Kakon Sukaagung Barat: Tersangka adalah Anak ke-2 Korban

PASRAH JALANI HUKUMAN: Sanwani (34) hanya bisa pasrah menjalani hukuman atas perbuatannya menghabisi nyawa ayah kandungnya, Saliman (60). (Foto-foto: HUMAS POLRES TANGGAMUS)

TRANSLAMPUNG.COM, TANGGAMUS – Tragedi berdarah anak membunuh ayah kandungnya di Dusun Leweung Kolot, Pekon Sukaagung Barat, Kecamatan Bulok, Kabupaten Tanggamus ini, menarik untuk didalami.

Ini menarik, baca juga: Polisi Belum Periksakan Kejiwaan Sanwani, Kecuali Ada Permintaan Jaksa

Kepala Pekon Sukaagung Barat, Ahmad Sarif menjelaskan, Sanwani (34) adalah anak ke-2 korban (Saliman), dari sembilan bersaudara. Sementara korban, memiliki cukup banyak kambing peliharaan.

“Sepengetahuan saya selama ini, Sanwani sehari-harinya bertugas mencari ramban (dedaunan untuk makanan kambing). Selain itu, dia biasanya bekerja membeli buah kelapa dari pohon milik warga, kemudian dijual lagi,” ujar Ahmad Sarif.

Kakon Sukaagung Barat itu menambahkan, sampai saat ini, istri korban sekaligus ibu tersangka, masih menempati rumah yang menjadi saksi bisu tragedi berdarah tersebut.

“Bahkan tadi (Selasa) malam juga dilaksanakan yasinan di rumah itu. Rencananya (yasinan) hingga hari ke tujuh,” pungkas Ahmad Sarif. (ayp) 




Polisi Belum Periksakan Kejiwaan Sanwani, Kecuali Ada Permintaan Jaksa

PASRAH JALANI HUKUMAN: Sanwani (34) hanya bisa pasrah menjalani hukuman atas perbuatannya menghabisi nyawa ayah kandungnya, Saliman (60). (Foto-foto: HUMAS POLRES TANGGAMUS)

TRANSLAMPUNG.COM, TANGGAMUS – Menurut polisi, sejauh ini kondisi kejiwaan Sanwani (34) baik-baik saja. Atas dasar itu, penyidik Polsek Pardasuka belum memeriksakan tersangka pembunuh ayah kandung itu ke rumah sakit jiwa. Namun ketika jaksa memintanya, maka polisi akan memenuhi permintaan itu.

Ini menarik, baca juga: Sanwani: “Saya sudah 3 Kali Adu Jotos dengan Bapak, Ini yang ke-4”

Hal itu disampaikan Kapolsek Pardasuka AKP Martono, S.H., M.H., mewakili Kapolres Tanggamus AKBP I Made Rasma, S.I.K., M.Si. Menurut Martono, tersangka belum diperiksa kondisi psikologisnya, karena berdasarkan keterangan keluarga, tersangka tidak pernah mengalami gangguan kejiwaan.

“Dan hasil pemeriksaan sejauh ini, (psikis) tersangka terlihat sehat. Namun apabila ada petunjuk jaksa meminta tersangka diperiksa kejiwaannya, maka kami siap memenuhinya,” tegas Martono.

Kapolsek juga menjelaskan, dalam perkara tersebut sejumlah saksi telah diperiksa. Turut diamankan pula sebilah golok sepanjang 40 cm yang masih ada lumuran darahnya. Kemudian baju dan celana Saliman yang juga berlumuran darah.

GOLOK MAUT: Inilah sebilah golok sepanjang 40 cm yang digunakan Sanwani (34) mencabut nyawa ayah kandungnya, Saliman (60).

“Untuk pemeriksaan saksi, sudah dua saksi yang kami periksa. Kemudian akan diperika saksi lainnya, yaitu adik korban, yang pada saat itu ada di TKP,” tutur Martono.

Akibat sabetan golok sang anak, Martono menambahkan, korban mengalami luka tusuk di ulu hati dan dada bagian kanan. Kemudian daun telinga sebelah kiri hampir putus dan luka di punggung bagian bawah.

“Guna proses (hukum) selanjutnya, kini pelaku sudah mendekam di ruang tahanan Mapolsek Pardasuka,” tandas kapolsek.

Untuk diketahui, jenazah ayah tersangka sudah dimakamkan di pemakaman keluarga Dusun Leweng Kolot, Pekon Sukaagung Barat. Tepatnya delapan jam setelah ditemukan meninggal di dalam rumah akibat berkelahi dengan anak kandungnya sendiri, Senin (11/12) pagi. (ayp) 




Sanwani: “Saya sudah 3 Kali Adu Jotos dengan Bapak, Ini yang ke-4”

PASRAH JALANI HUKUMAN: Sanwani (34) hanya bisa pasrah menjalani hukuman atas perbuatannya menghabisi nyawa ayah kandungnya, Saliman (60). (Foto-foto: HUMAS POLRES TANGGAMUS)

TRANSLAMPUNG.COM, TANGGAMUS – Kebrutalan Sanwani (37) mencabut nyawa ayah kandungnya, Saliman (60), membuat dirinya menjadi trending topic di tengah masyarakat Tanggamus dan sekitarnya. Kendati demikian, pengakuan tersangka di hadapan penyidik Polsek Pardasuka, cukup mencengangkan.


Ini menarik, baca juga: Ancaman Hukuman Mati Menanti Sanwani

Pasalnya, ayah dua anak itu dengan gamblang mengakui, dalam kurun beberapa tahun belakangan ini, kerap terjadi adu jotos antara ia dengan ayahnya. Sering yang jadi pemicunya, adalah perilaku kasar sang ayah yang kerap memukuli ibu tersangka.

“Terus terang pak, saya merasa jengkel saat ibu dipukuli bapak. Beberapa tahun belakangan ini, saya sering berantem dengan bapak. Seingat saya sudah tiga kali, tapi tangan kosong. Nggak sampai pakai senjata tajam begini,” lirih Sanwani di hadapan petugas.

Tersangka menjelaskan, dirinya sudah punya keluarga sendiri. Sejak kelahiran anak pertama, Sanwani mengakui sudah sering berkelahi tangan kosong dengan Saliman. Awalnya lantaran Sanwani tak terima melihat ibunya sering dipukuli korban.

“Saya nggak terima bapak mukulin emak. Saya lawan bapak. Terus bapak ambil golok sambil lari. Kemarin kali ke-4 saya berantem dengan bapak. Tapi memang saya yang bawa golok,” tutur pria berkumis tebal itu.

Atas kejadian tersebut, tersangka mengaku sangat menyesal. Emosi dan khilafnya itu menyeretnya ke ruangan jeruji besi dan membuat ayahnya meninggal.

“Saya sangat menyesal pak. Saya akan bertobat,” lirih Sanwani lagi.

Kapolsek Pardasuka AKP Martono, S.H., M.H. juga menyempatkan memberikan wejangan pada Sanwani. Tujuannya agar tersangka bertobat dan mendoakan ayahnya, semasa tersangka menjalani hari-harinya di balik jeruji besi.

“Bertobat ya dan jangan lupa doakan almarhum ayahmu,” ucap kapolsek yang dibalas dengan isyarat anggukan oleh tersangka. (ayp) 




Ancaman Hukuman Mati Menanti Sanwani

PASRAH JALANI HUKUMAN: Sanwani (34) hanya bisa pasrah menjalani hukuman atas perbuatannya menghabisi nyawa ayah kandungnya, Saliman (60). (Foto-foto: HUMAS POLRES TANGGAMUS)

Tersangka Pembunuh Ayah Kandung di Kabupaten Tanggamus

TRANSLAMPUNG.COM, TANGGAMUS – “Setiap aksi pasti ada konsekuensi”. Aksi keji Sanwani (34) mencabut nyawa ayah kandungnya, Saliman (60), berpeluang besar memunculkan ganjaran besar untuk Sanwani. Menurut polisi, sanksi berat berupa hukuman mati, menanti ayah dua anak itu.

Tragedi Senin (11/12) pagi nyawa seorang ayah melayang di tangan darah dagingnya sendiri, masih hangat menjadi buah bibir masyarakat  Kabupaten Tanggamus dan sekitarnya. Rumah semi permanen, setengah bata merah setengah papan di Dusun Leweung Kolot, Pekon Sukaagung Barat, Kecamatan Bulok, menjadi saksi bisu perkelahian berdarah Sanwani versus Saliman. Anak lawan ayah kandung.

Ini menarik, baca juga: DIDUGA PASAL UANG, WARGA BULOK BUNUH AYAH KANDUNG

Kapolsek Pardasuka AKP Martono, S.H., M.H. menegaskan, Sanwani telah berhasil ditangkap di Pekon Wargomulyo, Kecamatan Pardasuka. Tepatnya di rumah pamannya. Tersangka sempat kabur, sesaat setelah membunuh ayah kandungnya.

“Pelaku ditangkap di Pekon Wargomulyo, Kecamatan Pardasuka. Ia kabur menggunakan sepeda motor. Saliman awalnya hanya bermaksud melerai cekcok antara pelaku dengan ibunya, perihal pembagian uang muka pembayaran penjualan sepeda motor. Namun amarah pelaku justru semakin memuncak hingga berujung pembunuhan pada Selasa (11/12) pagi,” ketik Martono dalam pesan WhatsApp, mewakili Kapolres Tanggamus AKBP I Made Rasma, S.I.K., M.Si.

Amarah telah sepenuhnya menguasai pikiran dan membuat tersangka gelap mata. Tanpa rasa iba, sang anak dengan brutal menusukkan golok ke arah perut ayahnya yang sudah berusia senja. Dengan membabi-buta, Sanwani juga mengayunkan golok ke arah leher Saliman, yang selama ini membesarkan dan menyekolahkannya.

“Pelaku kami tangkap tiga jam pascakejadian, yaitu sekitar pukul 09.00 WIB,” tulis Kapolsek Pardasuka.

Berdasarkan penyelidikan dan pemeriksaan saksi-saksi, Martono melanjutkan, tragedi berdarah itu berakar dari Saliman (korban) yang menjual motor tersangka kepada keponakan korban. Pembayarannya dilakukan dengan cara dicicil. Dengan  down payment (DP) sebesar Rp1,6 juta. Kemudian Rp1 juta diambil oleh istri korban yang tak lain adalah ibu tersangka. Lalu yang Rp600 ribu, diberikan kepada tersangka.

“Mungkin di situlah tersangka merasa kesal, sehingga terjadi perdebatan mulut antara pelaku dengan ibunya. Perdebatan pagi-pagi itu, didengar oleh korban. Niatnya, korban hanya untuk melerai. Namun keributan bertambah panas. Tanpa prikemanusiaan, golok yang telah disiapkan pelaku, ditusukkan ke perut korban. Lalu diayunkan ke leher dan mengenai kepala ayahnya,” jelas Martono.

TERANCAM DIJERAT PASAL 338 JUNTO PASAL 340

SAAT ini, tersangka berikut barang bukti sebilah golok berlumur darah, telah diamankan di Mapolsek Pardasuka. Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, menurut kapolsek, tersangka terancam dijerat Pasal 338 junto Pasal 340 KUHPidana.

“Bisa dijerat Pasal 338 junto Pasal 340 KUHPidana, dengan ancaman hukuman mati. Sebab golok maut tersebut telah sengaja disiapkan dan dibawa pelaku dari rumahnya, saat ia mendatangi rumah ayahnya yang tak jauh dari rumah pelaku,” tandas Martono. (ayp)




DIDUGA PASAL UANG, WARGA BULOK BUNUH AYAH KANDUNG

OLAH TKP: Personel Polsek Pardasuka Olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) pembunuhan ayah oleh anak kandung sendiri, di Dusun Leweung Kolot, Pekon Sukaagung Barat, Kecamatan Bulok, Selasa (11/12) pagi. (Foto-foto: IST)

TRANSLAMPUNG.COM, TANGGAMUS – Tragedi seorang anak diduga menghabisi nyawa ayah kandungnya dengan keji, terjadi di Dusun Leweung Kolot, Pekon Sukagung Barat, Kecamatan Bulok, Kabupaten Tanggamus. Peristiwa tewasnya Saliman (60) di tangan anak kandungnya sendiri, Sanwani (37), terjadi Selasa (11/12) sekitar pukul 06.00 WIB.

Kasat Reskrim Polres Tanggamus AKP Edi Qorinas, S.H., mewakili Kapolres AKBP I Made Rasma, S.I.K., M.Si. membenarkan pembunuhan ayah oleh anak kandung itu. Namun ketika ditanya lebih dalam soal motif yang melatarbelakangi tersangka sampai hati menghabisi nyawa ayah kandungnya dengan keji, Edi Qirinas mengaku belum tahu.

“Motifnya apa, kami belum tahu. Masih kami tangani. Tapi peristiwa itu benar terjadi. Tersangka yang tidak lain adalah anak kandung korban, sempat kabur sesaat setelah kejadian. Namun sudah berhasil diamankan anggota Polsek Pardasuka, Kabupaten Pringsewu,” jelas kasat reskrim di ruangannya, Selasa sore.

Menindaklanjuti kejadian ini, Edi Qorinas menyebutkan, polisi sudah mengumpulkan keterangan dari dua saksi. Yaitu Nastur (30) dan Andrianto (19). Keduanya warga dusun setempat. Dan Andrianto juga masih berkerabat dengan korban dan tersangka.
“Selain keterangan dua saksi, kami juga masih mendalami keterangan tersangka di Polsek Pardasuka,” kata mantan Kapolsek Wonosobo itu. (*)

POLISI BELUM PASTIKAN KONDISI KEJIWAAN TERSANGKA 

SATU per satu spekulasi ikhwal Sanwani yang tega membunuh ayah kandungnya dengan sadis, mulai bermunculan di kalangan masyarakat. Salah satunya soal kemungkinan kelainan kejiwaan tersangka.

Kasat Reskrim AKP Edi Qorinas pun tak menampik spekulasi itu. Menurut dia, semua kemungkinan bisa terjadi. Namun polisi tidak bisa bekerja berdasarkan kemungkinan. Melainkan harus berdasarkan bukti-bukti yang valid, akurat, dan sah.

SUDAH DIAMANKAN: Sanwani (34) yang diduga menghabisi nyawa ayah kandungnya sendiri, Saliman (60), sudah diamankan di Mapolsek Pardasuka.

“Terkait kemungkinan adanya kelainan jiwa pada tersangka, ya itu bisa saja terjadi. Atau mungkin tersangka adalah pengguna narkoba. Atau dia depresi. Semuanya mungkin. Untuk memastikannya, kami bersama Polsek Pardasuka masih terus mendalami keterangan tersangka,” tutur Edi Qorinas. (*)

DIDUGA DIPICU KEKESALAN TERSANGKA ATAS PEMBAGIAN DP PENJUALAN SEPEDA MOTORNYA

DARI informasi yang berhasil dihimpun, pemicu tersangka gelap mata dan kehilangan akal sehat hingga membunuh ayah kandungnya, diduga lantaran masalah uang semata.

Kabarnya, tersangka kesal dan kecewa pada ayah dan ibunya. Lantaran tersangka hanya mendapatkan Rp600 ribu dari down payment (DP) penjualan sepeda motornya. Sementara total uang muka penjualan sepeda motor tersangka adalah Rp1,6 juta.

“Sebelum kejadian, Pak Saliman menjual motor Sanwani pada ponakannya, yaitu Andrianto. Andrianto membayarnya dengan cara mencicil dan memberikan uang muka Rp1,6 juta.   Dari DP itu, Rp1 juta diambil oleh istri korban sekaligus ibu tersangka. Sisanya Rp600 ribu, diserahkan pada tersangka oleh ibunya,” ujar sumber yang tak ingin namanya disebutkan.

Diduga dari pembagian DP penjualan sepeda motor itulah, tersangka kesal bercampur kecewa. Lantas terjadilah cekcok mulut antara tersangka dengan ibunya yang didengar oleh korban. Kontan korban marah pada tersangka. “Percikan api telah menyambar pertamax”, cekcok mulut antara anak versus ayah kandung itu, berujung tragedi berdarah.

“Sanwani langsung ambil (sebilah) golok. Lalu menusuk bagian perut dan membacok leher bapaknya sendiri sampai meninggal. Setelah itu dia sempat kabur pakai motor Honda Revo,” ungkap narasumber. (ayp) 



ZK Tuding Evin BHP “Ilegal” dan Melecehkan Kinerja Kakon

DIAMANKAN: Sepucuk airsoft gun beserta peluru gotri milik Kakon Sukadamai, ZK (50), yang diduga digunakan untuk menembaki Evin Nopendra. (Foto: HUMAS POLRES TANGGAMUS)

TRANSLAMPUNG.COM, TANGGAMUS – KETIKA dikonfirmasi via telepon seluler, Kakon Sukadamai ZK yang kini berstatus sebagai terlapor, mengakui bahwa dirinya khilaf sampai menembaki Evin Nopendra menggunakan airsoft gun-nya. Menurut terlapor, korban sudah melecehkan kinerjanya sebagai seorang kakon.

ZK menjelaskan, pada Minggu (2/12) siang, Evin Nopendra masuk ke Kantor Pekon Sukadamai. Tanpa basa-basi Evin membahas mekanisme penyusunan Rencana Anggaran Belanja (RAB) yang diduga soal pembangunan dari hasil Dana Desa. Menurut ZK, Evin mengklaim bahwa penyusunan RAB seharusnya bisa dilakukan dengan mudah. Bahkan di ”luar kepala”.

Ini menarik, baca juga: POLRES TANGGAMUS AKAN RAZIA SENJATA, JIKA PERLU DOOR TO DOOR

”Menurut saya, dia (Evin, Red) sudah melecehkan kinerja kakon. Padahal dia bukan Ketua Badan Hippun Pemekonan (BHP). Bahkan dia itu BHP ‘ilegal’,” tuding ZK namun tidak menjelaskan maksud tudingannya tentang BHP “ilegal”.

Sesudah itu, Minggu malam, ZK secara tidak sengaja bertemu dengan Evin Nopendra yang sedang mengobrol dengan tiga warga di tepi jalan Pekon Sukadamai.

”Jujur saja, emosi saya nggak ketahan lagi. Langsung saya khilaf dan menembaki dia. Tapi terus terang saya nggak ada rencana. Saya nggak tahu berapa peluru yang sudah saya tembakkan. Karena airsoft gun itu, ada peluru atau kosong, tetap ada suara letusannya,” beber kakon kelahiran Sukabanjar 19 Maret 1959 silam itu.

Saat dikejar dengan pertanyaan terkait dirinya yang sempat memukul saat Evin duduk di motor sebelum penembakan terjadi, ZK membantahnya.

Nggak ada saya mukulin dia,” ujar ZK.

Perihal dirinya yang sudah dipanggil ke Polsek Talangpadang, ZK juga tetap berkelit. Alih-alih mengakui kesalahannya, ZK justru dengan bangga mengatakan bahwa dirinya bermitra dengan Polsek Talangpadang.

Nggak, saya ngobrol-ngobrol saja dengan Kapolsek (Talangpadang). Biasa itu, kami kan bermitra dengan polsek,” bantah ZK. (ayp)




Polres Tanggamus akan Razia Senjata, Jika Perlu Door to Door

Kasat Reskrim Polres Tanggamus, AKP Edi Qorinas, S.H.

TRANSLAMPUNG.COM, TANGGAMUS – Sebagai langkah preventif dan preemtif peristiwa serupa, Kasat Reskrim Polres Tanggamus AKP Edi Qorinas, S.H. menegaskan, pihaknya akan melakulan upaya penertiban kepemilikan senjata. Bahkan jika diperlukan, polisi akan melakukan razia door to door. Tak hanya razia di jalanan.

Ini menarik, baca juga: SENJATA SUDAH DISITA POLISI, ZK TERANCAM TERJERAT PERKAP NO. 5 TAHUN 2018

”Hal ini harus kami tindak tegas. Namun awalnya kami akan sosialisasi pada masyarakat. Ketika sosialisasi tak diindahkan, kami akan tindak tegas. Karena untuk memiliki senjata jenis apapun, ada kategori dan aturannya. Tidak bisa sembarangan. Bukan hanya senjata api. Tapi itu berlaku juga terhadap senjata jenis airsoft gun atau paintball. Dan izin resminya hanya dikeluarkan oleh Polri,” tegas mantan Kapolsek Rumbia itu.

Untuk diketahui, peristiwa oknum kepala pekon di Kabupaten Tanggamus yang mengintimidasi warganya menggunakan senjata, bukan kali pertama ini terjadi. Sebelum peristiwa Evin Nopendra versus Kakon Sukadamai ini viral di media sosial Facebook hingga ditangani polisi, jauh lebih dulu peristiwa oknum Kakon Ketapang, Kecamatan Limau yang mengintimidasi warganya menggunakan senjata. Namun ending dari perkara itu, hingga kini tak ada yang tahu.

Dari kondisi itu, kuat kemungkinan masih ada oknum-oknum kakon di wilayah Kabupaten Tanggamus yang diduga memiliki senjata. Hal itu menjadi “PR” bagi seluruh aparat penegak hukum, terutama penertiban kepemilikan senjata. (ayp)




Senjata sudah Disita Polisi, ZK Terancam Terjerat Perkap No. 5 Tahun 2018

DIAMANKAN: Sepucuk airsoft gun beserta peluru gotri milik Kakon Sukadamai, ZK (50), yang diduga digunakan untuk menembaki Evin Nopendra. (Foto-foto: HUMAS POLRES TANGGAMUS)

TRANSLAMPUNG.COM, TANGGAMUS – Perihal senjata milik Kakon Sukadamai ZK, Kasat Reksrim Polres Tanggamus AKP Edi Qorinas, S.H. belum dapat memastikan jenisnya. Namun sementara diduga berjenis airsoft gun dengan peluru gotri. Setelah laporan Evin Nopendra, airsoft gun milik ZK, menurut Edi Qorinas, telah disita oleh Polsek Talangpadang.

”Belum jelas (jenis) senjatanya. Tapi sepertinya airsoft gun. Sudah diamankan di polsek,” ujar mantan perwira Tim Resmob Polda Lampung itu.

Terkait regulasi kepemilikan senjata airsoft gun, mantan Kapolsek Rumbia itu menegaskan, pemiliknya bisa diganjar dengan aturan baru. Yaitu Peraturan Kapolri (Perkap) Nomor 5 Tahun 2018 tentang Pengawasan dan Pengendalian (Wasdal) Replika Senjata Jenis Airsoft Gun dan Paintball.

Ini menarik, baca dari awal: OKNUM KAKON SUKADAMAI DIDUGA TEMBAKI WARGANYA, POLISI JAMIN PROSES HUKUM BERLANJUT

”Regulasi (airsoft gun) diatur dalam aturan baru, yaitu Perkap No. 5 Tahun 2018. Bukan lagi diatur Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 tentang Senjata Api dan Senjata Tajam,” jelas Edi Qorinas.

Dalam Perkap No. 5 Tahun 2018 itu, kasat reskrim menegaskan, meskipun hanya berjenis airsoft gun, namun izin kepemilikannya harus tetap berasal dari Kepolisian Republik Indonesia (Polri). Bukan hanya izin dari organisasi yang menaungi komunitas atau penghobi menembak dan berburu.

”Selama ini, pemilik airsoft gun cukup memegang izin dari organisasinya. Misalkan dari Perbakin. Tetapi dengan terbitnya Perkap No. 5 Tahun 2018 ini, izin dari Perbakin atau organisasi tembak lainnya, sudah tidak berlaku lagi. Sebab pemilik airsoft gun harus memiliki izin langsung dari Polri. Jadi ZK bisa terjerat dengan perkap yang baru ini,” tandas Edi Qorinas yang pernah menjabat Kapolsek Seputihmataram.

Peraturan Kapolri ini mengatur pengendalian replika senjata jenis airsoft gun (meliputi laras pendek, laras panjang, atau jenis lain dalam kategori airsoft gun) dan paintball (meliputi laras pendek dan panjang), mengenai kegiatan pemasukan dan pengeluaran kembali (impor dan re-ekspor) senjata jenis airsoft gun dan paintball yang akan mengikuti pertandingan/permainan di Indonesia. Dan kemudian dikembalikan ke negara asal, setelah selesai pertandingan/permainan.

Peraturan ini mempunyai tujuan untuk mewujudkan tertib administrasi, pengawasan, dan pengendalian terhadap replika senjata airsoft gun dan paintball, serta memberikan perlindungan hukum kepada pemilik izin, yang dilaksanakan dengan prinsip legalitas, akuntabilitas, transparan, dan nesesitas.

Sanksi bagi pemegang dan pengguna replika senjata jenis airsoft gun dan paintball yang melakukan penyalahgunaan dan penyimpangan izin atau menjadi tersangka dalam suatu tindak pidana, wajib mneyerahkan replika senjata untuk disimpan di Gudang Polri. Lalu surat izin kepemilikan dan penggunaan, dicabut dan tidak dapat diberikan pengantian surat izin kepemilikan, serta replika dapat dimusnahkan berdasarkan persetujuan pemilik barang. (ayp)




Oknum Kakon Sukadamai Diduga Tembaki Warganya, Polisi Jamin Proses Hukum Berlanjut

Kasat Reskrim Polres Tanggamus AKP Edi Qorinas, S.H.

TRANSLAMPUNG.COM, TANGGAMUS – Polisi menegaskan kasus oknum Kepala Pekon Sukadamai, Kecamatan Gunungalip berinisial ZK (50) yang diduga menembaki salah seorang warganya, prosesnya terus berlanjut. Saat ini kasus tersebut sedang ditangani Polsek Talangpadang dan dalam tahap penyelidikan.

Hal itu ditegaskan Kasat Reskrim Polres Tanggamus AKP Edi Qorinas, S.H. saat ditemui di ruangannya, Kamis (6/12) sore. Dia menjamin, bahwa Polsek Talangpadang terus mengusut tuntas dugaan penembakan oleh oknum kakon terhadap salah seorang warganya.

”Kami pastikan, kasus ini terus ditangani. Tapi kita juga harus hormati dan hargai upaya dari Kapolsek Talangpadang dan jajarannya menangani kasus ini. Sekarang sudah sekitar tiga orang saksi yang sudah dimintai keterangan terkait peristiwa itu. Masih dalam tahap penyelidikan,” tegas Edi Qorinas, mewakili Kapolres Tanggamus AKBP I Made Rasma, S.I.K., M.Si.

Edi Qorinas menjelaskan, korban dalam perkara ini adalah Evin Nopendra (39). Pria beralamat di RT 001 RW 001 Pekon Sukadamai itu, melaporkan Kepala Pekon Sukadamai ZK (50). Dalam Tanda Bukti Laporan (TBL) Nomor: TBL/B-1/325/XII/2018/LPG/RES.TGMS/SEK.TALANG, Senin 3 Desember 2018. Dalam TBL tersebut terlapor menjelaskan, pada Minggu (2/12) sekitar pukul 22.30 WIB terlapor bertemu dengan Matari (Kepala Dusun), Chandra, dan Aminuddin di sekitar jalan raya Pekon Sukadamai. Di situlah terlapor berbincang dengan ketiganya.

TANDA BUKTI LAPORAN: Inilah TBL dari Evin Nopendra (39) terhadap oknum Kakon Sukadamai, ZK (50). (Foto: IST)

Sejurus kemudian, tiba-tiba kakon Sukadamai muncul. Ketika terlapor duduk di motor yang diparkirkan, mendadak pelapor mengeluarkan senjata diduga berjenis airsoft gun dan menembaki korban sebanyak beberapa kali. Korban mengaku kaki kanannya tertembak satu kali dari moncong senjata berpeluru gotri (butiran besi) itu.

Tak berhenti di situ, meski korban sudah dalam kondisi terluka, oknum kakon masih berusaha melayangkan bogem mentah pada korban. Namun korban masih bisa mengelak. Kejadian itulah yang mendasari Evin Nopendra melaporkan ZK ke Polsek Talangpadang.

Menyikapi hal tersebut, Kasat Reksrim Polres Tanggamus menegaskan, Polsek Talangpadang terus menangani perkara itu. Namun Edi Qorinas meminta semua pihak untuk bersabar karena semua ada proses dan tahapannya.

”Sekarang ditangani Polsek Talangpadang dan dalam tahap penyelidikan. Setelah gelar perkara, hasilnya baru menjadi dasar untuk meningkatkan status ke penyidikan. Terlapor memang tidak ditahan, karena proses masih panjang. Tidak bisa sembarangan menahan orang, karena masa penahanan ada waktunya. Namun setelah semua tahap lengkap, baru dilakukan penahanan terhadap terlapor,” tandas mantan Kapolsek Wonosobo itu. (ayp) 




Resmi Bertipe C, RSUDBM Kotaagung Beli 107 Bed Elektronik

TRANSLAMPUNG.COM, TANGGAMUS – Rumah Sakit Umum Daerah Batin Mangunang (RSUDBM) Kabupaten Tanggamus saat ini sudah bertipe C. Untuk menyesuaikan dengan tipe C tersebut, manajemen RSUDBM mengaku telah meng-upgrade beberapa item fasilitas kesehatan untuk pasien. Hal itu merujuk pada standardisasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Kepala Bagian (Kabag) Tata Usaha RSUDBM Andi Firdaus menjelaskan, fasilitas yang sudah di-upgrade sesuai dengan standar Kemenkes RI, antara lain adalah, bed (ranjang tidur) pasien. Sebelumnya adalah bed manual. Namun saat ini sudah menggunakan bed elektronik (modern/otomatis).

”Dengan total bed yakni 107 unit. Berada di ruang perawatan kelas I, II, dan III, serta di ruang bedah,” kata Andi Firdaus, mewakili Direktur RSUDBM dr. Yudi Indarto, Rabu (28/11).

Semua fasilitas kesehatan tersebut, dia menegaskan, dibeli dari Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun anggaran 2018 dengan total Rp2,9 miliar. Semua item sudah berada di RSUDBM sejak Mei 2018. Dan semuanya sudah dilakukan quality control oleh Tim Pemeriksa dari RSUD Batin Mangunang.

”Jadi (fasilitas itu) sudah dinyatakan layak pakai,” tegas Andi.

Ia juga menjelaskan, pembelian fasilitas kesehatan tersebut sudah sesuai standar operasional prosedur (SOP) dan melaluielectronic Catalogue (e-Catalogue) Kemenkes RI. Untuk jumlah bed pasien sendiri, dianggap sudah sesuai dengan kebutuhan. Sebab rumah sakit tipe C, idealnya harus memiliki 107 bed elektronik.

Sebenarnya, dia memaparkan, bantuan DAK 2018 dari Kemenkes RI, totalnya berjumlah Rp3.922 miliar. Akan tetapi yang terserap berdasarkan kebutuhan RSUDBM hanya Rp2,9 miliar. Sisanya yaitu Rp1.022.000.000 tidak lagi bisa digunakan dan akan kembali ke Kas Negara.

”Masing masing item itu perusahaan penyedianya berbeda. Namun semuanya tetap kami beli dari e-Catalogue Kemenkes RI,” beber Andi.

Selain bed pasien, dia menambahkan, ada juga beberapa item fasilitas penunjang lainnya yang disesuaikan dengan tipe RSUDBM. Yaitu sfigmomanometer (alat pengukur tekanan darah) yang sudah digital sebanyak 20 unit, kemudian kursi roda 10 unit, dan kursi tunggu 10 unit. (ayp)