Bully Remaja Disabilitas, Empati Mahasiswa Gunadarma Dipertanyakan

0
117
views
Mahasiswa Universitas Gunadarma yang mem-bully remaja berkebutuhan khusus. (Dokumentasi TheNewBikinGregetan)

Translampung.com, JAKARTA- Seorang mahasiswa pria berkebutuhan khusus menjadi bulan-bulanan teman-teman kampusnya. Kejadian itu langsung viral menyebar di akun media sosial TheNewBikinGregetan sepanjang hari sejak Minggu (16/7). Di dalam video berdurasi sekitar kurang dari 1 menit itu terlihat para mahasiswa tertawa terbahak-bahak membully korban.

Video itu langsung memancing reaksi netizen yang mengecam aksi para mahasiswa. Tertulis di video itu aksi dilakukan oleh mahasiswa Universitas Gunadarma di dalam kampus. Para mahasiswa juga menarik tas korban hingga menertawakannya. Di akhir video, karena kesal, korban pun melemparkan tong sampah ke arah para pelaku. Belum ada keterangan resmi dari pihak rektorat terkait kejadian ini.

Psikolog Klinis Liza Marielly Djaprie menyesalkan kejadian tersebut. Para pelaku yang menyandang status mahasiswa memberi keteladanan yang buruk kepada juniornya dengan melakukan bully kepada mahasiswa berkebutuhan khusus. Hal itu menodai semangat pendidikan inklusi yang digaungkan pemerintah.

“Betul (menodai) pendidikan inklusi. Mengapa ya saat ini makin hari makin kemari, anak muda semakin bertindak seperti itu apa ya?,” tegasnya seperti, Minggu malam (16/7).

Liza menilai pelakunya yang merupakan mahasiswa tak memiliki daya empati terhadap orang lain dan terhadap sesama apalagi kelompok yang berbeda. Kondisi itu, kata dia, semakin mengkhawatirkan.

“Ke mana rasa empati terhadap orang lain yang berbeda dengan kita? Ini mengkhawatirkan. Sama ketika ada anak kecil dalam pawai yang berteriak bunuh Ahok,” tukasnya.

Liza menilai, perilaku mahasiswa itu sama halnya dengan perilaku anak kecil di video pawai tersebut yang tak bisa memandang dan menerima orang yang berbeda baik secara suku, agama, hingga fisik. “Anak-anak kecil, tak diajarkan berempati terhadap semua yang berbeda, sipit, belo, Islam, Kristen, Chinese. Yang berbeda lalu dibunuh atau dibully,” ungkapnya.

Liza menyesalkan lembaga pendidikan kurang mengajarkan dan menanamkan daya empati terhadap sesama. Akibatnya, masyarakat kini sudah mulai terkikis rasa empatinya dan tak ada lagi rasa saling menghargai.

“Enggak semua ditekankan. Yang ditekankan kecerdasan intelektual saja, bukan kecerdasan emosional,” ungkapnya.

Video tersebut juga mendapatkan tanggapan dari Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gunadarma (BEM FIKTI UG) yang berjanji akan menelusuri kasus tersebut. Tak hanya itu, video miris itu juga mengundang reaksi keluarga korban yang merasa sakit hatinya ketika melihat keluarganya diperlakukan seperti itu. Pernyataan itu datang dari kakak korban yang mengungkapkan bahwa ibunya menangis melihat tayangan itu dan akan mendatangi pihak kampus. (jpg)