. . .

Berawal dari Telepon, Polres Tanggamus Jaring OTT Oknum ASN Wanita ATR/BPN Pringsewu 

image_print

OTT OKNUM ASN: Kasat Reskrim Polres Tanggamus AKP Devie Sujana (kanan) menjelaskan seputar OTT terhadap oknum ASN wanita berinisial DF (31) yang bertugas sebagai Kasubsie Penetapan Hak dan Pemberdayaan Masyarakat ATR/BPN Kabupaten Pringsewu dengan barang bukti uang tunai senilai Rp2,1 juta dan alat kerja. (Foto: HUMAS POLRES TANGGAMUS) 

TRANSLAMPUNG.COM, TANGGAMUS – Oknum Aparatur Sipil Negara wanita yang bertugas di Kantor Agraria Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional Kabupaten Pringsewu berinisial DF (31), terjaring Operasi Tangkap Tangan (OTT) Unit Tindak Pidana Korupsi Satuan Reserse Kriminal Polres Tanggamus, Jumat (24/3) sekitar pukul 10.30 WIB.

ASN wanita yang menjabat Kasubsie Pemanfaatan Hak dan Pemberdayaan Masyarakat ATR/BPN Kabupaten Pringsewu itu digelandang petugas, lantaran diduga memeras atau melakukan pungutan liar (pungli) pada masyarakat yang hendak mengurus surat-menyurat atau berkas pertanahan.

Kasat Reskrim Polres Tanggamus Ajun Komisaris Polisi Devie Sujana membenarkan OTT terhadap Kasubsie Penetepan Hak dan Pemberdayaan Masyarakat ATR/BPN Kabupaten Pringsewu itu. Dia menjelaskan, DF dijaring OTT saat berada di tempat kerjanya, yang berlokasi di Jalan Pringadi, Kelurahan Pringsewu Utara, Kabupaten Pringsewu.

BARBUK OTT: Inilah barang bukti dari OTT terhadap DF (31), ASN wanita yang bertugas di ATR/BPN Kabupaten Pringsewu pada Jumat (23/3) sekitar pukul 10.30 WIB. (Foto: HUMAS POLRES TANGGAMUS)

“OTT terhadap DF, warga Kelurahan Pringsewu Barat ini, berawal dari aduan via sambungan telepon dari masyarakat yang hendak mengurus surat-menyurat lahannya. Dalam pengaduan itu, disebutkan bahwa ada oknum pegawai ATR/BPN Kabupaten Pringsewu meminta sejumlah uang, jika ingin lancar urusannya,” beber Devie Sujana, mewakili Kapolres Tanggamus AKBP I Made Rasma Jemy Karang, tadi (24/3) sore.

Modusnya, lanjut kasat reskrim, DF mengeruk keuntungan dari jabatannya, terhadap warga yang hendak melakukan pengurusan berkas atau surat-menyurat pertanahan. Seperti balik nama sertifikat tanah atau yang lainnya. Dari informasi melalui sambungan telepon itu, Satreskrim Polres Tanggamus mencoba semaksimal mungkin untuk meresponnya. Dan alhasil, terjadilah OTT Jumat siang terhadap DF.

“Dari OTT terhadap DF ini, kami juga menyita barang bukti berupa uang tunai senilai Rp2,1 juta. Lalu 1 unit notebook, 1 buah buku agenda warna hitam, 1 buah buku kerja warna putih-hijau, 2 unit ponsel, 4 lembar nota dinas Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP), serta 1 buah buku kontrol warna hijau,” papar Devie lagi.

Sampai Sabtu sore ini kasat reskrim menambahkan, pihaknya masih terus mengembangkan hasil OTT itu. Guna mempertanggungjawabkan perbuatannya, Devie menegaskan, DF terancam dijerat Pasal 12 E UU Tindak Pidana Korupsi.

“Dengan hukuman minimal empat tahun dan maksimal duapuluh tahun penjara,” tandas Devie. (ayp)