. . .

11 Tokoh Diduga Sebabkan Hoax Ratna Jadi Kegaduhan Nasional

image_print

Foto: Achmad Faruk/FIN

Ketua Umum Cyber Indonesia Muannas Al Aidid saat memberikan keterangan dan menunjukan bukti-bukti kepada media di Polda Metro Jaya, Senin (8/10).

 

TRANSLAMPUNG.COM, JAKARTA – Ketua Umum Cyber Indonesia Muannas Al Aidid memenuhi panggilan penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Senin (8/10) pukul 13.00 WIB. Dia diperiksa sebagai saksi kasus hoax pengeroyokan aktivis Ratna Sarumpaet dan 11 orang lainnya yang ikut serta menyebarkan berita hoax.

Sebelum memasuki ruang penyidik, Muannas mengatakan, kalau saat itu ia melaporkan 12 orang dalam kasus ini. Salah satunya adalah aktivis Ratna. “Yang kita laporkan selain RS ada 11 orang lain karena total ada 12. Di antaranya ada Pak Fadli Zon, ada Fahri Hamzah, ada Dahnil Simanjuntak, kemudian ada Hanum Rais, kemudian Ferdinand Hutahean dan tokoh lain. Ada sekitar 12 orang,” kata Muannas di Polda Metro Jaya.

Menurut Muannas, 12 orang itu masih saling memiliki kaitannya, meskipun calon presiden nomor urut 02 itu dan tokoh lainnya telah meminta maaf karena mengklaim menjadi korban kebohongan Ratna. “Jadi ini salah satu rangkaian pidana yang sebetulnya satu paket satu kesatuan, antara yang menceritakan dengan yang kemudian menyebarkan baik itu di media online maupun di media sosial. Atau kemudian melalui prescon termasuk kegiatan pengumpulan massa dan misalnya ada buat pamflet, orasi segala macam. Itu bagian dari rangkaian kegaduhan,” ujarnya.

Lebih jauh Muannas menuturkan, keonaran kasus ini sampai ke masyarakat luas justru berada di 11 tokoh tersebut. “Justru kalau kita melihat sampai tanggal 21 dugaan penganiayaan itu, sampai dengan Oktober sama sekali tidak ada statement apapun dari Ibu Ratna. Kita hanya mendengar dari pengakuan orang lain. Tetapi tanggal 3 Oktober itu ada pengakuan dia (Ratna), berita yang disampaikan itu adalah kebohongan. Tapi faktanya yang membuat keonaran itu kan penyebarannya yang dilakukan oleh 11 terlapor di luar RS,” bebernya.

Sehingga lanjut Muannas, tidak fair jika hanya Ratna saja yang diproses di kepolisian tanpa melibatkan ke 11 lainnya. “Ya menurut kita nggak fair dong. Harus diproses. Tapi biarkan polisi melakukan penyidikan terkait hal itu,” terangnya.

Muannas juga mengaku, dalam pemeriksaan ini dirinya membawa bukti pelengkap, semisal video konferensi pers Prabowo di kediamannya. “Ada screenshot pemberitaan di media online. Kemudian statment mereka di dunia online, media sosial. Jadi itu capturenya yang kami bawa sebagai bukti. Kayak Twitter dan  lain-lain, lalu capture yang mereka tulis melalui media online. Karena ini bagian dari kegaduhan itu,” ungkapnya.

Lanjut Muannas, para 11 terlapor diduga melanggar Pasal 28 ayat 2 juncto Pasal 45 ayat 2 dan atau Pasal 35 juncto Pasal 51 ayat 1 Undang-Undang RI Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektonik. Pelapor juga memasukkan Pasal 14 dan atau Pasal 15 Undang Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono membenarkan, jika Muannas dipanggil sebagai saksi pelapor. ‘’Iya hari ini agendanya memeriksa yang melaporkan RS ke Polda Metro Jaya,’’ kata Argo di Polda Metro Jaya.(AF/FIN/tnn)