. . .

Cari LPG 3 Kg, Datangi Lapangan Kotaagung Hari Ini

image_print

TRANSLAMPUNG.COM, TANGGAMUS – Sebagai badan usaha milik negara yang membidangi hulu minyak bumi dan gas alam (migas), Pertamina akhirnya merespon jeritan warga Kabupaten Tanggamus soal langkanya liquefied petroleum gas (LPG). Respon yang difasilitasi Pemerintah Kabupaten Tanggamus tersebut, diwujudkan dengan Operasi Pasar (OP) LPG 3 kilogram.

Teknis OP LPG 3 kg sendiri, dilaksanakan pada 10 titik. Pelaksanaannya mulai hari ini (10/9) untuk wilayah Kecamatan Kotaagung. Tepatnya di Lapangan Merdeka Kotaagung. Kemudian secara bergilir mobile ke beberapa kecamatan hingga 17 September mendatang.

Kepala Bagian Perekonomian Setdakab Tanggamus, Suyanto mengatakan, OP LPG dilakukan karena situasi/ketersediaan LPG 3 kg yang kian tidak terkendali. Yakni pada segi harga jual dari harga pasaran serta ketersediaan barang yang sangat sulit didapatkan.

Adapun 10 titik OP LPG, jelas Suyanto, dilaksanakan di Kecamatan Kotaagung, Kotaagung Timur, Kotaagung Barat, Talangpadang, Pugung, Wonosobo, Semaka, Pematangsawa, Gunungalip, dan Gisting. Sasaran utama OP LPG adalah membantu meringankan beban warga yang kurang mampu.

“Sepuluh titik tersebut memang sesuai usulan kami. Sebab di daerah itulah terjadi kelangkaan (LPG) dan harga jual yang melambung tinggi. Setiap satu titik dijatah 560 tabung LPG 3 kg. OP LPG perdana lokasinya di Lapangan Merdeka Kotaagung Senin (10/9) pukul 10.00 WIB. Dan sebagai penutup OP digelar di Kantor Kecamatan Kotaagung Timur pada 17 September mendatang,” terang Suyanto.

Untuk harga, kata dia, tetap mengacu dari harga eceran tertinggi (HET). Setiap kecamatan, berbeda HET-nya. HET yang rendah adalah di Kecamatan Pugung, Gunungalip, Talangpadang, dan Gisting yaitu Rp16.500. Sementara yang tertinggi di Kecamatan Pematangsawa dengan HET Rp17.700.

“OP LPG ini dilakukan secara maraton, mulai dari Senin sampai Senin berikutnya. Kecuali hari Selasa yang merupakan libur nasional. Dan jika masih ada wilayah yang kurang, camat bisa berkirim surat ke Pak Bupati lalu mengajukan usulan ke Pertamina,” tutur Suyanto.

Ia juga menyadari, pada pelaksanaan OP LPG pasti ada saja oknum pengecer nakal yang membeli banyak untuk kemudian dijual kembali. Untuk pengawasan di lapangan, teknisnya diserahkan ke camat dan kepala pekon/lurah.

“Sebagai pemimpin wilayah, pasti camat, kakon/lurah akan lebih memahami situasi di lokasi OP LPG. Pengamanan juga berkoordinasi dengan aparat Polri/TNI agar tidak ada oknum pengecer LPG yang mencoba meraup keuntungan dari OP ini,” tandas Suyanto. (ayp)