. . .

Bentrok Pecah! Amien Datang Situasi Memanas, 257 Ditetapkan Tersangka

image_print

TRANSLAMPUNG.COM, JAKARTA – Situasi dan kondisi di Ibukota Negara kian panas. Sejak pukul 20.00 WIB, jumlah massa terus bertambah dan sebarannya kian meluas. Tak terelakan, kerusuhan pecah tepat depan kantor Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu RI), Jakarta, (22/5).
Sekitar pukul 20.15 WIB, massa yang berada di perempatan Bawaslu dan Mandiri Tower mulai melakukan provokasi tepat sebelum pasukan Brimob yang berjaga di depan Bawaslu akan melakukan pergantian barisan depan. Pelemparan batu, botol petasan, dan bom molotov diarahkan ke arah pasukan keamanan.
Pos polisi yang terletak di persimpangan juga terbakar dan terlihat dua tameng polisi berhasil direbut massa. Sejauh ini Polda Metro Jaya menetapkan 257 tersangka yang terlibat aksi kericuhan 21-22 Mei pada tiga daerah berbeda di Jakarta. “Para tersangka diamankan petugas di daerah Gambir, Bawaslu, dan Petamburan,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Argo Yuwono.
Dari tangan pelaku pihak kepolisian mengamankan sejumlah barang bukti seperti HP, cerulit, petasan dan mercon. “Selain di Gambir, polisi juga mengamankan 72 tersangka yang melakukan perlawanan kepada petugas di Kantor Bawaslu serta 166 tersangka di kawasaan Petamburan Jakarta Pusat,” terangnya.
Sementara itu, Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol Gatot Eddy memantau langsung pergerakan massa di kawasan Slipi. Massa yang masih bertahan berada di kawasan Kemanggisan dan Jalan Katamso. Gatot juga memantau anak buahnya yang sedang bertugas dan berbuka puasa. “Saya turun untuk mengawal rekan-rekan di lapangan. Memberikan support dan berupaya mendinginkan situasi,” singkatnya.
Kondisi ini pun mematik reaksi Ketua DPR RI Bambang Soesatyo. Ia mengingatkan kepada aparat keamanan bahwa mereka tidak sedang berperang melawan rakyat ketika menjalankan tugas mengamankan aksi massa.
“Aparat keamanan sedang berusaha menertibkan kebebasan dalam penggunaan hak menyatakan pendapat yang menyimpang dan manabrak undang-undang (UU) dengan cara humanis namun tegas,” kata Bambang dalam keterangan tertulis yang diterima Fajar Indonesia Network (FIN/Group Translampung.com) tadi malam.
Pernyataan itu dikatakannya usai melakukan pengecekan langsung ke Posko Keamanan di kawasan DPR RI untuk memastikan penanganan unjuk rasa berlangsung tertib, aman dan damai. Manurut Bamsoet, dirinya juga ingin memastikan tidak ada aparat yang membawa peluru tajam sesuai instruksi Panglima TNI dan Kapolri.
Ditambahkannya, sesuai penjelasan pihak keamanan, mereka hanya dibekali tiga jenis amunisi yang penggunaannya sesuai tingkatan yang sudah diatur dalam SOP. “Yakni peluru hampa, peluru karet dan gas airmata. Mereka dilarang keras membawa peluru tajam,” ujarnya.
Sebelumnya Politisi senior Amien Rais bersama massa datangi Bawaslu. Ia mengimbau massa yang unjuk rasa memprotes hasil rekapitulasi nasional Pemilu 2019 di depan Gedung Bawaslu untuk tidak melakukan kekerasan. “Jadi saya menyampaikan turut berjuang, tidak ada kata kekerasan, tidak merusak bangunan, tidak menginjak rumput, seperti aksi bela Islam yang sangat indah itu,” ujar Amien Rais.
Massa yang hadir dimintanya menjaga hubungan baik dengan TNI dan Polri yang berada di lokasi. Amien Rais menegaskan kerusuhan yang terjadi pada Selasa (21/5) malam hingga Rabu dini hari justru mencederai demokrasi di Tanah Air.”Saudara sekalian saya tidak bicara banyak, tetapi peristiwa tadi malam sungguh telah merusak anyaman demokrasi kita. Mudah-mudahan yang menembaki itu bukan orang resmi Polri,” tutur Amien Rais.
Ia juga meminta massa mendoakan peserta aksi yang luka-luka dan masih dirawat di rumah sakit. Ada pun aksi massa di depan Gedung Bawaslu RI terpantau kondusif dan tertib. Peserta aksi yang terpusat di persimpangan Jalan M.H. Thamrin dan Wahid Hasyim menyuarakan aspirasi mereka bergantian dengan orasi serta meneriakkan yel-yel dan bertepuk tangan.
Pernyataan Amien Rais ini berbeda dengan apa yang dipaparkan Ketua MPR sekaligus Ketua Umun Partai Amanat Nasional Zulkifli Hasan. “Ini enggak main-main, harus kita bisa rajut kembali, harus kita bisa jahit, harus kita persatukan kembali, barulah itu namanya Indonesia menang,” kata Zulkifli.
Dengan cara apa? Menurut Ketua MPR itu, dengan cara damai, dialog, dan tentu silaturahim seperti yang dilakukannya dengan Presiden Jokowi. Ia meyakini, kalau ketemu, pasti ada solusi, jalan keluar. Tapi kalau tidak, tentu akan sulit. “Jadi sekali lagi, yang menang nanti, Indonesia menang,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu Zulkifli Hasan mengajak semua pihak agar di bulan suci Ramadhan ini, bulan yang harusnya saling menyayangi, saling mencintai, saling membantu, dan saling memberi, kita selesaikan persoalan-persoalan dengan cara yang damai, dengan dialog, menahan diri.
“Demokrasi membutuhkan kesabaran, bahkan ekstra kesabaran. Oleh karena itu, sekali lagi ia mengajak pemerintah untuk bisa menyelesaikan dengan damai, dan juga seluruh rakyat Indonesia juga merespon ini dengan dialog dan silaturahim,” tuturnya.
Ditegaskan Zulkifli, pemilu ini satu event yang tentu harus kita selesaikan. Indonesia akan ada sepanjang zaman, sepanjang masa. Konstitusi sudah memberi jalan. Kita boleh sepakat untuk tidak sepakat. “Demokrasi membuka ruang itu, sepakat untuk tidak sepakat. Konstitusi juga memberi ruang, ada perbedaan, ada sengketa memberi ruang. Kemana, apakah untuk DPD, untuk DPR, untuk Pilpres, MK,” tegas Zulkifli.
Oleh karena itu, lanjut Zulkifli, di MK nanti masing-masing tim bisa menjelaskan segala persoalan yang dihadapi, terbuka. Bila perlu disiarkan oleh media. TKN juga bisa menyampaikan hasil-hasil mereka. KPU juga bisa memaparkan sehingga nanti bisa ditemukan fakta yang betul baru nanti hakim, yang diyakini akan profesional, untuk mengambil keputusan. “Itulah cara-cara yang dibenarkan oleh konstitusi kita,” tutur Zulkifli Hasan. (ful/fin/tnn)

error: Content is protected !!