. . .

BEM Unila: Selamatkan Ekonomi Indonesia

image_print

PROTES: Presiden BEM Muhammad Fauzul Adzim saat berorasi di Bundaran Hajimena, Selasa (3/9). Foto Melida Rohlita/radarlampung.co.id

TRANSLAMPUNG.COM, BANDARLAMPUNG – Badan Eksekutif Universitas Lampung (BEM UNILA) dan sejumlah mahasiswa menggelar aksi turun ke jalan. Hal itudilakukan pasca terjadinya  ketidakstabilan dolar hingga hari ini Selasa (4/9) yang membuat rupiah terpuruk hingga tembus mencapai Rp14.924 yang berdampak pada kestabilan ekonomi Indonesia.

Aksi turun ke jalan tersebut menuntut kepada pemerintah pusat untuk kestabilan ekonomi Indonesia yang dirasa sangat berpengaruh juga pada masyarakat.

Presiden BEM Muhammad Fauzul Adzim yang langsung memberikan komando aksi tersebut di Bundaran Hajimena berujar perkembangan ekonomi menemukan fakta mencengangkan. Menteri Perdagangan yang membuka keran impor yang justru membuat perekonomian Indonesia makin memburuk.

“Disaat Menteri Ditjen pertahanan luar negeri hendak membatasi impor beras dan gula ini justru berbanding terbalik dengan keputusan menteri perdagangan kita yang efeknya bikin ekonomi kita terpuruk,” ujarnya.

Kebijakan yang inkonsistensi ini jelas akan ditetapkan sebagai keputusan yang negatif oleh pasar  pasalnya pertumbuhan ekonomi akan akan berjalan ditempat yaitu 4 persen atau 5 persen.

“Seharusnya pemerintah mampu menyelamatkan atau mengembalikan keadaan perekonomian menjadi normal lagi, dengan melihat keadaan ekonomi makro yang tidak tentu arahnya,” ungkapnya.

Dirinya juga menambahkan terpuruknya rupiah dan terguncangnya perekonomian tidak membuat pemerintah prihatin dimata asing.

“Itu kan terbukti Menteri Koordinator Kemarintiman Luhut Binsar Panjaitan yang mengatakan pemerintah akan menawarkan 15 proyek kepada beberapa pihak asing dengan mendiskusikan harga yang cocokkan itu mempertontokan kelemahan Indonesia dimata dunia,” sebut Fauzul.

Terakhir, dirinya menyebutkan Indonesia semakin kehilangan taring dan pemerintah bukanya menyelamatkan keadaan.

“Malah sibuk hastag merasa takut untuk diganti, sehingga rela membunuh  demokrasi. Sedangkan dengan santai mengabaikan jeritan rakyatnya dan ibu pertiwi,” pungkasnya. (mel/ang/tnn)