. . .

Delik Penganiayaan Korban AAS Tidak Dapat Dijadikan Tersangka, Polisi Harus Bijak

image_print

TRANSLAMPUNG.COM–PANARAGAN.
Terkait Penganiayaan yang dialami Korban ‎AAS (32) warga Desa banjar negeri Rk01-Rt01, Kecamatan Muara sungkai Kabupaten Lampung Utara (Lampura) oleh terduga Pelaku JN (32) selaku istri korban beberapa waktu lalu, mengacu pada delik penganiayaan korban tidak dapat ditetapkan sebagai tersangka.

Bedasar delik dalam tatanan hukum termasuk suatu kejahatan yaitu, suatu perbuatan yang dapat dikenai sanksi oleh UU secara umum tindak pidana terhadap tubuh pada KUHP disebut penganiayaan dari segi tata bahasa, penganiayaan adalah suatu kata jadian atau kata sifat yang berasal dari kata dasar “aniaya” yang mendapat awalan “Pe” sedangkan penganiaya itu sendiri berasal dari kata beda yang berasal dari kata aniaya yang menunjukkan subyek atau pelaku penganiayaan itu.‎

‎Dalam kasus bahasa indonesia (W.J.S poerwadarminta) mengatakan bahwa penganiayaan adalah pelaku sewenang-wenang (penyiksaan, penindasan, dan sebagainya). Sedangkan KUHP sendiri tidak memberikan penjelasan tentang apa yang dimaksud dengan istilah penganiayaan (mishandelling) selain hanya menyebut penganiayaan saja, namun pengertian penganiayaan dapat ditemukan dalam beberapa yurisprudensi yaitu.

Arrest hoge raad tanggal 10 desember 1902 merumuskan bahwa penganiayaan adalah dengan sengaja melukai tubuh manusia atau menyebabkan perasaan sakit sebagai tujuan, bukan sebagai cara untuk mencapai suatu maksud yang diperbolehkan, seperti memukul anak dalam batas-batas yang dianggap perlu yang dilakukan oelh orang tua anak itu sendiri atau gurunya.

‎Arrest hoge raad tanggal 20 April 1925 menyatakan bahwa penganiayaan adalah dengan sengaja melukai tubuh manusia, taidak dianggap penganiayaan jika meksudnya hendak mencapai justru tujuan lain dan dalam menggunakan akal ia tak dasar bahwa iia telah melewati batas-batas yang tidak wajar.

Arrest hoge raad tanggal Februari 1929 juga menyatakan bahwa penganiayaan bukan saja menyebabkan perasaan sakit, tetapi juga menimbulkan penderitaan lain pada tubuh. jadi beberapa pengertian dan penjelasan tersebut dapat disimpulkan ‎bahwa untuk menyebut seseorang itu telah melakukan penganiayaan terhadap orang lain, maka orang tersebut  harus mempunyai kesengajaan (Opzetelijk). Membuat rasa sakit pada orang lain, atau luka pada orang lain, juga dapat merugikan kesehatan orang lain dan melawan hukum.

Menurut Korban AAS,  menceritakan kronoligi kejadian penganiayaan yang dialaminya  sebagai berikut.  Saat itu ketika hendak menggelar  persidangan perceraian dirinya di minta oleh terduga pelaku JN dapat hadir  di pengadilan agama Tiyuh pulung Kecamatan Tulangbawang Tengah Kabupaten Tulangbawang Barat (Tubaba)‎ dan menurut terduga pelaku  saat itu,  dia mau membayar korban di hadapan hakim  dengan uang sebesar  Rp.15 juta jika korban hadir.

”  secara tegas saya katakan tidak mau, karena saya tidak menghendaki  pisah dengan kamu. Namun ‎tidak cukup disitu, menurut terduga pelaku JN melalui sambungan telponnya kepada saya,   jika saya tidak mau pisah dengan JN dia meminta saya untuk mencari uang sebesar Rp 200 juta, untuk dapat meyakinkan kedua orang tuanya jika saya mampu dan dapat mempertahankan rumah tangga kami, dengan dalih uang tersebut akan di pergunakan JN untuk beli rumah di kelurahan daya murni, Kecamatan Tumijajar Tubaba.‎” Kata korban menguraikan percakapannya dengan terduga pelaku JN pada (3/8/2018) pukul 13:30 Wib lalu.
‎‎
Lanjut AAS, setelah itu ‎dirinya diminta terduga Pelaku JN untuk datang ketempatnya bekerja di Alfamart Tiyuh murni jaya Tumiijajar, sesaat kemudian sesampainya kami di toko tersebut  terjadilah diantara kami berdua cek cok mulut, saat itu terduga pelaku JN meludahi muka korban AAS tepatnya didepan alfamart, seketika itu juga dengan rafflek korban langsung mendorong, dan pelaku jatuh, kemudian pelaku bangkit kembali dan langsung menampar muka dan mencekik leher korban.

” ‎ saat kejadiain itu kedua rekan kerja terduga pelaku JN inisial R dan D  melerai, setelah di pisah korban dan rekannya YF langsung pulang menuju Pom benis simpang PU dan langsung pulang mandi di kontrakan.‎ Beberapa saat kemudian, terduga pelaku JN kembali menelpon saya agar segera ‎ mendatangi JN ke Alfamart. saat itu saya kembali ditemani oleh rekan saya YF yang saat itu menunggu saya di depan toko Alfamart.‎” Katanya.

Saat itu korban dan JN berbincang di dalam Alfamart, dan kembali terjadi cek cok mulut terkait membahas uang sebesar Rp 200 juta, untuk dapat  meyakinkan kedua ornag tua JN. Demi saling menjaga korban langsung menjawab kepada JN, jika dia tetap menginginkan uang sebesar itu kedua orang tuan dan korban tidak memilikinya, namun JN tetap memaksa akhirnya korban mengajak JN ketempat kakak ipar korban di unit dua Tulang Bawang untuk mencari pinjaman uang tersebut.‎

” seketika itu JN langsung mengiyakan, namun dia meminta kepada saya agar pergi tidak berdua saja harus ditemani rekan kerjanya, karena persoalan ini adalah urusan rumah tangga, saya berkata‎ kepada dirinya mengapa harus melibatkan orang lain, dan JN menjawab dia takut nanti saya bunuh dan dibuang ke jembatan cakat Tulang Bawang. Spontan saya pun berkata kepda JN, berarti saya sudah gila jika hendak membunuh istri saya sendiri, sekalian saja kita mengajak keluarga dan orang tua mu.” Jelasnya.

Karena tidak terima dengan ucapan Korban kembali terjadi keributan keduanya, yang saat itu Terduga pelaku JN langsung menikam kepala korban sebelah kiri menggunakan obeng. Selanjutnya terduga pelaku langsung lari ke ruang depan toko Alfamart, yang saat itu lansung disambar korban jilbab nya, mengakibatkan jatuhnya perabotan jualan popok bayi yang ada dan tersusun dalam Alfamart.‎

” Selanjutnya terduga pelaku JN kembali masuk kedalam ketempat kami semula,  yang saat itu kedua rekan pelaku R dan D juga kembali melerai kami berdua dan selanjutnya saya langsung menampar muka pelaku sebelah kana satu kali. Setelah itu ‎saya di bawa rekan saya YF ke RS Asysyfa untuk berobat, namun setibanya di RS setempat kami dianjurkan oleh salah satu dokter ‎jika kamu mau pisum harus ada surat pengantar dari pihak kepolisian setempat.” Terangnya.

Karena untuk pembuktian dari tidakan terduga pelaku kami berdua YF mendatangi Mapolsek Tumijajar dan bertemu langsung dengan kanit Reskrimnya Darta, yang saat itu dia meminta kepada Anggota Agus untuk mengantarkan kami agar dilakukan pisum ke Puskesmas Daya murni, setelah itu saya kembali lagi mendatangi Mapolsek. Sekembalinya kami dari pisum ‎Kanit Reskrim Darta menanyakan kepada Korban apakan kejadin itu akan di proses secara hukum atau diselesaikan secara kekeluargaan,‎ korbanpun langsung meminta agar dapat diselesikan secara kekeluargaan.

”  kemudian pada (6/6/2018) saya kembali di telpon lagi oleh Anggota Polwan polsek setempat, menurutnya. saya dan keluarga serta kepala desa  di minta datang ke rumah terduga pelaku JN. ‎Sayapun menjawab, buk kalo saya yang harus disuruh datang kerumah keluarga mereka tidak mungkin buk, karena mereka yang salah mengapa saya yang harus miinta maaf, dan saat itu juga saya langsung meminta agar kasus penganiayaan JN terhadap saya dapat di proses secara hukum.” Urainya. ‎

‎Setelah korban menyampaikan agar kasus tersebut diproses secara hukum pada (6/6/2018) itu juga, kanit Reskrim Darta tetap berupaya agar kasus itu dapat di selesakan secara kekeluargaan. ‎Dengan cara kanit tersebut  menelpon korban agar datang ke Polsek, setelah korban sampai di polsek Kanit Reskrim juga menelpon pelaku JN.

” saat itu ‎terduga pelaku menjawab telpon, ya pak sebentar lagi saya tiba di polsek dan ternyata pelaku tidak datang.‎ Karena JN tidak kunjung tiba,  saya pun langsun menelponnya untuk menanyakan kepada Terduga Pelaku mengapa dia tidak hadir. pelaku menjawab,  saya tidk datang karena saya tidak ada surat panggilan resmi dari polsek untuk saya (JN). ‎ Mendengar jawaban terduga pelaku sedemikian,  kanit reskrim Darta langsung mengatakan kepada saya berarti istri kamu ini mau main main, kami tidak memberikan surat panggilan resmi kepada dia karena dia ‎belum kami anggap sebagai tersangka, dan jika kami memanggil menggunakan surat resmi berarti pelaku telah kami tetapkan sebagai tersangka.” Kata Korban AAS menirukan penjelasan Kanit Darta.

Keesokan harinya kami sekeluarga langsung meminta bantuan seorang pengacara, dan setelah kami dapat kabara pada malam hari selasa pelaku telah di tangkap oleh jajaran polsek Tumijajar dan dititipkan ke Polres Tuba. Belum jelas proses hukum terduga pelaku JN. Korban  mendapat ‎surat panggilan dari Polres Tuba melalui Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) tentang penetapan korban sebagai tersangka. Dalam ‎surat tersebut korban diharapkan dapat hadir ke Polres untuk menghapad Kanit unit PPA Benyy ariawan, dan sebelum korban memenuhi panggilan itu di Polres, mereka mencoba mendatangi kanit PPA Benyy ‎di rumahnya untuk menanyakan kebenaran panggilan tersebut.

‎” setibanya di kediaman pak Benyy ariawan beliau langsung berkata, saya kira ketadangan kalian kesini dengan maksut bagus dan sekarang saya bawa pulpen dan buku, tolong kamu jawab dengan jujur, sebab saksi kamu mengatakan jika saat itu kamu membawa senjata tajam (Sajan) dan kamu ini banyak kebohonga, saat di polsek kamu tidak jujur dengan tidak mengatakan jika kamu membawa pisau. Kemudian saat di polres ketika di BAP untuk memberi keterangan selaku saksi kepada terduga pelaku JN atau istri kamu, kamu juga tidak mengatakan jika kamu tidak membawa pisau, dari situ saja kamu sudah banyak bohongnya.‎ Jika kasus ini mau lancar,  kamu tidak usah berbelit-belit, kamu harus akui jika kamu membawa pisau kerena menurut keterangan saksi pelaku JN kamu saat itu membawa pisau.‎” tutup Korban AAS menirukan ucapan Kanit PPA Benyy ariawan.

Diberitakan sebelumnya. ‎Menurut Andi (Korban), surat panggilan pada ‎(1/8/2018) beberapa waktu lalu, nomor SP.G1/168/VIII/ 2018/ Reskrim Tuba, guna kepentingan pemeriksaan dalam sangkaan penyiksaan tindak pidana, perlu memanggil Korban untuk didengarkan keterangan.‎ bedasar pasal 7 ayat 1huruf g. Pasal 11 pasal 112 ayat (1) dan ayat (2) pasal 113 KUHP, serta undang undang RI No 2 tahun 2002 tentang kepolisian Negara RI, dan atas ‎laporan Polisi Nomor ‎ LP/170/VI/2016/polda LPG/ Polres Tuba, tanggal 09 Juni 2018.‎ M‎emanggil Andi akbar saputra bin Aripin, untuk menghadap kepada penyidik Ipda Benny Ariawan‎.,SH diruang Unit 111(PPA) Satuan Reserse Polres Tuba, pada senin (6/8/2018) pukul 09 00 Wib mendatang,  untuk didengar keterangannya selaku Tersangka, dalam perkara dugaan tindak pidana kekerasan pisik dalam lingkup rumah tangga, sebagai mana dimaksud dalam pasal 44 ayat (1) Jo Pasal 5 huruf (a), (b) UU RI No 23 tahun 2004 tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga, atau tindak pidana penganiayaan sebagai dimaksud dalam Pasal 351 KUHP.

” Saya merasa dibingungkan, mengapa saya yang menjadi Korban penikaman oleh Instri saya JN di kepala bagian kiri menggunakan obeng‎ beberapa waktu lalu tepatnya di dalam Toko minimarket Alfamart Tiyuh Murni jaya, Kecamatan Tumijajar  Kabupaten Tulangbawang Barat (Tubaba)‎ malah ditetapkan Tersangka oleh Unit PPA, jika seperti ini keluarga besar kami akan menempuh jalur hukum yang berkeadilan tanpa direkayasa. Sebab selain bukti hasil pisum saya telah melaporkan terduga pelaku JN secara resmi ke Mapolsek Tumijajar dengan bukti laporan polisi No‎mor TBL/B-67/VI/2018/POLDA LAMPUNG/RES TUBA/SEK TUMIJAJAR tanggal 06 juni 2018.” Kata Andi saat di jumpai dikediamannya pada (3/8/2018) pukul 13 00 Wib beberapa waktu lalu.

Sementara itu Kapolsek Tumijajar Iptu Aladi efendi membenarkan atas laporan Korban Penganiayaan Andi akbar saputra beberapa waktu lalu, dan kasus sangkaan penganiayaan tersebut telah di tangani untuk dilakukan penyelidikan oleh mapolsek setempat.

‎” Ya kini terduga pelaku JN telah diamankan sejak pekan lalu, saat ini telah dititipkan ke Mapolres Tuba sebab untuk sementara ruang tahanan Mapolsek Tumijajar belum ada tempat khusus wanita.”  Imbuhnya (Dirman) ‎