. . .

Akibat PT.PSMI dan PT.BMM Bakar Tebu Jelang Panen, Masyarakat Tiga Kecamatan Protes Keras.

image_print

TRANSLAMPUNG.COM, WAY KANAN – Masyarakat Waykanan di tiga kecamatan yaitu Pakuan ratu,Negara batin dan Negeri besar protes keras dan menyayangkan pembakaran perkebunan tebu saat hendak panen yang dilakukan PT Pemuka sakti Manis indah (PSMI)dan PT bumi madu mandiri (BMM) yang terletak di kecamatan Negeri besar. Akibat seringnya dilakukan pembakaran tersebut mengakibatkan polusi udara.

Seperti yang dikatakan salah satu Pengurus Kecamatan (PK) kecamatan  Negara Batin Ali Sodikin kepada media ini, Kamis (12/4). Pembakaran tebu saat hendak panen tersebut sangat berakibat buruk bagi kesehatan masyarakat disekitar perusahaan. Karena asap yang diakibatkan oleh pembakaran mencemari udara.

“Akibat pembakaran yang dilakukan PT PSMI itu beberapa kampung acap kali mengalami padat asap. “Di Devisi II yang kena asap, Kampung Palangas, pada Devisi I itu Kampung Kotajawa, Bumi Sakti dan Sandora, sedangkan Devisi Negara Bathin; Kampung Neba dan Tiuh Baru. Ini jika terus dibiarkan maka akan sangat buruk akibatnya,” terangnya.

Masih menurut Sodikin, hingga saat ini, warga belum berani bertindak, kendati asap yang tebal akibat pembakaran itu sering menimbulkan sesak nafas.

“Warga jelas masih takut, yang pertama meraka enggan melawan perusahaan yang jelas memiliki dana besar bisa membeli apa saja. Kedua, namanya orang awam mana ngerti tentang dasaar hukum yang melarang pembakaran lahan perkebunan, dengan alasan apapun,” keluh pemuda ini.

Seperti yang di lansir dalam media sosial akun facebook ALI SODIKIN, warga tiga kecamatan selama 6 bulan kedepan akan menikmati polusi udara akibat asap pembakaran kebun tebu beberapa minggu yang lalu ada program pemerintah daerah grebek sampah di larang untuk membakarnya padahal dalam sekala kecil namun pembakaran tebu yang ribuan hektar penegak hukum dan pemerintah seperti bungkam. Adanya larangan pembakaran perkebunan yang mengakibatkan terganggunya lingkungan. Hal tersebut sesuai dengan dengan Undang Undang Nomor 39 Tahun 2014, tentang Perkebunan, sudah jelas melarang melakukan pembakaran lahan perkebunan. Sebagaimana yang diatur dalam Pasal 56 yat 1, setiap pelaku usaha perkebunan dilarang membuka dan/atau mengolah lahan dengan cara membakar. Dalam Pasal 108 telah ditegaskan, setiap pelaku usaha perkebunan yang membuka dan/atau mengolah lahan dengan cara membakar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 56 ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah).

“Sekarang bagaimana para penegak hukum dan pejabat tinggi di Waykanan ini menyikapi masalah ini. Karena terkait lingkungan hidup meraka juga telah melanggar pasal 119 ayat 1 dan 2 UU No 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup,” harap Sodikin lagi.

Di tempat terpisah, Aidi Ahmad (31), salah satu warga Kecamatan Negeri Besar, menyampaikan keluhan yang sama, namun dia menambahkan, sebenarnya makna hukum itu apa sasaran hukum itu siapa si ?apakah hukum hanya berlaku pada rakyat kecil saja.

“Saya berharap kepada pemerintah baik kabupaten, Provinsi maupun pemerintah pusat dan penegak hukum jangan pura-pura buta. Karena ini bukan pertama kali terjadi dan sudah membahayakan, harus ada tindakan konkret dan tegas,” katanya.

Sementara itu tokoh muda kecamatan Pakuanratu Husein saat dihubungi via handphone mengatakan hal senada, bahkan menurutnya bila keluhan ini tidak ditanggapi, maayarakat Tiga Kecamatan tersebut akan melakukan aksi massa dan mengadukan pencemaran lingkungan itu kepada pihak berwajib.

“Peristiwa ini merupakan musibah bagi masyarakat di kecamatan Pakuanratu,  Negara Batin dan Negeri Besar, dan ini sudah berlangsung dari beberapa tahun lalu. Bila keluhan ini tidak ditanggapi, kami akan melakukan langkah-langkah lain, termasuk aksi masa dan melaporkan kedua perusahaan itu kepada pihak yang berwajib,” tegas Husein dengan nada tinggi.(Yudi)