. . .

11 Tokoh Kampung Adat dan Penyimbang Marga Ancam Tutup PT. BMM

image_print

TRANSLAMPUNG.COM, BLAMBANGAN UMPU – 11 Tokoh kampung dan Penyimbang marga serta ratusan masyarakat Kampung Gunung Sangkaran, Kecamatan Blambangan Umpu, Kabupaten Way Kanan, menyatakan sikap tegas  dan mengancam akan menutup operasional perusahaan sawit PT. Bumi Madu Mandiri (BMM) yang berada di kampung setempat, apabila tidak segera mengganti rugi lahan 300 hektar milik masyarakat yang sudah ditempati perusahan sejak 2011 silam belum juga dikeluarkan perusahaan.

Hal itu diungkapkan Eeng Saputra, koordinator aksi masyarakat Gunung Sangkaran, yang berencana akan menggelar gerakan penutupan jalan dan penghentian aktivitas pekerja PT.BMM pada awal Agustus mendatang, jika hingga akhir Juli pihak PT.BMM belum juga berkoordinasi dengan pihaknya terkait penyelesaian dana ganti rugi lahan milik masyarakat tersebut.

Surat pernyataan Tokoh Adat Blambangan Umpu Edwin Kerukaspari gelar Pangeran Blambangan, terkait batas kampung Gunung Sangkaran dengan Kelurahan Blambangan Umpu

“Hari ini saya bersama 11 tokoh Kampung, penyimbang marga, Adat serta ratusan masyarakat Gunung Sangkaran sepakat untuk menggelar aksi tegas terkait sikap PT BMM yang terkesan sengaja berkelit untuk mengganti rugi tanah masyarakat asli Gunung Sangkaran yang telah menjadi tempat pembangunan Kantor, rumah istirahat pekerja, serta lahan kebun Sawit PT BMM yang lebih kurang 7 tahun terakhir belum ada ganti ruginya, ,”terang Eeng kepada translampung.com, Minggu (29/7/2018).

Eeng menambahkan, surat teguran yang dilakukan April 2018 lalu merupakan surat teguran kesekian kalinya yang dilakukan pihaknya kepada PT BMM. Namun, sejak awal mula kehadiran PT BMM ke Gunung Sangkaran sejak 2011 itu hingga kini belum juga ada dana ganti rugi ke masyarakat atas luas lahan 300 hektar.

Berita acara musyawarah tanah gunung Sangkaran yang dikuasai oleh PT. Bumi Madu Mandiri, pada tanggal 5 Januari 2018.

“PT BMM hanya memberikan janji-janji saja, hingga pada September 2013 pihak PT BMM mengeluarkan dana Rp150 juta untuk masyarakat setempat membuka penutupan jalan wilayah Gunung Sangkaran yang dilakukan penutupan untuk niat yang sama. Dari kejadian itu kembali kami diberikan janji. Hingga saat ini kami minta akhir Juli 2018 PT BMM tidak lagi berkelit jika tidak kami pastkan awal Agustus mendatang penutupan jalan dan penghentian aktifitas PT BBM terpaksa kami lakukan hingga persoalan ini selesai dan tidak ada negosiasi atas ketenggangan waktu penyelesaian kembali,” imbuhnya.

“11 tokoh kampung Adat penyimbang marga dan ratusan masyarakat telah memutuskan untuk bersikap tegas dalam persoalan yang dinilai telah melecehkan wibawa masyarakat asli daerah yang dikadali orang luar atas menguasai tanah kelahiran mereka dari para orang tua terdahulu yang semau-maunya,” kata Eeng dengan nada tinggi. (Yudi)