Di “Sekolah Indonesia”, Anak Rohingya Diajari Toleransi

0
128
views

TRANSLAMPUNG.COM, SEKOLAH itu memiliki tiga ruangan dengan tiap kelas bisa menampung 25 bangku. Satu bangku panjang bisa diduduki empat murid Pintunya terbuat dari kayu, tapi kusen tiap jendela terbuat dari aluminium. Seperti khas sekolah SD lain, di dalamnya ada berbagai poster hewan dan abjad.

Laporan Dhimas Ginanjar dari Sittwe, Myanmar

Saat Jawa Pos berkunjung kemarin (11/9), tidak banyak murid yang berada di kelas. Sebab, sedang ada kegiatan di masjid yang tidak jauh dari sekolah. “Saat Idul Adha, kami juga merayakannya di masjid,” ujar Khin Maung Naing, salah seorang guru.

Sekolah negeri di Desa La Ma Chae itu merupakan satu di antara dua sekolah yang dibangun dengan dana bantuan dari para donatur Indonesia. Saat konflik Rohingya meletus di Distrik Maungdaw pada 25 Agustus, dua sekolah itu kembali jadi perbincangan di tanah air. Gara-garanya, banyak yang menuding Presiden Joko Widodo mengklaim kinerja PKPU Human Initiative dalam mengumpulkan dana dan membangun sekolah-sekolah tersebut sebagai kerja pemerintah.

Sekolah satunya berada di desa muslim lain, Thet Kay Pyia Ywar Ma. Jarak kedua desa dari jantung Kota Sittwe sebenarnya tidak jauh. Sekitar 8 km dan bisa ditempuh dalam 15 menit menggunakan sepeda motor.

Meski hanya memiliki tiga ruangan kelas, sekolah di La Ma Chae tersebut juga difungsikan untuk taman kanak-kanak. Sedangkan untuk sekolah dasar, bangunan difungsikan sampai grade (tingkat) 7. Di Myanmar, SD biasanya sampai grade 4.

Tetapi, anak-anak Rohingya di sekolah di La Ma Chae itu belum masuk ke sekolah menengah.

Biasanya disebut dengan over primary school.

Total 385 murid memanfaatkan sekolah itu untuk menimba ilmu. Murid sebanyak itu diajari empat guru yang seluruhnya muslim.

“Biasanya kami mulai belajar pukul 10.00 dan selesai 15.30 dari Senin sampai Jumat,” imbuh Khin Maung Naing.

Khusus hari Jumat, ada tambahan kegiatan di luar, yakni di masjid. Materi pelajaran yang diajarkan, mulai pengetahuan umum sampai bahasa Myanmar.

Pelajaran penting lain yang diajarkan di sekolah tersebut adalah toleransi beragama. “Jadi, kami tidak hanya mengajarkan soal pengetahuan, tetapi juga bagaimana berbagi cinta kepada orang lain,” imbuh Khin.

Dia menegaskan ingin hidup dalam harmoni di Sittwe. Konflik di Maungdaw yang mengakibatkan ratusan muslim Rohingya tewas dan ratusan ribu menyeberang ke Bangladesh diharapkan tidak menular.

Semangat untuk memberikan pengetahuan dan cinta kasih itulah yang membuat dia bertahan menjadi guru. Meski, sudah hampir empat bulan ini pemerintah belum membayar gajinya.

Gaji yang biasa diterima guru sepertinya berkisar 150 ribu kyats (sekitar Rp 1,5 juta). Namun, dia tak mau berpolemik tentang apakah keterlambatan itu akibat dari konflik yang terjadi Maungdaw.

Dia dan tiga guru lain sudah merasa nyaman untuk menjadi pembimbing. Namun, dia berharap suatu saat ada bantuan lagi untuk sekolah tersebut.

Terutama dalam membangun pagar yang bisa mengelilingi kompleks sekolah. Itu penting supaya tempat belajar tersebut tidak dimasuki orang atau hewan ternak.

Dari La Ma Chae, Thet Kay Pyia Ywar Ma sebenarnya hanya terpisah 2 kilometer. Namun, jalan tanah dan hujan yang sempat mengguyur Sittwe membuat akses sulit dilalui. Beberapa kali sepeda motor harus melewati jalanan berlumpur dan banjir.

SD di Desa Thet Kay Pyia Ywar Ma lebih besar daripada La Ma Chae. Sebab, ada empat ruang belajar.

Di sekolah itulah Jawa Pos melihat secara langsung bagaimana sistem belajar di perkampungan muslim Rohingya. Terutama membagi kelas untuk berbagai jenjang murid.

Satu ruangan bisa dihuni untuk tiga kelas sekaligus. Misalnya, ruangan tempat Kyaw Min Tun, 21, mengajar.

Dia yang mengajar bahasa Inggris untuk siswa grade 5 harus berbagi dengan Bu Guru Myint Myint Than yang mengajar matematika untuk siswa grade 4 dan Bu Guru Ma Soe Phyu yang mengajar geografi untuk grade 6.

Di sekolah itu, ada 250 murid yang menerima pelajaran dari enam guru. Populasi di Desa Thet Kay Pyia Ywar Ma mencapai 1.400 orang dengan mayoritas bekerja sebagai petani dan peternak.

“Sebelum sekolah ini berdiri, sudah ada sekolah. Tetapi, dihancurkan dan diganti yang baru,” ujar Kyaw.

Sama dengan guru di La Ma Chae, dia dan lima guru lainnya belum mendapat gaji. Guru muda yang tidak mendapatkan ilmu di perguruan tinggi itu juga tidak bisa menarik bayaran. Sebab, di Myanmar sekolah negeri -terutama SD- gratis. (*/c10/ttg)