Dianggap Melecehkan, Jaksa KPK Tegur Fredrich dan PH-nya

Sidang Kasus Merintangi Penyidikan Novanto

TRANSLAMPUNG.COM, JAKRATA – Jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi mengeluh dengan sikap Fredrich Yunadi dan tim penasihat hukumnya lantaran berupaya melecehkan dengan menertawakan, serta bersikap tidak etis di dalam persidangan.

Saat petugas RS Medika Permata Hijau, dr. Alia bersaksi di persidangan, tiba-tiba Fredrich mengarahkan jari telunjuknya ke jidat. Kemudian, saat jaksa mengonfirmasi isi BAP tentang komunikasi kedatangan Setya Novanto untuk dilakukan perawatan, penasihat hukum mengeluhkan pertanyaan jaksa dan melakukan interupsi tanpa meminta persetujuan hakim.

Tidak lama selesai bertanya, salah satu jaksa KPK Roy mengeluhkan sikap Fredrich dan tim penasihat hukum. Jaksa menyebut sikap Fredrich tidak menghormati saksi.

“Tadi terdakwa menggunakan gerakan badannya anggota tubuhnya seperti ini ketika jpu rekan kita bertanya. Saya harap jika ada perbuatan tingkah-tingkah terdakwa yang tidak patut, kami mengingatkan ketua majelis bisa mengingatkan kalau perlu mengeluarkan terdakwa dari ruang sidang ini,” kata jaksa Roy di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta Pusat, Kamis (15/3).

Atas perlakukan penasihat hukum Fredrich yang tak mengenakan, jaksa pun meminta agar penasihat hokum (PH) menyampaikan keberatan dengan baik. Ia meminta agar dapat mengajukan keberatan kepada hakim tanpa memotong pembicaraan.

“Apabila pertanyaan JPU seandainya memang dianggap keberatan penasihat hukum bisa disampaikan ke majelis seperti itu tidak melalui gerakan-gerakan tubuh yang bisa melecehkan kami,” ujar jaksa.

Mendengar pernyataan jaksa, kemudian Hakim Ketua Syaifudin Zuhri menasihati apa yang dilakukan penasihat hukum Fredrich di dalam persidangan.

“Kebetulan kami nggak lihat kalau memang ada mohon bisa menghormati persidangan,” ujar hakim Syaifudin.

Dalam perkara ini, Fredrich Yunadi dan dokter RS Medika Permata Hijau, Bimanesh Sutarjo ditetapkan sebagai tersangka merintangi penyidikan kasus dugaan korupsi proyek e-KTP yang menjerat Setya Novanto.

Keduanya diduga memanipulasi data medis Novanto dan mengatur RS Medika Permata Hijau untuk menghindari pemeriksaan KPK pada pertengahan November 2017.

Atas perbuatannya, Fredrich dan Bimanesh dijerat dengan Pasal 21 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. (rdw/JPC)

 

 

 

 

News Reporter