungai,” katanya.

Seman juga mengatakan, Saya mengharapkan Pemerintah Kabupaten Tulangbawang melalui Dinas terkait menindaklanjuti kasus dugaan pencemaran tersebut. Dikhawatirkan apabila di biarkam saja akan menimbulkan dampak yang lebih besar lagi.

“Akibat kejadian ini, kami menderita kerugian yang sangat besar karena dari dulu rata-rata warga yang rumahnya berada di pinggir sungai mencari nafkah sebagai nelayan. Kalau udah begini dari ikan yang kecil hingga yang besar mati semua,” harapnya.

Antori Kepala kampung Tiuh tohou Menggala saat di temui di kediamannya membenarkan terkait hal itu, benar saya juga sudah mendapkan informasi dari warga bahwa ada ribuan ikan yang mati di sungai,  kalau untuk penyebabnya saya juga kurang mengetahui.  Tapi,  kalau keterangan dari warga akibat limbah dari perusahaan Bumi Waras yang berada tepat di hulu.

“Sampai hari kelima pasca tercemarnya sungai kali miring yang mengalir hingga ke hilir bunjung teknik Berton ton para nelayan, memperoleh ikan besar dan kecil hal ini tentunya merugikan para nelayan pasalnya kerusakan ekosistem biota air tawar mengancam kelangsungan makhluk hidup setiap aliran sungai yang telah tercemar. Tidak sampai sana saja, dengan tercemarnya sungai tersebut para nelayan mengeluh rusaknya mata pencarian, selain itu air yang dipergunakan untuk kebutuhan sehari-hari tidak dapat di pergunakan baik di konsumsi atau pun kebutuhan pertanian dalam hal ini pihak perusahaan harus bertanggung jawab atas kerugian masyarakat dan kerusakan lingkungan,” jelasnya

Sementara itu, pihak PT. Budi Starch dan Sweetener, TBK Divisi Tapioka Waibung Gunung Batin Udik Lampung Tengah melalui bagian personalia, Bowo, mengatakan, pihak telah mendengar informasi terkait adanya ikan ikan yang mabuk di hilir bahkan dirinya sudah memerintahkan timnya mengecek lokasi radius 500 meter dari titik penampungan limbah.

“Alhasil tidak di temukan , namun tidak menutup kemungkinan hal hal yang di luar pengelolaan limbah, namun kami dari perusahaan akan berkoordinasi dengan kantor pusat, adanya keluhan masyarakat terkait pencernaan di akibatkan limbah, nantinya bentuk tim guna memastikan apa penyebab matinya ikan kemudian kandungan kimia di air sungai tersebut,” jelas Bowo.

Lebih lanjut, Bowo menuturkan pihaknya berupaya mengelola limbah semaksimal mungkin, namun kasus di lapangan diluar upaya, pihaknya berjanji 3 hari kedelapan ia akan beri informasi ke pihak masyarakat, ketika pihak media ijin hendak melihat titik penampungan terakhir limbah , Bowo berkilah harus ada ijin dulu dari pusat bila mana ingin melihat lokasi limbah.

“Mohon maaf untuk terkait kawan kawan media akan meninjau lokasi limbah terus terang kami keberatan pasalnya kami dari porsonalia harus mendapatkan ijin dari pusat,” katanya. (als/hkw)

News Reporter