Baru 3.000 Anggota AUTP Tercover

TRANSLAMPUNG.COM-Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH) Tanggamus masih menggiatkan Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) dan berharap semua petani padi jadi pesertanya. Saat ini, dinas tersebut mencatat bahwa sebanyak 3.000 petani.

Sekretaris Dinas PTPH Tanggamus Djoko Prabowo mengatakan, sekarang ini pihaknya memang berharap semua petani jadi peserta AUTP. Sebab asuransi itu bantuan pemerintah untuk mengurangi kerugian yang ditanggung petani, apabila gagal panen.

“Kalau bisa semua petani bisa jadi peserta. Apalagi Pemkab Tanggamus juga membantu sharing dana program itu sebagai bentuk perhatian pemerintah daerah kepada petani di sini,” kata Djoko, mewakili Kepala DPTPH Tanggamus Soni Isnaini.

Ia mengaku, sementara ini petani yang sudah jadi peserta sudah mencapai lebih kurang 3.000 orang. Mereka tersebar di 13 kecamatan, di antaranya Pulaupanggung, Talangpadang, Airnaningan, Pugung, Bulok, Gisting, Kotaagung Timur, Kotaagung, Kotaagung Barat, Wonosobo, dan Semaka. Meskipun belum seluruh petani di tiap kecamatannya masuk asuransi.

“Kami menargetkan seluruh kecamatan yang ada hamparan sawah, petaninya bisa jadi peserta asuransi,” harap Djoko.

Pertanggungan asuransinya sendiri Rp6 juta/hektar tiap musim. Meskipun tidak seberapa besar, namun sudah bisa membantu penanaman baru. Kemudian dilihat dari segi premi asuransi juga kecil yakni Rp36 ribu/hektar tiap musim. Dalam hal ini sebenarnya premi Rp180 ribu. Namun pemerintah ikut menanggung beban premi sebagai bentuk bantuan. AUTP sendiri dari Jaringan Asuransi Indonesia yang kerjasama dengan Kementerian Pertanian.

Untuk menjadi peserta AUTP, persyaratannya petani pemilik atau petani penggarap memiliki lahan garapan minimal dua hektar. Luasan itu dalam satu hamparan, atau satu jaringan irigasi. Kemudian menjadi anggota kelompok tani dan di bawah pembinaan penyuluhan pertanian. Selain itu tanaman yang ditanam berupa padi, sedangkan tanaman selingan meski ditanam di sawah tidak ditanggung. Usia tanaman minimal 10 hari, tingkat kerusakan lebih dari 75 persen dan luas kerusakan minimal 75 persen dari dua hektare. Dan itu dalam satu kali penanaman.

“Kemudian kerusakan yang ditanggung karena bencana alam, yakni banjir dan kekeringan. Lalu terkena organisme pengganggu tanaman (OPT) seperti hama penggerek batang, wereng cokelat, walang sangit, tikus, ulat grayak, keong mas. Kemudian juga kerugian akibat terkena penyakit berupa blas, tongro, bercak coklat, busuk batang, kresek,” tandas Djoko. (ayp)

News Reporter