. . .

BPPRD Bandarlampung Kecewa, Masih Banyak Pengusaha yang Belum Sadar dalam Pembayaran Pajak

image_print

TRANSLAMPUNG.COM, BANDARLAMPUNG – Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah (BPPRD) BandarLampung, Kecewa masih banyaknya Pengusaha yang belum sadar dalam pembayaran pajak, dan kerap melakukan kelicikan dalam bertransaksi.

Dalam acara rapat kegiatan sosialisasi peningkatan pendapatan pajak daerah melalui pemasangan tapping box, Rabu (7/11) di ruang Tapis Berseri Pemkot setempat.

Kepala BPPRD Yanwardi menerangkan, peserta sosialisi ini adalah intern dari BPPRD dan UPT pajak Kecamatan. Ia mengatakan dengan sosialisasi ini diharapkan PAD Bandarlampung bisa mencapai target baik tahun ini maupun tahun mendatang.

“Insha Allah sampai target PAD. Sudah dilihat pajak hotel sudah mencapai 90 persen sampai hari ini, dari Rp 21 M target. Pajak hiburan sudah Rp15 M dari Rp21 m jadi sudah 89 persen,” terang Yanwardi.

Mengenai kendala, Yanwardi mengatakan saat ini masih alasan klasik, alasan wajib pungut pajak (wp) yang tidak mau dipasang tapping box dan bagaimana alat ini tidak berfungsi.

“Contoh mobile pos ini kan harus santai, lembut makainya, kalau dipencet kuat-kuat ya rusak, komputer ancur. Terus lapor alasan nggak mau cetak struknya, begitu kertas abis nggak bisa cara masangnya, kan aneh,” katanya.

“Satu contoh lagi Mbok Wito Jl. Sudirman, sudah dipasang, alatnya bagus, peningkatan bagus, malah beli alat komputer cash register baru. Ini kan mengakali kalau seperti ini, kami juga nggak mau kehilangan akal,” sambungnya.

Selain RM Mbok Wito, Yanwardi juga mengungkapkan kekesalan terhadap Restoran LG yang berada di kawasan Pahoman, Enggal, Bandarlampung, pasalnya pihak Restoran kerap mematikan Mesing Tapping Box.

“Nakal Restoran LG itu sering mati-matiin sistem Tapping box itu,  alasanya klasik kesel saya, ini kan program pusat langsung, jangan main main lah,” tegasnya.

Ia juga menyebutkan, saat ini pihaknya sudah menyiapkan surat edaran untuk disampaikan ke wp yang sudah terpasang tapping.  Pihaknya akan melakukan opname kas (audit) apabila ada yang tidak menggunakan alat tapping yang sudah terpasang, sebab akan langsung ketahuan oleh BPPRD.

“Kami akan menyita alat itu kalau memang masih juga tidak digunakan. Ini kan progran KPK, tidak bisa main-main dengan ini,” paparnya.

“Kami juga mengimbau masyarakat agar mengawasi itu, lihat itu ketika makan, kan udah dipotong 10 persen uang kita. Apabila tidak masuk tapping, masuk ke mereka uang itu, gk masuk ke pemda, bisa kaya sendiri dia makan uang masyarakat. Bisa segera dilaporkan, karena memang perlu pengawasan kita semua,” tandasnya.

Sementara, Owner Restoran LG, Aloy mengungkapkan bahwasannya pihaknya mengaku dalam pemasanagn Tapping box pihaknya merasa sedikit kesulitan, pasalnya mesin yang berhubungan dengan wifi langsung tersebut sulit di gunakan.

“iya ini kan wifi kita yang digunain, kaya kemarin wifi kita mati mesin mati, gimana ya sulit juga loh sayanya ini, terus ada sodara saya makan enggak enak kalo saya mau ambil uang nya, itu aja sih masalahnya,” ucap Aloy.

Dan juga, lebih dalam pihaknya mengaku bukan hanya Restoran miliknya yang berlaku seperti tersebut, “banyak lah mba yang kaya kita ini, bukan kita aja, kok kita terus yang disorot-sorot, namanya kalo sepi gimana,” jelasnya. (jef)