. . .

Bunuh Dua Pelanduk Napu, Kakak Dibekuk Polisi, Adik masih Buron

image_print

TRANSLAMPUNG, TANGGAMUS – Tertangkap tangan sedang mengambil box polyfoam (kotak wadah ikan) yang berisi dua ekor pelanduk napu dalam kondisi mati, SM (40) digelandang ke Mapolres Tanggamus, Selasa (22/1) pagi. Warga Pekon Bandarkejadian, Kecamatan Wonosobo itu tak bisa mengelak saat petugas Satuan Reserse Kriminal Polres Tanggamus bersama Polisi Kehutanan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan memergokinya dengan barang bukti bangkai hewan mirip kancil berukuran kecil yang dilindungi.

Pelanduk napu merupakan mamalia ungulata berteracak genap. Bernama ilmiah Tragulus napu. Dalam dunia internasional dikenal sebagai Greater mouse-deer. Di Pulau Sumatera, hewan ini memiliki nama umum napuh atau napo. Pelanduk napu ini termasuk dalam golongan fauna yang dilindungi berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya. Regulasi tersebut kemudian diperjelas ke dalam Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999.

Kasat Reskrim Polres Tanggamus AKP Edi Qorinas, S.H. didampingi KBO Satreskrim Ipda. Ramon Zamora, S.H.
menjelaskan, tersangka berinisial SM (40) berikut barang bukti diamankan di Pantai Kapuran, Kelurahan Pasarmadang Kecamatan Kotaagung. Saat menangkap tersangka, polisi juga bersama Polhut TNBBS.

“Selain SM, awalnya tim gabungan kami juga mengamankan MU (73) selaku pemilik sekaligus nahkoda perahu. Namun setelah kami dalami,  MU murni hanya dititipi sebuah box polyfoam. Dia juga tidak mengetahui bahwa box itu berisi dua ekor hewan dilindungi yang sudah mati. MU sudah kami kembalikan pada pihak keluarga. Sehingga tersangka tinggal satu orang, yaitu SM,” jelas Edi Qorinas mewakili Kapolres Tanggamus AKBP Hesmu Baroto, S.I.K., M.M.

Saat ini tersangka berikut barang bukti sepeda motor Honda Revo tanpa nomor polisi sudah diamankan di Mapolres Tanggamus guna proses pemeriksaan lebih lanjut. Sementara dua ekor pelanduk napu dititipkan di freezer TNBBS agar tidak rusak.

“Atas perbuatannya membawa hewan yang dilindungi, tersangka dijerat Pasal 21 Ayat 2 huruf b Undang-Undang RI Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem. Dengan ancaman lima tahun penjara,” tegas kasat reskrim.

SM: “Dua Pelanduk Napu Ini dari Adik Saya di Pekon Telukbrak”

LEBIH lanjut Kasat Reskrim AKP Edi Qorinas menerangkan, berdasarkan keterangan tersangka SM, dua ekor pelanduk napu dalam keadaan mati tersebut berasal dari adiknya berinsial TO, warga Pekon Telukbrak, Kecamatan Pematangsawa. Hewan itu sengaja dititipkan pada perahu milik MU untuk dibawa ke Kotaagung. Menurut SM, tujuannya dua pelanduk napu itu akan dikonsumsi seperti layaknya daging kambing.

“Terhadap adik tersangka yang berinisial TO, telah kami tetapkan sebagai buronan Polres Tanggamus,” terang Edi Qorinas.

Tersangka SM mengaku, pelanduk napu dalam keadaan mati tersebut merupakan titipan adiknya (TO). SM di Kotaagung saling berkomunikasi melalui telepon dengan TO yang berada di Pekon Telukbrak. Kemudian TO menyuruh SM mengambil boxpolyfoam di sebuah perahu di Pantai Kapuran.

Saat dirinya selesai mengambil box polyfoam dari perahu dan hendak menaikkannya ke sepeda motornya, tiba-tiba datang petugas memeriksa dan mengamankannya.

“Adik saya bilang lewat telepon, menyuruh saya ke Pantai Kapuran untuk ambil box ini. Baru menaikkan box polyfoam ke motor, tiba-tiba saya diperiksa dan ditangkap,” terang tersangka yang juga mengaku baru kali pertama itu melakukan perbuatan tersebut.


DUA BANGKAI PELANDUK NAPU: Anggota Polhut TNBBS dan petugas Satreskrim Polres Tanggamus menunjukkan barang bukti berupa dua ekor pelanduk napu yang sudah dalam kondisi mati dari penangkapan terhadap SM (40).

TNBBS Pasrahkan Proses Hukum SM pada Polres Tanggamus

ANGGOTA Polhut TNBBS, Samsu Rizal saat penyerahan tersangka SM dan barang bukti ke Mapolres Tanggamus mengaku, sepenuhnya menyerahkan proses kasus ini pada kepolisian. TNBBS juga akan terus berkoordinasi dengan Polres Tanggamus dalam rangka mengawal proses kasus tersebut. Sebab pembunuhan terhadap hewan dilindungi dapat merugikan bahkan merusak ekosistem alam.

“Kami akan terus mengawal kasus tersebut sebagai efek jera masyarakat dan tidak lagi membunuh maupun mengkonsumsi hewan yang dilindungi negara,” tegas Samsu Rizal.

Ia juga mengimbau masyarakat untuk menaati hukum yang berlaku terkait hewan yang dilindungi negara, sehingga tidak terjerat hukum. (ayp)


error: Content is protected !!