. . .

Alphard untuk Zumi Zola Ternyata Mobil Sewaan

image_print

TRANSLAMPUNG.COM, JAKARTA – Tidak berlakunya fee atau upeti membuat seorang pejabat harus mengetahui jelas perbedaan antara pemberian dan kewajiban yang harus diterimanya. Gratifikasi yang dimaknai pemberian membuat pejabat menjadi daftar tangkap Komisi Pemberantasan Korupsi. Salah satunya dialami oleh Gubernur Jambi nonaktif Zumi Zola yang didakwa korupsi terkait gratifikasi proyek pemerintahan Provinsi Jambi oleh para kontraktor.

Dalam sidang lanjutan kemarin, Jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menghadirkan sejumlah saksi. Mereka berasal dari kalangan kepala dinas di pemerintahan Provinsi Jambi dan pihak swasta yang diduga memberikan gratifikasi kepada Zumi.

Di antara kalangan Pemerintah Provinsi Jambi itu, jaksa KPK menghadirkan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jambi, Agus Herianto dan Kepala Dinas Perhubungan Jambi, Farial Andi Putra. Sementara, dari swasta, jaksa menghadirkan seorang kontraktor bernama Endria Putra, Direktur Utama PT Sumber Farma Nusa, Fandi Yusman alias Asiang dan Hardono alias Aliang.

Dalam surat dakwaan jaksa disebutkan, Endria dan Hartono dikatakan pernah memberi gratifikasi kepada Zumi masing-masing sebanyak Rp 1,5 miliar. Sementara, Asiang disebut memberikan gratifikasi sebanyak Rp 3,5 miliar kepada terdakwa.

Namun sebelumnya terkait dugaan gratifikasi mobil Toyota Alphard yang diberikan Asiang kepada Zumi ternyata disanggahnya. Asiang dalam kesaksian mengungkapkan bahwa mobil Alphard yang digunakan itu bukan dibelikan namun disewakan.

Hakim menanyakan, Saudara pernah berikan Alphard?” tanya ketua majelis hakim Yanto, “Tidak pernah membelikan,” jawab Asiang dalam sidang terdakwa Zumi di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Senin (8/10).

Asiang pun mengaku dirinya pernah dihubungi Farial Adi Putra ketika menjabat sebagai Kepala Dinas Perhubungan Jambi. Adi, menurut Asiang, telah meminta untuk meminjamkan mobil Alphard untuk Zumi, namun saat itu mobil tersebut sedang tidak ada.

Perbedaan pendapat pun timbul ketika Adi seorang saksi yang juga dihadirkan memberi keterangan berbeda dari Asiang. Adi mengungkapkan bahwa Asiang telah membelikan Zumi mobil Alphard. Disitu pun membuat bingung majelis hakim. “Saya kan waktu itu ditelepon Pak Amidy bahwa ‘teleponkan Pak Asiang untuk pinjamkan mobil. Dia bilang nggak bisa dipakai. Tidak lama dari itu diberikan baru,” ungkap Adi.

Selanjutnya Asiang juga tetap mengaku tidak membelikan mobil itu, tetapi menyewakannya. “Jadi waktu mau pinjam, saya bilang mobil mau dipakai. Dia (Adi) bilang, gimana kalau saya bantu, berhubungan karena ada tamu dari Jambi mau ke Jakarta. Saya bilang nanti saya cari, saya teringat saya kerja sama sama dengan teman saya, jadi saya berikan,” jawab Asiang. “Jadi mobil Alphard yang disita (KPK) itu pinjam?” tanya hakim lagi.”Rental,” jawab Asiang.

Sebelumnya Zumi dikabarkan menerima mobil Alphard dari seorang kontraktor bernama Asiang yang mengaku kasihan melihat Zum kerap meminjam mobil padahal menjabat sebagai Gubernur Jambi. Akhirnya si Asiang membelikan Zumi mobil. Saat itu Zumi berangkat ke Bandung untuk mengikuti kegiatan PAN. Zumi kewulahan kwtika mobilnya tidak cukup menampung seluruh anggota keluarganya. (ZEN/FIN/tnn)