Keterbutuhan Sertifikasi Insinyur di Indonesia Guna Menghadapi MEA Masih Rendah

0
828
views

BANDARLAMPUNG – Keterbutuhan tenaga insinyur (Ir) di Indonesia, termasuk dalam menghadapi pangsa persaingan kerja dilevel globalisasi Asean masih belum dibarengi ketersediaan lulusan sebagai akademisi maupun praktisi yang tersertifikasi.

Hal itu diungkap Sekretaris Jendaral (Sekjen) Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Bachtiar Sirajudin di Seminar Nasional (Semnas),“Pentingnya Sertifikasi Profesi Keinsinyuran Dalam Dinamika Masyarakat Ekonomi Asean (MEA),termasuk rangkaian HUT FT Unila Ke-37 yang juga diadakan BEM Teknik Kimia bertajuk ‘Explosion Of Chemical Engineering Studies Activities (Excess) 2016’,di gedung Dekanat Fakultas Teknik Universitas Lampung (FT Unila), Sabtu (26/3).

Bachtiar ungkap itu dihadapan 120 peserta Semnas yang juga diikuti 47 perwakilan FT nasional dari 16 Perguruan Tinggi Nasional (PTN) se-Indonesia.Dia menerangkan di Indonesia masih ada sekitar 700 ribu insyinur dari total populasi 250 juta. Tak hanya itu, tenaga insinyur atau sarjana teknik (ST) yang memiliki sertifikasi yang diakui Badan Nasional Sertifikasi Nasional (BNSP) dan bekerja dibidang profesinya hanya 300 ribu orang saja.

“Itu hanya sekitar 40 persen,dari total 700 ribu insinyur yang ada. Kebanyakan dari mereka lebih cenderung meniti karir dan mengembangkan pekerjaan diluar kompetensi keilmuan dasar (S1) yang didapatnya diperguruan tinggi. Seperti kebanyakan terjun di jalur perbankan,”paparnya.

LEAVE A REPLY