ZK Tuding Evin BHP “Ilegal” dan Melecehkan Kinerja Kakon

DIAMANKAN: Sepucuk airsoft gun beserta peluru gotri milik Kakon Sukadamai, ZK (50), yang diduga digunakan untuk menembaki Evin Nopendra. (Foto: HUMAS POLRES TANGGAMUS)

TRANSLAMPUNG.COM, TANGGAMUS – KETIKA dikonfirmasi via telepon seluler, Kakon Sukadamai ZK yang kini berstatus sebagai terlapor, mengakui bahwa dirinya khilaf sampai menembaki Evin Nopendra menggunakan airsoft gun-nya. Menurut terlapor, korban sudah melecehkan kinerjanya sebagai seorang kakon.

ZK menjelaskan, pada Minggu (2/12) siang, Evin Nopendra masuk ke Kantor Pekon Sukadamai. Tanpa basa-basi Evin membahas mekanisme penyusunan Rencana Anggaran Belanja (RAB) yang diduga soal pembangunan dari hasil Dana Desa. Menurut ZK, Evin mengklaim bahwa penyusunan RAB seharusnya bisa dilakukan dengan mudah. Bahkan di ”luar kepala”.

Ini menarik, baca juga: POLRES TANGGAMUS AKAN RAZIA SENJATA, JIKA PERLU DOOR TO DOOR

”Menurut saya, dia (Evin, Red) sudah melecehkan kinerja kakon. Padahal dia bukan Ketua Badan Hippun Pemekonan (BHP). Bahkan dia itu BHP ‘ilegal’,” tuding ZK namun tidak menjelaskan maksud tudingannya tentang BHP “ilegal”.

Sesudah itu, Minggu malam, ZK secara tidak sengaja bertemu dengan Evin Nopendra yang sedang mengobrol dengan tiga warga di tepi jalan Pekon Sukadamai.

”Jujur saja, emosi saya nggak ketahan lagi. Langsung saya khilaf dan menembaki dia. Tapi terus terang saya nggak ada rencana. Saya nggak tahu berapa peluru yang sudah saya tembakkan. Karena airsoft gun itu, ada peluru atau kosong, tetap ada suara letusannya,” beber kakon kelahiran Sukabanjar 19 Maret 1959 silam itu.

Saat dikejar dengan pertanyaan terkait dirinya yang sempat memukul saat Evin duduk di motor sebelum penembakan terjadi, ZK membantahnya.

Nggak ada saya mukulin dia,” ujar ZK.

Perihal dirinya yang sudah dipanggil ke Polsek Talangpadang, ZK juga tetap berkelit. Alih-alih mengakui kesalahannya, ZK justru dengan bangga mengatakan bahwa dirinya bermitra dengan Polsek Talangpadang.

Nggak, saya ngobrol-ngobrol saja dengan Kapolsek (Talangpadang). Biasa itu, kami kan bermitra dengan polsek,” bantah ZK. (ayp)




Polres Tanggamus akan Razia Senjata, Jika Perlu Door to Door

Kasat Reskrim Polres Tanggamus, AKP Edi Qorinas, S.H.

TRANSLAMPUNG.COM, TANGGAMUS – Sebagai langkah preventif dan preemtif peristiwa serupa, Kasat Reskrim Polres Tanggamus AKP Edi Qorinas, S.H. menegaskan, pihaknya akan melakulan upaya penertiban kepemilikan senjata. Bahkan jika diperlukan, polisi akan melakukan razia door to door. Tak hanya razia di jalanan.

Ini menarik, baca juga: SENJATA SUDAH DISITA POLISI, ZK TERANCAM TERJERAT PERKAP NO. 5 TAHUN 2018

”Hal ini harus kami tindak tegas. Namun awalnya kami akan sosialisasi pada masyarakat. Ketika sosialisasi tak diindahkan, kami akan tindak tegas. Karena untuk memiliki senjata jenis apapun, ada kategori dan aturannya. Tidak bisa sembarangan. Bukan hanya senjata api. Tapi itu berlaku juga terhadap senjata jenis airsoft gun atau paintball. Dan izin resminya hanya dikeluarkan oleh Polri,” tegas mantan Kapolsek Rumbia itu.

Untuk diketahui, peristiwa oknum kepala pekon di Kabupaten Tanggamus yang mengintimidasi warganya menggunakan senjata, bukan kali pertama ini terjadi. Sebelum peristiwa Evin Nopendra versus Kakon Sukadamai ini viral di media sosial Facebook hingga ditangani polisi, jauh lebih dulu peristiwa oknum Kakon Ketapang, Kecamatan Limau yang mengintimidasi warganya menggunakan senjata. Namun ending dari perkara itu, hingga kini tak ada yang tahu.

Dari kondisi itu, kuat kemungkinan masih ada oknum-oknum kakon di wilayah Kabupaten Tanggamus yang diduga memiliki senjata. Hal itu menjadi “PR” bagi seluruh aparat penegak hukum, terutama penertiban kepemilikan senjata. (ayp)




Senjata sudah Disita Polisi, ZK Terancam Terjerat Perkap No. 5 Tahun 2018

DIAMANKAN: Sepucuk airsoft gun beserta peluru gotri milik Kakon Sukadamai, ZK (50), yang diduga digunakan untuk menembaki Evin Nopendra. (Foto-foto: HUMAS POLRES TANGGAMUS)

TRANSLAMPUNG.COM, TANGGAMUS – Perihal senjata milik Kakon Sukadamai ZK, Kasat Reksrim Polres Tanggamus AKP Edi Qorinas, S.H. belum dapat memastikan jenisnya. Namun sementara diduga berjenis airsoft gun dengan peluru gotri. Setelah laporan Evin Nopendra, airsoft gun milik ZK, menurut Edi Qorinas, telah disita oleh Polsek Talangpadang.

”Belum jelas (jenis) senjatanya. Tapi sepertinya airsoft gun. Sudah diamankan di polsek,” ujar mantan perwira Tim Resmob Polda Lampung itu.

Terkait regulasi kepemilikan senjata airsoft gun, mantan Kapolsek Rumbia itu menegaskan, pemiliknya bisa diganjar dengan aturan baru. Yaitu Peraturan Kapolri (Perkap) Nomor 5 Tahun 2018 tentang Pengawasan dan Pengendalian (Wasdal) Replika Senjata Jenis Airsoft Gun dan Paintball.

Ini menarik, baca dari awal: OKNUM KAKON SUKADAMAI DIDUGA TEMBAKI WARGANYA, POLISI JAMIN PROSES HUKUM BERLANJUT

”Regulasi (airsoft gun) diatur dalam aturan baru, yaitu Perkap No. 5 Tahun 2018. Bukan lagi diatur Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 tentang Senjata Api dan Senjata Tajam,” jelas Edi Qorinas.

Dalam Perkap No. 5 Tahun 2018 itu, kasat reskrim menegaskan, meskipun hanya berjenis airsoft gun, namun izin kepemilikannya harus tetap berasal dari Kepolisian Republik Indonesia (Polri). Bukan hanya izin dari organisasi yang menaungi komunitas atau penghobi menembak dan berburu.

”Selama ini, pemilik airsoft gun cukup memegang izin dari organisasinya. Misalkan dari Perbakin. Tetapi dengan terbitnya Perkap No. 5 Tahun 2018 ini, izin dari Perbakin atau organisasi tembak lainnya, sudah tidak berlaku lagi. Sebab pemilik airsoft gun harus memiliki izin langsung dari Polri. Jadi ZK bisa terjerat dengan perkap yang baru ini,” tandas Edi Qorinas yang pernah menjabat Kapolsek Seputihmataram.

Peraturan Kapolri ini mengatur pengendalian replika senjata jenis airsoft gun (meliputi laras pendek, laras panjang, atau jenis lain dalam kategori airsoft gun) dan paintball (meliputi laras pendek dan panjang), mengenai kegiatan pemasukan dan pengeluaran kembali (impor dan re-ekspor) senjata jenis airsoft gun dan paintball yang akan mengikuti pertandingan/permainan di Indonesia. Dan kemudian dikembalikan ke negara asal, setelah selesai pertandingan/permainan.

Peraturan ini mempunyai tujuan untuk mewujudkan tertib administrasi, pengawasan, dan pengendalian terhadap replika senjata airsoft gun dan paintball, serta memberikan perlindungan hukum kepada pemilik izin, yang dilaksanakan dengan prinsip legalitas, akuntabilitas, transparan, dan nesesitas.

Sanksi bagi pemegang dan pengguna replika senjata jenis airsoft gun dan paintball yang melakukan penyalahgunaan dan penyimpangan izin atau menjadi tersangka dalam suatu tindak pidana, wajib mneyerahkan replika senjata untuk disimpan di Gudang Polri. Lalu surat izin kepemilikan dan penggunaan, dicabut dan tidak dapat diberikan pengantian surat izin kepemilikan, serta replika dapat dimusnahkan berdasarkan persetujuan pemilik barang. (ayp)




Oknum Kakon Sukadamai Diduga Tembaki Warganya, Polisi Jamin Proses Hukum Berlanjut

Kasat Reskrim Polres Tanggamus AKP Edi Qorinas, S.H.

TRANSLAMPUNG.COM, TANGGAMUS – Polisi menegaskan kasus oknum Kepala Pekon Sukadamai, Kecamatan Gunungalip berinisial ZK (50) yang diduga menembaki salah seorang warganya, prosesnya terus berlanjut. Saat ini kasus tersebut sedang ditangani Polsek Talangpadang dan dalam tahap penyelidikan.

Hal itu ditegaskan Kasat Reskrim Polres Tanggamus AKP Edi Qorinas, S.H. saat ditemui di ruangannya, Kamis (6/12) sore. Dia menjamin, bahwa Polsek Talangpadang terus mengusut tuntas dugaan penembakan oleh oknum kakon terhadap salah seorang warganya.

”Kami pastikan, kasus ini terus ditangani. Tapi kita juga harus hormati dan hargai upaya dari Kapolsek Talangpadang dan jajarannya menangani kasus ini. Sekarang sudah sekitar tiga orang saksi yang sudah dimintai keterangan terkait peristiwa itu. Masih dalam tahap penyelidikan,” tegas Edi Qorinas, mewakili Kapolres Tanggamus AKBP I Made Rasma, S.I.K., M.Si.

Edi Qorinas menjelaskan, korban dalam perkara ini adalah Evin Nopendra (39). Pria beralamat di RT 001 RW 001 Pekon Sukadamai itu, melaporkan Kepala Pekon Sukadamai ZK (50). Dalam Tanda Bukti Laporan (TBL) Nomor: TBL/B-1/325/XII/2018/LPG/RES.TGMS/SEK.TALANG, Senin 3 Desember 2018. Dalam TBL tersebut terlapor menjelaskan, pada Minggu (2/12) sekitar pukul 22.30 WIB terlapor bertemu dengan Matari (Kepala Dusun), Chandra, dan Aminuddin di sekitar jalan raya Pekon Sukadamai. Di situlah terlapor berbincang dengan ketiganya.

TANDA BUKTI LAPORAN: Inilah TBL dari Evin Nopendra (39) terhadap oknum Kakon Sukadamai, ZK (50). (Foto: IST)

Sejurus kemudian, tiba-tiba kakon Sukadamai muncul. Ketika terlapor duduk di motor yang diparkirkan, mendadak pelapor mengeluarkan senjata diduga berjenis airsoft gun dan menembaki korban sebanyak beberapa kali. Korban mengaku kaki kanannya tertembak satu kali dari moncong senjata berpeluru gotri (butiran besi) itu.

Tak berhenti di situ, meski korban sudah dalam kondisi terluka, oknum kakon masih berusaha melayangkan bogem mentah pada korban. Namun korban masih bisa mengelak. Kejadian itulah yang mendasari Evin Nopendra melaporkan ZK ke Polsek Talangpadang.

Menyikapi hal tersebut, Kasat Reksrim Polres Tanggamus menegaskan, Polsek Talangpadang terus menangani perkara itu. Namun Edi Qorinas meminta semua pihak untuk bersabar karena semua ada proses dan tahapannya.

”Sekarang ditangani Polsek Talangpadang dan dalam tahap penyelidikan. Setelah gelar perkara, hasilnya baru menjadi dasar untuk meningkatkan status ke penyidikan. Terlapor memang tidak ditahan, karena proses masih panjang. Tidak bisa sembarangan menahan orang, karena masa penahanan ada waktunya. Namun setelah semua tahap lengkap, baru dilakukan penahanan terhadap terlapor,” tandas mantan Kapolsek Wonosobo itu. (ayp) 




Bupati Dewi Handajani ”Sentil” Camat, Wabup Syafi’i Sindir Oknum Kadis “Ahli Isap”, sampai Para Wartawan Duduk di Lantai akibat Tak Ada Kursi

TAK DIHARGAI: Inilah pemandangan para insan pers yang tidak diberi tempat untuk duduk sehingga harus duduk di lantai, persis seperti gelandangan namun di dalam ruang sidang paripurna, Kamis (29/11) di Gedung DPRD Tanggamus.

 

Fenomena Memprihatinkan saat Paripurna di Gedung DPRD Tanggamus 

TRANSLAMPUNG.COM, TANGGAMUS – Ada kejadian cukup  menggelitik saat Rapat Paripurna Penyampaian Laporan Hasil Pembahasan Persetujuan DPRD dan Pendapat Akhir Kepala Daerah terhadap Rancangan APBD Kabupaten Tanggamus Tahun Anggaran 2019 yang diselenggarakan DPRD Kabupaten Tanggamus, Kamis (29/11). Pasalnya selama beberapa saat, muka sebelas Camat yang hadir dalam ruang paripurna mendadak tegang. Lantas apa gerangan penyebabnya?

Sejak dibuka oleh Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Tanggamus Heri Agus Setiawan, S.Sos. hingga pertengahan, rapat paripurna berjalan lancar. Namun atmosfer ruangan rapat sempat berubah sedikit tegang, ketika Bupati Tanggamus Hj. Dewi Handajani, S.E., M.M. menaiki podium untuk menyampaikan Pendapat Akhir Kepala Daerah terhadap Rancangan APBD Tanggamus TA 2019.

Sebab sebelum mulai menyampaikan Pendapat Akhir, Dewi Handajani lebih dulu mengarahkan pandangan matanya ke deretan bangku yang biasanya diduduki para Camat. Tampak saat rapat paripurna, jumlah Camat yang hadir memang tidak sampai 20 orang. Padahal Kabupaten Tanggamus memiliki 20 kecamatan. Seharusnya ada 20 Camat yang hadir.

”Ini Camat kok cuma sedikit orangnya? Pada ke mana Camatnya? Nggak sampai 20 orang ini,” tanya Dewi Handajani.

Pertanyaan tersebut membuat muka para Camat auto-tegang.

”Berapa orang ini kalian?” tanya bupati lagi.

Serempak beberapa Camat yang hadir menjawab, ”Sebelas (orang) Bu! Yang lainnya ini perwakilan.”

Situasi itu pun mendapat perhatian serius dari Bupati Tanggamus.

“SENTIL” CAMAT BANDEL: Bupati Tanggamus Dewi Handajani saat “menyentil” Camat yang tidak hadir dalam paripurna Rancangan APBD Tanggamus TA 2019. (Foto: IST)

”Besok-besok lagi, saat paripurna penting seperti ini, saya mau semua Camat hadir. Kalau memang tidak bisa hadir, izin dari jauh-jauh hari dan jelaskan apa alasan ketidakhadirannya,” tegas Dewi Handajani yang kemudian melanjutkan penyampaian Pendapat Akhir di hadapan unsur Pimpinan dan 38 Anggota DPRD Tanggamus.

Tak berhenti sampai di situ, saat paripurna agenda selanjutnya, giliran Wakil Bupati Tanggamus Hi. A.M. Syafi’i, S.Ag. yang mengkritik beberapa Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Sebab kendati paripurna tentang Rancangan APBD Tanggamus TA 2019 sudah selesai, namun antara Eksekutif dengan Legislatif masih membahas beberapa perda yang cukup penting bagi kabupaten berjuluk Bumi Begawi Jejama itu.

Pasalnya ketika giliran Wabup Tanggamus berdiri di podium untuk menyampaikan Pendapat Kepala Daerah tentang beberapa perda yang sedang digodok oleh Badan Pembentukan Perda DPRD Tanggamus, beberapa Kepala OPD justru ”melipir” dari ruang paripurna untuk merokok. Karena di dalam ruang paripurna memang dilarang untuk merokok. Ketidakpedulian beberapa Kepala OPD ”ahli isap” itu, memicu Wabup Syafi’i untuk bereaksi.

”Para Kepala Dinas, jangan dibiasakan meninggalkan tempat sebelum rapat selesai. Dan saya rasa kepada (para Kepala Dinas) ’ahli isap’, tolong bersabar sebentar. Toh sebentar lagi selesai (rapatnya),” sentil Syafi’i.

Selain kejadian unik Bupati Dewi Handajani yang ”menyentil” Camat dan Wabup Syafi’i yang ”menyentil” beberapa Kepala OPD, para insan pers yang meliput berlangsungnya paripurna di dalam ruangan rapat, juga merasa kecewa. Bahkan seperti tidak dihargai. Pasalnya tidak disediakan kursi yang bisa diduduki para wartawan. Padahal jika dirunut, agenda paripurna itu terbuka untuk umum. Bukan paripurna internal yang sifatnya tertutup.

Lantaran tak ada kursi yang bisa digunakan untuk duduk, para kuli tinta yang berada di dalam ruangan paripurna, terpaksa duduk ”melantai” seperti gelandangan. Ada juga yang berdiri dari awal sampai akhir paripurna. Padahal sebelum-sebelumnya, ada kursi khusus yang dijajar di pinggir lorong samping kiri dan belakang bagian kiri ruangan paripurna untuk tempat duduk para wartawan.

Fenomena itu membuat Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Asosiasi Wartawan Profesional Indonesia (AWPI) Kabupaten Tanggamus, Imron Tara mengungkapkan kekecewannya. Dia menilai, panitia rapat paripurna pada Kamis (29/11) tidak serius dalam persiapan.

”Paripurna ini dalam rangka menentukan APBD Tanggamus TA 2019 dan sifatnya terbuka untuk umum. Tentu kita sebagai insan pers wajib dan mutlak untuk meliputnya. Supaya masyarakat Tanggamus tahu tentang APBD kabupaten. Tapi kok rasanya profesi kita sebagai jurnalis ini disepelekan ya. Jangankan kue kotak atau minuman, kursi untuk kita duduk, kita aja nggak dikasih. Saya sampai ngelus dada lihat kawan-kawan wartawan berdiri. Apalagi junior-junior saya harus duduk ngemper persis seperti gelandangan, tapi itu terjadi di dalam ruangan paripurna. Kalau itu di pinggir jalan okelah, kita bisa ngemper di teras rumah orang atau di trotoar. Saya lihat malah di dalam toilet sebelah kiri, ada kursi ditumpuk di situ. Apa maksudnya kita disuruh duduk di toilet?” ungkap Imron Tara penuh kekecewaan.

”Astaga sumpah, sampai saya keluar dari ruangan (paripurna), karena saking nggak tahan dan saking kecewanya. Di mana apresiasi untuk kita yang berprofesi sebagai jurnalis ini? Panitia penyelenggara paripurnanya bener-bener ngawur dan nggak menghargai kita. Saya harap panitia penyelenggara paripurna DPRD Tanggamus tidak mengulangi hal seperti ini dan mau menghargai eksistensi insan pers,” tandas Kepala Biro Harian Pilar untuk Kabupaten Tanggamus yang kini juga mencalonkan diri sebagai anggota legislatif itu.

Saat ditanyai perihal kursi yang biasanya untuk tempat duduk para wartawan saat meliput paripurna, salah seorang pegawai Sekretariat Dewan mengaku tak tahu-menahu.

”Maaf bang, saya Bagian Protokol. Soal kursi di ruang rapat paripurna ini, biasanya wewenang Bagian Umum bang,” bisiknya sambil berlalu. (ayp) 




Oknum Petani Asal Cukuhbalak Cabuli Putri Tiri sejak 2015

PENCABULAN ANAK TIRI: Wakapolres Tanggamus Kompol Andik Purnomo Sigit didampingi Kapolsek Cukuhbalak Ipda. Dian Afrizal menujukkan barang bukti perkara pencabulan oleh R terhadap putri tirinya MR. (Foto: HUMAS POLRES TANGGAMUS)

TRANSLAMPUNG.COM, TANGGAMUS – Seorang pria asal Kecamatan Cukuhbalak, Kabupaten Tanggamus, berinisial R (41) tega berbuat bejat pada putri tirinya sendiri. Korban yaitu MR, kini berusia 17 tahun. Ironisnya sang ayah tiri yang ber-KTP sebagai petani itu, sudah melakoni aksi bejatnya terhadap MR, saat putri tirinya masih duduk di bangku sekolah dasar.

Beruntung, perbuatan bejat R berhasil diketahui istrinya sekaligus ibu kandung MR. Kendati tersangka R sempat kabur ke Jakarta menghindari jeratan hukum, sekarang R harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Ia hanya bisa pasrah saat digelandang petugas dari Polsek Cukuhbalak.

Wakapolres Tanggamus Kompol Andik Purnomo Sigit, saat memimpin ekspose membenarkan, tersangka R sudah beberapa kali mencabuli putri tirinya. Pada tahun 2015, ketika korban sedang memakai baju. Korban dua kali dicabuli R. Namun pada aksi yang ketiga, diketahui ibu korban.

”Sehingga tersangka R sempat melarikan diri ke Jakarta,” kata wakapolres, mewakili Kapolres Tanggamus AKBP I Made Rasma didampingi Kapolsek Cukuhbalak Ipda. Dian Afrizal, Kamis (29/11) sore.

Usai kabur dari Jakarta, tersangka pulang ke Cukuhbalak pada Minggu (18/11). Namun bukannya menyadari kesalahannya, R justru mengulangi perbuatan bejatnya.  Wakapolres Andik Purnomo Sigit menerangkan, pada Selasa (20/11) sekitar pukul 15.00 WIB, tersangka kembali melakukan aksi bejat mencabuli korban.

”Kali terakhir beraksi, ibu korban tidak di rumah. Tersangka dengan sadis mengikat tangan korban dan kembali mencabuli MR,” beber Andik Purnomo Sigit.

Akibat trauma dan mengalami luka pada organ vital kewanitaannya, pada rabu (21/11) akhirnya korban menceritakan semua perbuatan keji R kepada ibu kandungnya. Tanpa pikir panjang, dengan diantar ibunya, korban melapor ke Polsek Cukuhbalak.

”Selang lima jam dari laporan korban, tersangka berhasil ditangkap tanpa perlawanan oleh anggota Polsek Cukuhbalak. Termasuk barang bukti dua helai pakaian dalam korban dan tali rafia warna hitam,” tegas wakapolres.

Kapolsek Cukuhbalak menambahkan, atas perbuatannya tersangka R dijerat Pasal 76 D jo Pasal 81 Ayat (1) dan/atau Pasal 81 Ayat (2) dan/atau Pasal 76 E jo Pasal 82 Ayat (1) UU Nomor 17 Tahun 2016, tentang Penetapan Pemerintah Pengganti UU Nomor 1 Tahun 2016, tentang Perubahan Kedua atas UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menjadi Undang-Undang.

”Ancaman minimal 5 tahun dan maksimal 15 tahun penjara,” tegas Dia Afrizal.

Mencegah peristiwa serupa, Polres Tanggamus mengimbau masyarakat untuk lebih menjaga anak perempuan. Karena berdasarkan analisa kejadian-kejadian seperti itu, sebagian besar pelakunya justru orang terdekat.

”Mari lebih memperhatikan anak-anak kita. Karena apabila terjadi seperti itu, kita juga yang rugi,” ajak Andik Purnomo Sigit diamini Dian Afrizal.

Di hadapan insan pers, tersangka R mengakui semua perbuatannya. Ia sudah beberapa kali mencabuli putri tirinya.

”Iya pak, dua kali tahun 2015 dan terakhir tanggal 20 November kemarin. Semuanya saya lakukan sekitar pukul 15.00 WIB, ketika istri saya tidak ada di rumah,” tutur R.

Tersangka juga mengaku saat terakhir mencabuli putri tirinya, ia mengancam dan mengikat tangan korban.

”Tangan dia saya ikat pakai tali rafia dan saya ’pake’ pak. Tapi sekarang saya nyesel banget,” ucap R lirih dengan penuh penyesalan namun sudah terlambat. (ayp) 




Dor…!! Buser Akhiri Perlawanan Sengit Sang Spesialis Maling

UNGKAP KEBERHASILAN: Kapolsek Wonosobo Iptu. Amin Rusbahadi didampingi Kanit Reskrim Brigadir R. Sinaga, menjelaskan keberhasilan mereka membekuk spesialis curat berbagai TKP, Kholdi (34) yang terkenal licin dan selalu membawa sajam. (Foto: DOK POLSEK WONOSOBO)

TRANSLAMPUNG.COM, TANGGAMUS – Meski sudah terpojok saat hendak ditangkap, seorang buronan serta tersangka kasus pencurian dengan pemberatan, Kholdi (34) masih saja beringas melawan petugas dengan senjata tajamnya. Tembakan peringatan dari moncong pistol personel Unit Reskrim Polsek Wonosobo, Kabupaten Tanggamus pun, hanya dianggap angin lalu. Bahkan pria bernama alias Ol itu, makin ganas melawan petugas. Sehingga polisi harus tegas menyarangkan timah panas di kakinya.

Aksi tersangka yang merupakan warga Pekon Balak, Kecamatan Wonosobo itu, selama ini dikenal sangat meresahkan masyarakat. Namun dia juga dikenal licin saat akan ditangkap serta selalu mempersenjatai diri dengan membawa sebilah pisau.

”Bahkan pada saat akan ditangkap, tersangka masih melakukan perlawanan dengan menghunuskan sebilah pisau dan membahayakan keselamatan petugas. Tembakan peringatan dilakukan, namun tetap diabaikan. Sehingga terpaksa petugas kami melakukan tindakan tegas terukur di bagian kaki kirinya,” terang Kapolsek Wonosobo, Iptu. Amin Rusbahadi, S.Sos., mewakili Kapolres Tanggamus AKBP I Made Rasma, S.I.K., M.Si.

Dari penangkapan Kholdi, petugas mengamankan sejumlah barang bukti kejahatan. Berupa 2 unit sepeda motor, sebilah pisau berikut sarungnya, sebuah topi, baju, dan sarung yang dipakai saat mencuri, serta 2 box handhpone.

Amin Rusbahadi menjelaskan, Kholdi berhasil ditangkap pada Rabu (21/11) sekitar pukul 02.00 WIB di jalan umum Pekon Kejadian, Kecamatan Wonosobo. Saat akan ditangkap oleh Unit Reskrim Polsek Wonosobo, tersangka justru mengancam keselamatan jiwa petugas menggunakan senjata tajam jenis pisau garpu.

”Maka dilakukan tindakan tegas dan terukur pada kaki kirinya,” tegas Amin Rusbahadi di Mapolsek Wonosobo, Rabu (28/11) sore.

Penangkapan terhadap Kholdi, kata kapolsek, berdasarkan sejumlah laporan. Meliputi laporan Bambang Ariyono (40) warga Pekon Banjarsari, Kecamatan Wonosobo tanggal 04 Oktober 2018 dengan kerugian sepeda motor Yamaha Mio Soul BE 6440 VV. Kemudian laporan Yeni Wulansari (32), warga Pekon Lakaran, Kecamatan Wonosobo dengan kerugian sepeda motor Yamaha Vega R BE 5460 VT.

”Tersangka juga merupakan DPO dalam perkara Curat yang tertuang dalam LP Nomor: B-63/XII/2008/LPG/RES TGMS/SEK SOBO tanggal 08 Desember 2008 dan Daftar Pencarian Orang Nomor: DPO/01/I/2009/Reskrim tanggal 3 Januari 2009,” beber kapolsek.

Amin Rusbahadi menjelaskan, saat beraksi mencuri sepeda motor, tersangka Kholdi tidak sendirian. Melainkan bersama seorang temannya, berinisial M alias IS. Setiap mencuri sepeda motor, tersangka juga menggunakan kunci T yang dibawa temannya.

”Teman Kholdi, yaitu M alias IS, masih dilakukan pencarian dan ditetapkan dalam DPO,” jelas kapolsek.

Selain laporan curat, Amin Rusbahadi menerangkan, ada laporan lain terhadap tersangka Kholdi. Meliputi laporan penganiayaan dan pengrusakan serta pengancaman terhadap korban bernama Mursid, warga Pekon Balak. Lalu laporan pencurian sepeda di Pekon Kotabatu, Kecamatan Kotaagung Barat.

”Polsek Kotaagung juga telah memeriksa tersangka ini dan barang bukti berupa handphone Nokia X2 milik tersangka,” tandas Amin Rusbahadi.

Sebelum Tertangkap Kholdi sempat Aniaya Ayah Kandungnya, Pernah Mencuri di Puskesmas Siringbetik, Uang hasil Kejahatan untuk Beli Sabu-Sabu 

KEMUDIAN Kanit Reskrim Polsek Wonosobo Brigadir R. Sinaga menambahkan, berdasarkan hasil pemeriksaan, masih ada kejahatan lain di Kecamatan Wonosobo yang diakui tersangka. Namun belum dilaporkan korban kepada polisi. Antara lain empat kali curat di Puskesmas Siringbetik. Korbannya adalah dr. Fajar dan pasien yang dirawat di puskesmas setempat.

”Saat beraksi di Puskesmas Siringbetik, tersangka terekam CCTV dan sarung milik tersangka tertinggal di TKP,” ujar Sinaga.

Lantas, aksi curat terhadap 4 unit handphone di rumah Mantri Manjari, alamat Pekon Tanjungkurung. Percobaan curat di Pekon Negeri Ngarip, yang mana aksinya diketahui oleh korban dan dikejar, namun Kholdi berhasil kabur.

”Bahkan empat hari sebelum ditangkap, tersangka sempat menganiaya ayah kandungnya sendiri. Namun ayah korban tidak melapor ke kami,” tegas kanit reskrim.

Di hadapan petugas, tersangka mengakui semua perbuatannya. Ironisnya, semua hasil kejahatan itu dipergunakannya untuk membeli narkoba. Tersangka juga menuturkan, apabila mendapatkan hasil curian, akan dijual kepada temannya di jalan dan rata-rata seharga Rp1 juta.

”Uang hasil kejahatan saya pakai beli narkoba jenis sabu-sabu. Kalau dapat motor, saya jual Rp1 juta ke teman di jalan. Sekarang saya menyesal,” tutur spesialis bertato itu dengan lirih. (ayp)




Setelah Mat Yusuf, Polisi Tangkap Lagi Penjaga Dua Hektare Ladang Ganja

PASRAH: Guna mempertanggungjawabkan perbuatannya diduga menjaga dua hektare ladang ganja di Tulung Balak Dusun Kedaung, Pekon Sukabanjar, Kecamatan Kotaagung Timur, Evan Maya (48) terpaksa “dijemput” petugas gabungan Satres Narkoba dan TEKAB 308 Satreskrim Polres Tanggamus di rumahnya, Selasa (13/11) malam. (Foto-Foto: DOK HUMAS POLRES TANGGAMUS)

TRANSLAMPUNG.COM, TANGGAMUS – Setelah sukses memborgol penjaga dua hektare ladang ganja, Mat Yusuf (59) Kota Depok, Jawa Barat pada Selasa (6/11) lalu, Polres Tanggamus terus mengintensifkan pengejaran. Tepat sepekan berselang, personel gabungan Satres Narkoba dan Team Khusus Anti Bandit 308 Satreskrim Polres Tanggamus, kembali meringkus Evan Maya (48) pada Selasa (13/11).

Kasatres Narkoba Polres Tanggamus Iptu. Anton Saputra, S.H., M.H.  membenarkan penangkapan terhadap Evan Maya alias Kep. Dia menjelaskan, pria asal Dusun Bayur Pekon Kotaagung, Kecamatan Kotaagung itu, dicokok sekitar pukul 19.30 WIB di rumahnya.

”Tugas Evan Maya diduga tak jauh berbeda dengan tugas Mat Yusuf. Yaitu menjaga dan membersihkan rumput pada 2 ha ladang ganja di Tulung Balak, Dusun Kedaung, Pekon Sukabanjar, Kotaagung Timur. Penangkapan dilakukan oleh persionel saya dan dibantu TEKAB 308 di bawah komando Kasat Reskrim,” kata Anton Saputra, mewakili Kapolres Tanggamus AKBP I Made Rasma, S.I.K., M.Si.

Dari hasil pemeriksaan sementara, Anton Saputra melanjutkan, Evan Maya diduga memiliki keterkaitan dengan A. Evan Maya adalah salah satu pekerja A, dengan tugas membersihkan rumput di ladang ganja tersebut.

”A sendiri hingga kini masih terus kami kejar. Tersangka Evan Maya mengaku dapat upah Rp50 ribu/hari dari A,” beber kasatres narkoba.

Tak hanya memborgol Evan Maya, Anton Saputra menuturkan, anggotanya juga menggeledah rumah tersangka. Saat digeledah, polisi menemukan satu amplop kecil di bagian dapur. Amplop tersebut terletak di sudut pagar bambu belakang rumah. Setelah dibuka, amplop itu berisi daun ganja yang sudah kering.

”Berikutnya, ditemukan tangkai daun ganja, di dalam ember sampah di belakang rumah tersangka. Temuan tersebut lantas menjadi barang bukti yang selanjutnya kami bawa ke mapolres. Selain itu, ada juga satu set papir (kertas linting rokok),” jelas Anton Saputra seraya menegaskan, saat ini Evan Maya dan barang bukti diamankan di Mapolres Tanggamus untuk penyidikan lebih lanjut. (*)

Kejar A, Satreskrim Siap Back Up Penuh Satres Narkoba

DALAM mengejar bos dua ha ladang ganja berinisial A, yang lagi-lagi mencoreng nama Kabupaten Tanggamus, sesama kesatuan di Polres Tanggamus tentu harus bekerja sama. Terpisah Kasat Reskrim Polres Tanggamus AKP Edi Qorinas, S.H. menegaskan, dirinya siap memberikan instruksi kepada anggotanya untuk mem-back up Satres Narkoba menuntaskan kasus yang cukup menonjol ini.

”Sejak awal pengungkapan ladang ganjanya, yang saat itu posisi Kasat Reskrim masih dijabat AKP Devi Sujana, personel satreskrim sudah mem-back up Satres Narkoba. Kerja samanya sudah sangat baik. Kebetulan belum lama kemarin saya dilantik menjadi Kasat Reskrim. Pastinya dalam misi menuntaskan kasus ladang ganja ini, personel satreskrim siap membantu,” tegas mantan Kapolsek Wonosobo itu.

Diberitakan sebelumnya, tanaman ganja di ladang seluas lebih kurang dua hektare, berhasil diungkap Tim Khusus Opsnal Satres Narkoba dan Opsnal Satreskrim Polres Tanggamus. Puluhan batang tanaman bernama ilmiah Cannabis indica yang mengandung zat tetrahidrokanabinol itu, ditemukan di ladang yang berlokasi di Pedukuhan Tulungbalak, Dusun Kedaung, Pekon Sukabanjar, Kecamatan Kotaagung Timur.

Cannabis sativa/indica adalah tumbuhan (plantae) budidaya penghasil serat. Namun bidang medis lebih mengenal tanaman suhu dingin ini, sebagai sebagai obat psikotropika. Sebab adanya kandungan zat tetrahidrokanabinol. Kandungan itulah yang membuat pemakainya mengalami halusinasi euforia (rasa senang) berkepanjangan tanpa sebab. Tanaman ganja ini biasanya dibuat menjadi rokok mariyuana.

Tak hanya mengungkap ladang ganja, polisi juga sukses memborgol Mat Yusuf (59). Warga Pedukuhan Bayur, Pekon Kotaagung itu diduga kuat sebagai perawat dan penjaga ladang ganja. Di samping pekerjaannya sehari-hari sebagai petani. Mat Yusuf merupakan kaki tangan “majikan” ladang ganja yang berinisial A dan kini menjadi buronan polisi.

Keberhasilan itu langsung disampaikan Kapolres Tanggamus AKBP I Made Rasma, S.I.K., M.Si. pada Kamis (8/11) sore di mapolres setempat. Dalam ekspose itu, kapolres didampingi Kabag Ops Kompol Bunyamin, Kasatres Narkoba Iptu. Anton Saputra, Kasat Reskrim AKP Devi Sujana (kini dijabat AKP Edi Qorinas, Red), dan Kasat Intelkam AKP Samsuri.

Kapolres Tanggamus menjelaskan, ladang ganja yang ditemukan, terbagi dalam dua lokasi terpisah yang saling berdekatan. Pada lokasi I, polisi menemukan 80 batang pohon ganja ukuran besar. Lalu di lokasi II ditemukan 21 batang tanaman ganja ukuran kecil.

Pengungkapan ladang ganja di wilayah Tanggamus, jelas I Made Rasma, berawal dari temuan barang bukti yang diperoleh di Dusun Kedaung, Pekon Sukabanjar pada bulan Oktober lalu. Lantas anggota Satres Narkoba melakukan penyelidikan dan pengembangan, sehari setelah menerima informasi.

“Minggu (28/10) anggota kami dapat informasi. Lalu Senin (29/11) kami berhasil menemukan lokasi penanaman ganja yang dimaksud. Lokasi berjarak 10 jam dari Kotaagung. Ditambah tiga jam dengan jalan kaki ke lokasi. Luas lahannya mencapai 2 ha,” beber I Made Rasma.

Dari situlah, polisi mengantongi satu nama yang berkaitan dengan ladang ganja ini, yaitu Mat Yusuf. Namun dia sudah sempat melarikan diri dan bersembunyi di Kecamatan Cimanggis, Kota Depok, Jawa Barat.

“Setelah dipastikan, kami melakukan penangkapan. Dia ditangkap di rumah anaknya di Cimanggis, pada Selasa (6/11) dan kami bawa ke sini untuk diproses lebih lanjut,” ujar kapolres.

Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara, tersangka Mat Yusuf adalah penggarap ladang milik DPO berinisial A. Di hadapan penyidik, tersangka mengakui, tanaman ganja di ladang milik A sudah tiga kali panen. Sementara di ladangnya, baru satu kali dipanen.

“Tersangka mengaku bahwa A memberinya upah antara Rp100 ribu hingga Rp250 ribu per minggu, dari hasil penjualan panen tanaman ganja tersebut,” kata kapolres lagi.

Dari big fish pengungkapan ladang ganja dan penangkapan terhadap Mat Yusuf ini, Polres Tanggamus juga turut mengamankan beragam barang bukti. Mulai dari satu unit ponsel merek Nokia warna hitam yang digunakan sebagai alat komunikasi antara tersangka dengan si A. Lalu barang bukti dari lokasi I, berupa 80 batang tanaman ganja setinggi dua meter dan 20 batang ganja kecil berukuran 70 cm. Berikutnya dari lokasi II, polisi mengamankan 21 batang kecil ganja ukuran 18 cm di dalam tempat penyemaian.

“Tersangka Mat Yusuf dijerat dengan Pasal 111 Ayat 2 UU RI Nomor 35 Tahun 2009. Dengan hukuman minimal lima tahun penjara dan maksimal 20 tahun, atau denda maksimal Rp8 miliar,” tandas kapolres. (ayp) 




Inkrah, Kejari Tanggamus Musnahkan 4 Senpi dan Beragam Narkoba

MUSNAHKAN BARANG BUKTI: Kajari Tanggamus David Palapa Duarsa bersama sejumlah Kasi dan perwakilan dari Polres Tanggamus memusnahkan barang bukti tipidum yang sudah inkrah berupa empat pucuk senpi dan beragam narkoba, Rabu (14/11) siang. (Foto: IST)  

TRANSLAMPUNG.COM, TANGGAMUS – Kepala Kejaksaan negeri Tanggamus David Palapa Duarsa, S.H., M.H. memimpin pemusnahan sejumlah barang bukti yang telah memiliki ketetapan hukum dari perkara tindak pidana umum (tipidum). Pemusnahan tersebut berdasarkan Surat Perintah Kajari Tanggamus, nomor: PRINT-160/N.8.16/Fu.2/11/2018, tentang Pembentukan Panitia Pemusnahan Barang Bukti yang telah Memperoleh Kekuatan Hukum Tetap.

Kegiatan tersebut berlangsung di halaman belakang Kantor Kejari Tanggamus, Rabu (14/11) siang. Barang bukti yang dimusnahkan, terdiri dari narkoba, seperti pil ekstasi, sabu-sabu, ganja, serta alat isap sabu (bong). Kemudian ada senjata api dan senjata tajam.

Kajari David Palapa Duarsa menjelaskan, barang bukti narkotika yang dimusnahkan, sabu-sabu seberat 12,6721 gram, ganja seberat 109,4747 gram, ekstasi seberat 3,1548 gram, dan obat-obatan terlarang jenis hexymer sebanyak 2.004 butir.

”Lalu untuk senjata api ada empat pucuk. Terdiri dari satu pucuk senpi jenis Revolver berikut amunisi dan tiga senpi rakitan. Kemudian untuk senjata tajam, satu kami musnahkan. Sisanya kami serahkan ke Sat Brimobda Lampung untuk dimusnahkan oleh mereka,” terang kajari, didampingi Kepala Seksi Barang Bukti dan Barang Rampasan, Ali Habib, S.H.

Ada sejumlah cara yang digunakan Korps Adhyaksa dalam memusnahkan barang bukti. Untuk narkotika jenis sabu-sabu, dimusnahkan dengan cara dimasukan ke dalam air yang sudah dicampur garam. Selanjutnya diaduk dan dibuang di sebuah lubang drainase. Untuk jenis pil ekstasi, ditumbuk lalu dilarutkan ke dalam air dan dibuang.

”Terhadap barang bukti senpi dan sajam, dimusnahkan dengan cara dipotong dengan alat pemotong. Lalu barang bukti lain termasuk narkotika jenis ganja, kami bakar dalam sebuah tong,” beber David Palapa Duarsa.

Dalam kesempatan itu, David menekankan kepada para jaksa, untuk lebih teliti dalam menerima barang bukti perkara, baik dari kepolisian maupun BNN. Sebab kejari juga ada standar operasional prosedur (SOP) dalam penerimaan barang bukti hasil pelimpahan tahap ke-2.

”Misalnya barang bukti itu harus dilak dan ada stampel laboratorium apabila barang bukti narkoba. Kami juga akan melakukan uji ulang untuk menjamin keaslian. Kalau tidak asli, maka tidak kami terima pelimpahan kedua tersangkanya dan barang buktinya,” papar Kajari Tanggamus. (*)

TUNJUKKAN BARANG BUKTI: kajari Tanggamus David Palapa Duarsa (kedua dari kanan) bersama jajaran dan perwakilan dari Polres Tanggamus menunjukkan barang bukti senpi Revolver rakitan sebelum dimusnahkan. (Foto: IST)

JPU Dilarang Bawa Pulang Barang Bukti

KEMUDIAN pada kesempatan itu, Kajari Tanggamus David Palapa Duarsa juga melarang Jaksa Penuntut Umum membawa barang bukti pulang ke rumah. Artinya setelah persidangan, barang bukti tersebut dikembalikan lagi ke petugas barang bukti yang sudah ditunjuk Kepala Seksi Barang Bukti.

”Tidak saya izinkan Jaksa Penuntut Umum membawa barang bukti pulang ke rumah. Berapa (BB) yang keluar untuk persidangan, saat pulang jumlahnya harus sama. Kalau tidak, maka siap-siap (JPU) diberi sanksi,” tegas David.

Untuk pemusnahan barang bukti, kajari menambahkan, tidak ada jadwal pasti. Sebab barang bukti yang dimusnahan, merupakan perkara yang sudah berkekuatan hukum tetap (inkrah) dan pemusnahan juga tidak terjadwal.

”Artinya kalau sudah terkumpul banyak dan dirasa patut (dimusnahkan), maka kami musnahkan,” tandas Kajari Tanggamus.

Pemusnahan barang bukti tersebut juga dihadiri sejumlah kepala seksi di kejari setempat dan sejumlah personel perwakilan dari Polres Tanggamus. (ayp) 




Kunjungi Pekon Muara Dua, Irhamidi dan Rombongan Disambut Antusias

ABADIKAN MOMEN: Caleg DPRD Tanggamus nomor urut 4 Irhamidi dari Partai NasDem mengabadikan momen kebersamaan dengan para pendukungnya.

TRANSLAMPUNG.COM, TANGGAMUS – Calon Anggota Legislatif Kabupaten Tanggamus Daerah Pemilihan IV, Irhamidi, mengunjungi keluarga besarnya di Pekon Muara Dua, Kecamatan Pulaupanggung, Kabupaten Tanggamus. Kedatangan caleg yang diusung oleh DPD Partai NasDem Tanggamus pada Rabu (14/11) siang itu, tak lain untuk memohon izin, doa, sekaligus dukungan.

Irhamidi dengan nomor urut 4, mengaku bakal berkontestasi di Dapil IV. Yaitu yang meliputi Kecamatan Pulaupanggung, Airnaningan, dan Kecamatan Ulubelu. Dengan jumlah sekitar 113.513 mata pilih.

Dirinya berharap, keluarga besarnya di Pekon Muara Dua, dapat membantu dirinya dalam meraih dukungan dan suara masyarakat yang telah memiliki hak pilih, pada Pileg 17 April 2019 mendatang.

“Intinya, saat ini saya hadir untuk bersilaturrahmi, untuk mohon izin dan doa dari keluarga besar di Pekon Muara Dua khususnya. Supaya membantu saya dalam Pileg April 2019 nanti. Mudah-mudahan jika Allah berkenan dan saya dapat dukungan suara dari masyarakat melalui keluarga besar di sini. Itulah yang menjadi harapan besar saya,” ungkap pria yang akrab disapa Bang Irham itu.

Dirinya mengunjungi Pekon Muara Dua, Kecamatan Pulaupanggung, didampingi oleh mantan Bupati Tanggamus yang juga Caleg DPR RI asal partai yang sama dengan nomor urut 5, Hi. Fauzan Sya’ie. Lalu Ketua DPD Partai NasDem Tanggamus, Amrullah Ahmad El Hakim yang kini duduk menjadi Anggota DPRD Provinsi Lampung dan maju kembali sebagai Caleg DPRD Provinsi Lampung, dengan nomor urut 1.

“Tidak ada yang tidak mungkin, selagi kita mau berusaha untuk meraih dukungan dalam pileg mendatang. Terpenting apa yang sudah saya janjikan dengan masyarakat di Dapil IV ini, jika saya diperkenankan duduk menjadi Anggota DPRD, semua harus diwujudkan dengan aksi nyata, bukan malah diam saja. Sebab masyarakat yang menilai kinerja kita,” kata Irhamidi yang juga cukup lama mengenyam dunia jurnalis di Kabupaten Tanggamus.

Dirinya berjanji, jika terpilih menjadi Anggota DPRD Tanggamus, akan berupaya untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat, memberdayakan remaja dan pemuda sebagai generasi penerus, pemberdayaan di sektor pertanian, perikanan, UKM, pelestarian, serta konsen kepada pengembangan Seni dan Budaya. (ayp)