Ada Tekanan Psikologis yang Diterima

LPA Prihatin Pembunuh dan Korban dibawah Umur

TRANSLAMPUNG.COM, BANDARLAMPUNG-Kasus kriminalitas yang melibatkan pelakunya masih dibawah umur dan masih duduk dibangku sekolah dasar (SD) begitu juga dengan korbannya, merupakan sebuah kejadian yang miris dan harus mengelus dada. Karena anak yang masih dibawah umur, bisa bertindak nekat sampai membunuh sangatlah tidak wajar dan diluar batas.

Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Indonesia Provinsi Lampung M. Zainuddin mengatakan, adanya kejadian pembunuhan terhadap korban bernama Anisa Putri Amelia (10), siswi kelas 5 Sekolah Dasar (SD) yang diduga telah dibunuh oleh pelaku berinisal MK (14) yang juga masih berstatus pelajar kelas 6 Sekolah Dasar (SD) pihaknya merasa prihatin dengan adanya kejadian tersebut.

“Miris mendegar adanya kejadian pembunuhan tersebut, bagi siapapun pasti akan mengelus dada sebab pelaku dan korbannya sama-sama masih dibawah umur dan pelajar. Saya mengucapkan turut berduka cita atas meninggalnya Anisa,” ujarnya, Senin (20/2).

Zainuddin mengutarakan, perbuatan yang dilakukan MK terhadap korban Anisa bukan hanya lantaran dendam atau sudah direncanakan. Menurutya, ada faktor tekanan psikologis yang membuat MK ini, berbuat senekat itu tidak sepatutnya dilakukan oleh anak-anak. Apalagi perbuatan MK ini, sudah dibatas luar kewajaran.

“Itu semua bisa terjadi, dikarenakan kurangnya pengawasan orangtua dan pendekatan terhadap prilaku anak. Sehingga menjadi peran penting orangtua, melakukan pengawasan terhadap anak-anaknya,” ungkapnya.

Dikatakannya, karena pelaku masih dibawah umur dan berstatus pelajar, ia berharap kepada para penegak hukum penanganan perkaranya tetap mengacu pada undang-undang perlindungan anak. Selain itu juga, memberikan hak-hak pelaku sebagai anak dan tetap mengedepankan azas terbaik bagi anak.

“Proses hukum tetap dilakukan dan sesuai dengan koridor hukum, karena perbuatan MK sudah menghilangkan nyawa orang lain. Meski sebagai pelaku, harus tetap diberikan pendampingan karena masih anak-anak,” terangnya.

Kejadian tersebut, kata Zainuddin, harus dijadikan pelajaran untuk kita semua. Harapannya, tidak ada lagi kejadian serupa terhadap anak-anak.

Ia meminta kepada para orangtua dan juga guru, pendidikan saat masih usia dini haruslah benar-benar diperhatikan. Karena jika tidak, dampaknya akan sangat besar bagi tumbuh kembang anak kedepannya.

“Anak yang masih terus tumbuh dan memiliki masa depan, rasanya tidak pantas berhadapan dengan hukum. Itu semua menjadi pekerjaan rumah untuk semua pihak, khususnya terhadap para orangtua,”jelasnya.

Diberitakan sebelumnya, petugas Unit Reskrim Polsekta Tanjungkarang Barat, mengungkap pelaku pembunuhan terhadap siswi kelas 5 Sekolah Dasar (SD) bernama Anisa Putri Amelia (10). Pelaku yang ditangkap tersebut, tak lain adalah teman sekolah korban berinisial MK yang masih dibawah umur.

MK berusai 14 tahun dan masih duduk dibangku kelas 6 Sekolah Dasar (SD), polisi menangkap MK di rumahnya setelah dilakukan penyelidikan selama kurun waktu dua jam.

“Untuk motifnya, MK menghabisi nyawa Anisa teman wanita sekolahnya lantaran kesal dan dendam karena sering diejek dengan korban,”kata Kapolsekta Tanjungkarang Barat, Kompol Harto Agug Cahyono, Sabtu (18/2).

Motif lainnya, kata Harto, karena MK ingin memiliki kalung yang dikenakan dengan korban. Karena korban melawan, MK panik menusuk Anisa dengan pisau yang sudah dibawa MK.

“Akibatnya, korban mengalami empat luka tusukan di tubuhnya, tiga tusukan dibagian tangan dan satu tusukan lagi di dada kiri,”ungkapnya.

Harto mengutarakan, sebelumnya petugas mendapatkan informasi dari warga adanya penemuan mayat wanita penuh luka ditubuhnya di semak-semak pinggiran sungai di Jalan Persada, Gang Alfatah, Kemiling Raya, pada Jumat (17/2)lalu sekitar pukul 22.00 WIB.

“Dari informasi tersebut, petugas langsung mendatangi lokasi kejadian, dan melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan meminta keterangan saksi,”kata Harto.

Dari hasil identifikasi tim Inafis Polresta Bandarlampung dan Polsekta Tanjungkarang Barat, mayat wanita tersebut diketahui bernama Anisa Putri Amelia (10) siswi kelas 5 sekolah dasar (SD), warga Dusun Margorejo, Kurungan Nyawa, Pesawaran.

“Jasad Anisa, pertamakali ditemukan oleh warga Pesawaran. Pada saat ditemukan, kondisi mayat korban dalam keadaan telungkup. Bagian wajahnya, mengalami luka dan kedua tangannya adanya bekas luka sayatan senjata tajam,”terangnya.

Selanjutnya, petugas membawa jasad korban ke Rumah Sakit Umum Abdul Moeloek (RSUAM) untuk dilakukan visum. Anis tewas diduga sebagai korban pembunuhan, hal tersebut berdasarkan keterangan beberapa saksi.

“Anisa terakhir terlihat pergi dari rumahnya, bersama salah seorang laki-laki. Hasil penyelidikan, petugas mendapati pria yang menjemput Anisa di rumahnya dan mengajaknya belajar kelompok adalah MK. Saat itu juga petugas menangkap MK di rumahnya,”jelasnya.

Dikatakannya, saat itu ada tiga orang teman main korban, yakni Tiwi, Meli dan Anggel. Korban bersama MK pergi, sedangkan ketiga teman korban pulang ke rumahnnya masing-masing. Ternyata hingga malam, Anisa tidak pulang ke rumahnya.

Karena belum diketahui kepergiannya Anisa, lalu warga mengumumkan hilangnya Anisa di masjid. Warga berinisiatif mencari keberadaan Anisa, dengan menyisiri pinggiran sungai. Alhasil, warga menemukan Anisa sudah menjadi mayat di semak-semak pinggiran sungai.(*/r4)

News Reporter