Cak Harry, Sarjana Sastra Arab Yang Bergelut di Bidang Pertanian, Produknya Dinamakan JST

0
95
views
Peserts pelatihan melakukan praktek di bengkel bumi, adijaya, lampung tengah

 

Translampung.com, ADIJAYA- Petani bergelut dengan pupuk, kalo menurut petani yang mengikuti pelatihan di Bengkel Bumi tidak lagi. Mengapa? Dalam pelatihan yang bekerjasama dengan SKH Trans Lampung tersebut petani tidak lagi menyebut pendamping tanaman itu sebagai pupuk, tapi jamu. Kok Bisa?
”Kami menyebutnya sebagai jamu sebab pupuk itu sebenarnya tidaklah pas,” terang Cak Harry. Karena diibaratkan jamu itu seperti pada manusia. Dia tidak hanya membuat tubuh lebih baik tapi juga menjadi penyehat tubuh. ”Jadi tidak hanya tanaman yang kita sehatkan tapi juga tanahnya, inilah kelebihan JST,” terang pria yang berdomisili di Jogjakarta ini.
Karena disebut jamu maka bahan bahan yang digunakan juga lumayan familiar di tengah tengah kita. Setidaknya ada 13 bahan yang digunakan untuk membuat jamu tersebut. Mulai dari buah maja, air tebu sampai daun kelor. Memang cukup menggelikan. Ini benar benar terlihat saat mentor memberikan ramuan “jamu” yang akan dibuat.

”Air leri itu apa ya pak,” ujar salah seorang petani. Dijawab mentor jika air leri adalah air bekas mencuci beras. Jujur penulispun sebenarnya saat itu tidak mengetahuinya. Nah yang membuat para petani sumringah semua bahan itu bisa didapatkan dengan mudah di kampungnya.

Salah satu petani yang memberikan kesaksian meski baru menggunakan 60 persen JST dan 40 persen kimia mengatakan jika sebelumnya tebu yang dia kelola hanya menghasilkan 77 ton perhektar sekarang ini bisa 88 ton perhektar. Dari sisi biaya produksi terjadi pengurangan signifikan dari sisi produksi juga ada peningkatan. ”Tahun ini saya akan menggunakan JST 100 persen deh,” ujarnya. (red)