BRT, Hidup Segan Mati tak Mau

0
103
views

TRANSLAMPUNG, BANDARLAMPUNG – Sebelumnya, Bus Rapid Transit (BRT) menjadi moda transportasi yang bisa dijadikan ikon Kota Bandarlampung. Namun saat ini keadaannya seperti ‘hidup segan mati tak mau’.

Ya, inilah kondisi salah satu transpotasi umum di Kota Tapis Berseri yang terseok-seok, tergerus oleh banyaknya moda transportasi baru, seperti tranportasi online yang kini merajai jalanan.

Dari pantauan, sangat sulit menemukan bus bewarna hijau tesebut, hampir 20 menit menunggu di Halte, BRT baru tiba.
Kondisi di dalam bus pun juga terlihat miris, hanya beberapa penumpang yang ada di dalam BRT itu.

Anton, Sopir BRT trayek Rajabasa -Sukaraja mengaku sudah beberapa bulan ini jumlah penumpang tak sebanyak dulu lagi, bisa di hitung dengan jari. Dia mengeluhkan turun drastisnya penumpang hampir mencapai 70 persen.

“Sangat susah mas saat ini pendapatan kita, jangankan untung, untuk setoran saja sangat susah, kalau perhari syukur-syukur bisa capai Rp100 ribu per harinya, “ujar Anton, Senin (11/9).

Ia menjelaskan, susahnya pendapatan ini dikarenakan persaingan tidak hanya tranportasi umum, namun online seperti Gojek, bahkan Gocar.
“Lihat saja saat ini, pelajar saja patungan untuk naik Gocar, sudah jarang naik bus sama Angkot lagi,”katanya.

Direktur Utama BRT Trans Bandar Lampung, I Gede Jelantik, mengakui, saat ini kondisi BRT memang sedang kesusahan, namun pihaknya harus tetap berjuang untuk bertahan.
“Kami kesusahan, namun saat ini kami memang harus bertahan diantara gempuran transpotasi online dan lainnya. Hal ini demi keberlangsungan karyawan yang ada saat ini,” ungkap Jelantik.

Ia menjelaskan, saat ini BRT hanya tersedia 96, dari yang dulunya 250 bus. Kemudian untuk jurusan transportasi, saat ini hanya tinggal 3 saja, yakni Rajabasa-Panjang, Rajabasa – Kopri, dan Rajabasa – Sukaraja.

“Dulu memang kami ada 8 jurusan, namun saat ini tinggal 3, begitupun bus walaupun ada 90 an, tapi yang beroperasi tidak sampai segitu,” tandasnya.

Ia pun mengharapkan, kebersamaan pemerintah setempat untuk membantu BRT agar tetap bertahan, salah satunya regulasi tentang tranportasi umum.

“Seperti pengaturan zonasi, dan komitmen daerah setempat untuk menindak tegas transportasi online yang tak ada izin ,”tandasnya.

Berbeda dengan pernyataan Directur BRT, Kepala Bidang (Kabid) Angkutan Darat Dinas Perhubungan (Dishub ) Bandar Lampung, Ricardo, bahkan mengatakan jumlah BRT jauh merosot, yakni saat ini beroperasi tinggal 30 an.

“Kalau dari pendataan izin yang masuk ke kami, Jumlah BRT hanya mencapai 30 an yang beroperasi resmi di Bandar Lampung,”ujar Aldo sapaan akrabnya.
Terkait dengan bantuan pemerintah, saat ini Dishub tidak bisa berbuat banyak, terlebih untuk melakukan subsidi.

“Kami belum bisa berkomentar untuk subsidi,”ungkapnya.
Saat ini, sambung dia, Pemkot bersama DPRD setempat masih fokus terhadap Raperda Tranportasi Umum.

“Sehingga dalam Raperda itu, bisa mengatur terkait dengan jalannya transpotasi umum Bandarlampung ke depannya,” tandasnya. (jef)