Bahaya, Warga Minta Tutup U-Turn Tidak Resmi

0
110
views
Foto: Deki Kesatrian/ Trans Lampung U-TURN: Beberapa pengendara kendaraan roda dua sedang melintasi U-Turn tidak resmi yang dapat membahayakan pengendara lainnya di kawasan depan dealer mobil Nisan, Kedaton, Minggu (16/7).

TRANSLAMPUNG.COM, BANDARLAMPUNG- Bandarlampung sebagai ibukota Provinsi Lampung memiliki tingkat mobilitas yang tinggi. Oleh karena itu penataan jalan harus dilakukan sebaik mungkin untuk menghindari kemacetan. Salah satu solusi permasalahan kemacetan yaitu dengan penggunaan u-turn (putar balik). U-turn digunakan dengan membuka pembatas jalan sehingga memudahkan pengemudi berputar arah.

Namun alih-alih menjadi penyelesaian kemacetan, u-turn malah menjadi penyebab kemacetan. Pasalnya di beberapa jalan di Bandarlampung masyarakat menggunakan u-turn tak resmi, atau ciptaan sendiri pengendara. Pantauan di Jalan Ryacudu, Kelurahan Way Dadi, Sukarame terdapat 12 u-turn ilegal. Diantara 12 u-turn tersebut satu ditutup dengan batang kayu oleh warga sekitar dan dua ditutup dengan ban mobil. Masih terdapat sembilan u-turn yang menjadi favorit warga Bandarlampung.

Di jalan tersebut selama lima menit kurang lebih sebanyak 22 kendaraab roda dua melintasi u-turn tak resmi. Hal serupa juga terjadi di jalan Sultan Agung. Di jalan Sultan Agung terdapat tiga u-turn tak resmi dan per lima menit dilintasi sekitar 12 kendaraan roda dua.

Lebih parah lagi terdapat di Jalan ZA Pagar Alam. Selama lima menit terdapat sekitar 30 kendaraan roda dua melintasi satu u-turn tak resmi. Salah seorang pengendara Dian (35) mengatakan lebih dekat melintasi u-turn tak resmi. “Kalau lewat putaran yang resmi jauh, buang-buang waktu,” terang Dian yang usai melintasi u-turn tak resmi Jalan ZA Pagar Alam.

Sementara warga sekitar Altan (29) menjelaskan adanya u-turn tak resmi menyebabkan sering terjadi kecelakaan. Kecelakaan kecil hingga berujung perkelahian pernah terjadi. “Senggolan terus ribut, malah buat macet,” terang Altan.

Menanggapi hal ini, pengamat transportasi Rahayu Sulistyorini menjelaskan minimal 500 meter baru boleh ada u-turn. Jika terdapat u-turn baik resmi atau tak resmi yang jaraknya kurang dari 500 meter maka bisa mengakibatkan kemacetan panjang. Pasalnya u-turn membuat pengendara harus minggir ke kanan baru bisa berputar balik. “Kalau kebanyakan u-turn, sisi kanan jalan bisa macet,” kata dia.

Ia berharap pemerintah menutup u-turn yang tak resmi. Selain untuk menghindari kemacetan juga untuk meminimalisir kecelakaan. “Bila perlu beri denda bagi pengendara yang melintasi u-turn tak resmi,” terang dia.(jef)