. . .

Bangun Bangsa Harus Sejalan dengan Dinamika Masyarakat

image_print

TRANSLAMPUNG.COM, JAKARTA – Program semesta jangka panjang telah memasuki usia ke-73 tahun sampai dengan proses konsolidasi demokrasi yang dipersiapkan guna menyukseskan Pemilu serentak tahun 2019. “Program semesta jangka panjang tahap pertama, sampai proses konsolidasi demokrasi yang sekarang sedang kita persiapkan pada Pemilu serentak 2019 ada tahapan yang tentunya dari kalangan akademisi perlu mencermati gelagat perkembangan dinamika yang ada dengan baik,” kata Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tjahjo Kumolo untuk para akademisi ketika ketika menjadi pembicara dalam seminar nasional dengan thema masa depan kedaulatan rakyat Indonesia yang digelar Universitas Udayana, Sabtu (10/11). Seminar nasional itu digelar di gedung auditorium Widya Sabha Universitas Udayana, Jimbaran Bali.

Ketika menjadi pembiacara kemarin, Mendagri mengangkat thema strategis pilihannya yakni terkait perjalanan panjang negara Indonesia dalam mengarungi perubahan program pembangunan sesuai dengan dinamika zaman dan tuntutan masyarakat. “Presiden Joko Widodo dan Wakilnya Jusuf Kalla telah berkomitmen menjalankan alinea ke-4 pembukaan UUD 1945 bahwa kedaulatan rakyat harus dapat masuk ke dalam sendi-sendi aspek kehidupan berbangsa dan bernegara melalui pencapaian Nawa Cita. Karena itu maka para akademisi supaya mampu mencermati perkembangan dinamika bangsa yang ada saat ini dengan baik,” jelas Tjahjo.

Dikatakan, Kemendagri telah mengalami pergeseran fungsi dari zaman-zaman sebelumnya. Hal tersebut bisa dilihat selama ini dimana Kemendagri sudah membangun hubungan tata kelola pemerintah pusat dan daerah yang harus semakin efektif dan efisien sebagai upaya mendorong percepatan reformasi birokrasi untuk memperkokoh struktur otonomi daerah. “Membangun hubungan tata kelola pemerintah pusat dan daerah harus semakin efektif dan efisien. Inu dilajukan dalam rangka mempercepat reformasi birokrasi untuk penguatan otonomi daerah,” terang Mendagri.

Dibeberkan bahwa Tjahjo Indonesia adalah negara besar yang terdiri dari 514 kabupaten/kota dengan 34 provinsi yang membawahinya. Terdapat kemajemukan dan variasi dalam menghadapi tata kelola pemerintahan, budaya, adat istiadat serta kondisi geografis yang berbeda-beda, menjadi tantangan tersendir.

Hal terakhir yang juga disampaikan yakni kepentingan politik hukum dan HAM dalam menjaga stabilitas daerah. “Jadi, tidak hanya Kemendagri saja yang mendapatkan tugas menjaga stabilitas daerah termasuk kepentingan politik dan HAM-nya. Namun menjadi tanggung jawab seluruh jajaran pemerintahan mulai dari pemerintah daerah dari gubernur hingga kepala desa, Kapolri hingga Babinkamtibnas, Panglima hingga Babinsa, dewan pusat hingga daerah, Kejaksaan, partai politik, Ormas, tokoh agama, tokoh adat juga harus tetap menjadi bagian dari komponen stabilitas daerah,” urainya.

Tjahjo menyebutkan bahwa pada pemilu 2014 Joko Widodo dan Jusuf Kalla hanya memiliki tiga program utama yakni memastikan infrastruktur ekonomi berjalan dengan baik, memastikan infrasruktur sosial berjalan dengan baik dan program peningkatan SDM berjalan dengan baik. Program strategis nasional dari presiden harus seiring dengan janji politik gubernur, bupati dan wali kota sehingga memiliki kesinambungan yang searah. “Setelah berhasil memenangi Pilkada, kepala daerah harus dapat melepas ego kepartaian dan mementingkan kepentingan bangsa dan negara. Karena itu maka pada Pemilu 2019 nanti harus bisa melibatkan seluruh elemen masyarakat,” ujar Tjahjo. Dirinya juga meminta kepada seluruh mahasiswa agar dapat mendukung dan menyukseskan Pemilu serentak 2019.

Di akhir penjelasannya saat menjadi pembiacara kemarin, Mendagri menegaskan bahwa Pancasila, UUD RI 1945 dan kemajemukan adalah bagian dari NKRI. Indonesia berasal dari keberagaman suku, agama, golongan. Karena itu maka para mahasiswa harus ikut melawan racun demokrasi seperti fitnah, SARA, dan ujaran kebencian agar mencegah kekisruhan yang dapat memecah belah bangsa. “Tantangan bangsa ini sekarang adalah radikalisme dan terorisme. Ini yang harus dicermati dan dilawan. Karena itu maka butuh tanggung jawab kita semua. Cermati betul dan ingatkan semua untuk tidak mudah terpancing,” pungkasnya.(gat/fin)