. . .

Bocah Empat Tahun Terlepas dari Gendongan Ibu, Ditemukan Meninggal di Halaman Vila

image_print
DISEMAYAMKAN: Jenazah Neni Muriati (4) korban gelombang tsunami di Pekon Kiluan Negeri disemayamkan sebelum dimakamkan Minggu (23/12) pagi. (Foto-foto: DOK BPBD TANGGAMUS)

Dari Cerita Pilu Tragedi Hempasan Gelombang Tsunami di Pekon Kiluan Negeri

DUKA tak terperi masih terus menggelayut di pelupuk mata dan hati Musahid dan Sumiati. Pasangan suami-istri asal Pekon Kiluan Negeri, Kecamatan Kelumbayan, Kabupaten Tanggamus itu, seakan masih tak percaya, putri mereka, Neni Muriati meninggal dunia akibat hempasan gelombang tsunami Sabtu (22/12) malam. Terekam jelas pada memori Sumiati, buah hatinya yang baru berusia empat tahun itu, ia dekap sekuat tenaga dengan dua tangannya untuk menyelamatkan diri. Namun Tuhan berkehendak lain. Saat terjangan gelombang datang menghempas pintu rumah mereka, Neni terlepas dari gendongan Sumiati. Miris, setelah ditemukan, bocah perempuan hanya tinggal nama. 

Laporan Albertus Yogy, TANGGAMUS

ALAM dan misteri kekuatan yang tersimpan di dalamnya, terkadang bisa menjadi sahabat. Namun tak jarang, alam pula dengan ganas merenggut banyak nyawa. Tanpa ampun, tanpa memilih siapa korbannya. Pria atau wanita. Anak-anak, remaja, orang tua, atau lanjut usia. Miskin atau kaya. Pejabat atau jelata. Entah siapa yang harus disalahkan. Tsunami datang tanpa permisi. Bocah empat tahun harus mendahului dua orang tuanya kembali ke pangkuan Sang Khalik.

Selat Sunda bergejolak Sabtu (22/12) malam. Pihak terkait pun sempat terkecoh dan menegaskan, gelombang pasang itu hanyalah dampak siklus astronomi tahunan spring tide.Namun jauh di dasar Selat Sunda, gelombang pasang itu ternyata akibat erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK). Korban jiwa, korban luka, dan nama-nama yang tubuhnya belum ditemukan, terus bertambah. Indonesia menutup tahun 2018 dengan isak-tangis dan jerit histeris.

Selain di pesisir Kabupaten Lampung Selatan dan Provinsi Banten, tiga dusun di Pekon Kiluan Negeri, Kecamatan Kelumbayan yang berada di garis pantai ujung Kabupaten Tanggamus, tak luput dari terjangan gelombang tsunami. Kedamaian dan keindahan Teluk Kiluan yang dikelilingi Dusun Sinarmaju, Sinaragung, dan Bandungjaya, dalam seketika berubah menjadi pemandangan mengerikan, sekitar pukul 21.00 WIB. Termasuk senyum dan keceriaan Neni Muriati bin Musahid, turut tertelan gulungan ombak.

Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tanggamus Ns. Maryani, membenarkan bahwa tiga dusun di Pekon Kiluan Negeri turut menjadi korban gelombang tsunami erupsi GAK di Selat Sunda. Ia tak menampik, awalnya gelombang pasang itu diduga hanya fenomena banjir rob seperti yang terjadi dua tahun silam. Warga sekitar pesisir pun menanggapi dengan santai. Namun siapa sangka, dalam hitungan detik, gelombang yang diduga hanya fenomena pasangnya permukaan air laut itu, mendadak menjelma menjadi “monster” tsunami.

“Dugaan fenomena banjir rob ternyata salah. Gelombang pasang datang dengan deras. Merusak sejumlah bangunan. Bahkan satu anak perempuan usia empat tahun, dilaporkan meninggal dunia akibat terjangan gelombang,” ujar Maryani melalui sambungan ponsel Minggu (23/12) sore, mewakili Kepala BPBD Tanggamus Romas Yadi.

Dari penuturan warga di lokasi, kata Maryani, setelah terjangan ombak yang pertama, laut tenang dan bahkan malah surut. Setelah itu gelombang ombak datang lagi. Itu berulang sampai tiga kali. Sehingga masyarakat berhamburan menyelamatkan diri ke tempat lebih tinggi, seperti wilayah perbukitan.

“Saat gelombang menerjang dengan deras sekitar pukul 21.00 WIB, ayah korban bernama Musahid dan ibu korban bernama Sumiati, sedang berusaha keluar dari rumah dengan membuka pintu rumah. Namun air yang membawa sampah dan kayu, langsung menerjang keluarga itu. Korban Neni Muriati yang baru berusia empat tahun, terlepas dari gendongan ibunya dan hanyut terseret gelombang,” beber Maryani.

Satu jam berselang, lanjutnya, ketinggian gelombang air laut mulai berkurang. Tubuh bocah perempuan itu ditemukan tergeletak tak bernyawa di halaman Vila Bahana. Berjarak sekitar 500 meter dari titik awal terhempasnya Neni Muriati.

“Meninggalnya Neni, memicu sebagian besar warga mengungsi ke perbukitan dan tempat dataran tinggi lainnya. Neni sudah dimakamkan tadi (Minggu) pagi, sekitar pukul 07.00 WIB,” terang Maryani.

Rumah Warga, Dermaga, Shelter, hingga 72 Perahu Rusak Parah

SELAIN menewaskan Neni Muriati (4), menurut Sekretaris BPBD Tanggamus Ns. Maryani, gelombang tsunami juga merusak pemukiman warga Pekon Kiluan Negeri. Rincian sementara, satu rumah hilang, tiga rumah rusak berat, 4 vila/penginapan rusak, 72 perahu rusak berat, serta dermaga dan satu shelter roboh.

“Jumlah penduduk di Pekon Kiluan sebanyak 386 Kepala Keluarga atau setara 1.600 jiwa. Adapun jumlah KK yang mengungsi, di Dusun Sinaragung 60 KK, di Dusun Sinarmaju 34 KK, dan Dusun Bandungjaya 77 KK,” papar Maryani.

BPBD Tanggamus juga meminta warga yang tinggal di sepanjang pesisir pantai, tetap waspada apabila gelombang air laut sudah tinggi. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sudah mengeluarkan peringatan dini terkait gelombang tinggi yang diprediksi hingga 26 Desember 2018.

“Kalau air laut pasang, harus segera waspada dan segera mengungsi ke tempat yang aman,” imbau Maryani.

Melalui Maryani, Bupati Tanggamus Hj. Dewi Handajani, S.E., M.M. menyampaikan rasa duka yang mendalam atas musibah tsunami yang terjadi di Pekon Kiluan Negeri, Kecamatan Kelumbayan.

“Ibu Bupati Tanggamus juga memberikan santunan uang duka kepada orang tua Neni Muriati, balita perempuan yang meninggal dunia. Bantuan diserahkan melalui saya, selaku Sekretaris BPBD disaksikan Kepala Pekon Kiluan Negeri, Kadek Sukresene,” tandas Maryani. (***)
error: Content is protected !!