. . .

Antisipasi Banjir saat Musim Penghujan Tiba

image_print

Bersihkan Sampah dan Normalisasi Sungai

TRANSLAMPUNG.COM, BANDARLAMPUNG – Antisipasi banjir harusnya tetap dilakukan, meskipun datangnya musim penghujan belum dapat diprediksi. Salah satunya dengan membersihkan sampah dan melakukan normalisasi  sungai yang ada.

Berdasarkan pantauan, di beberapa sungai Bandarlampung, masih banyak didapati sampai bahkan ada yang sampai menumpuk seperti di sungai Empang Gintung, Tanjungkarang Pusat. Selain itu sampah juga berserakan di sungai Way Kedaton, Way Penengahan, dan Kali Awi.

Salah satu warga sekitaran sungai Empang Gintung, Agustina mengatakan,  kondisi sungai memang selalu seperti ini,  banyak sampah.

“Ya memang sudah begitu (kondisinya). Kalau mulai musim penghujan biasanya banjir, meluap sampai nutupin badan jembatan,” terang pelajar SMP kelas 3 ini.

Namun,  kata dia,  saat kemarau seperti sekarang, sungai hampir mengering. Ketika musim penghujan,  selain meluap dan membanjiri jalan, posisi rumah yang berada di pinggir sungai kerap jadi langganan banjir. “Warga yang rumahnya mepet sungai kena luapan air sungai pas banjir.  Tapi kadang juga enggak sampe banjirin rumah, cuman nggenang di jalan, ” terang Agustina.

Warga lainnya yang tinggal di bantaran sungai Way Penengahan Arif mengatakan, sudah biasa jika rumahnya terkena luapan sungai.  Terlebih jarak rumah dengan dapurnya sangat mepet. “Ya kalau udah musim penghujan,  siap-siap aja bersih-bersih rumah,” kelakarnya.

Disinggung apakah termasuk yang suka membuang sampah di sungai,  menurutnya sebagian masyarakat bantaran sungai melakukannya. “Ya mau bayar sokli nggak ada duit sementara sampah diproduksi terus dirumah,” tutur bapak dua anak ini.

Kepala Badan Pengelolaan dan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPPLH) Bandarlampung, Sidik Ayogo mengakui,  memang sulit menumbuhkan kesadaran masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan.  “Sementara jika menuntut kerja petugas kebersihan sampah, tidak bisa mengakomodasi semua sampah yang ada,” jelasnya.

Sekitar 800an petugas kebersihan yang ada,  terusnya, lebih banyak membersihkan sampah di pinggir jalan termasuk kenek dan sopir truk sampah.  “Petugas kami yang menjaring sampah di anak sungai hanya 20 orang. Sementara masyarakat setiap hari ada saja yang buang sampah ke sungai. Tingkat kesadarannya masih kurang,  kalau kami sendiri ya tidak kepegang,” kata Sidik.

Pihaknya memang tetap jalan dan terus menjaring sampah di sungai -sungai. Namun, menurut Sidik, perlu sentuhan bersama untuk menuntaskan masalah sampah terutama di aliran sungai yang ada. “Jadi kita lakukan secara bersama. Baik lembaga yang konsen mengenai kebersihan lingkungan juga mahasiswa KKN,” pungkasnya. (jef/hkw)